KPCDI Sesalkan Pasien Cuci Darah Diabaikan di Tengah Wabah Corona
ASKARA - Komunitas Pasien Cuci Darah Indonesia (KPCDI) menyesalkan penanganan RSUP Fatmawati yang kurang maksimal terhadap pasien terkait virus corona. Terlebih bagi pasien cuci darah.
Pasien cuci darah Suhantono ditetapkan sebagai orang dalam pemantauan (ODP) lantaran saat diperiksa di RS Medika BSD suhu tubuhnya mencapai 37,7 derajat dan dirujuk ke RSUP Fatmawati.
Sayangnya setelah tiba di RSUP Fatmawati, Suhantono tak kunjung mendapatkan pelayanan cuci darah, bahkan terlebih dulu diminta untuk menunggu hasil tes swab pada pekan depan.
"Pasien cuci darah bernama Suhantono dinyatakan dengan status PDP (pasien dalam pengawasan) Covid-19 dan dirujuk ke RSUP Fatmawati. Di sana pasien dirawat di ruang isolasi. Sayangnya si pasien tidak segera dilakukan tindakan hemodialisa, harus menunggu hasil apakah pasien positif virus tersebut atau tidak," jelas Ketua KPCDI Tony kepada wartawan, Selasa (31/3).
Tony yang juga pasien transplantasi ginjal menuturkan jika harus seminggu lagi untuk cuci darah maka nyawa pasien akan terancam. Terlebih Suhantono sudah beberapa hari tidak melakukan hemodialisa.
"Racun dan cairan sudah menumpuk, pasien saat ini menderita sekali. Bila nyawanya melayang bukan karena virus corona tetapi tidak mendapat pelayanan cuci darah. Status ODP kan belum tentu positif terinfeksi," ujarnya.
Lanjut Tony, Perhimpunan Nefrologi Indonesia (Pernefri) telah mengeluarkan prosedur standar (SOP) untuk menanggani pasien gagal ginjal dalam situasi wabah virus corona ini.
"Kami mendukung langkah pencegahan yang diatur oleh organisasi profesi bila pasien ODP, PDP apalagi suspect virus corona harus dikarantina dan tidak cuci darah berbarengan dengan pasien lainnya. Jadi, tuntutan kami lengkapi semua rumah sakit dengan fasilitas hemodialisa dalam ruang isolasi, terutama rumah sakit rujukan dan termasuk di wisma atlet," jelasnya.
Tony mensinyalir RSUP Fatmawati tidak menyiapkan fasilitas hemodialisa khusus ketika virus corona sudah merebak.
"Kalau rumah sakit rujukan sekelas RSUP Fatmawati saja tidak menyediakan fasilitas tersebut bagaimana rumah sakit lainnya yang katagorinya di bawah itu? Tentu lebih parah lagi. Dan faktanya rumah sakit yang bukan rujukan saja tak ada satu pun yang siap menangani pasien cuci darah bila dinyatakan ODP, PDP dan suspect virus corona," sesalnya.
Terlebih, dengan mengatagorikan ODP dan PDP kepada pasien bisa semena-mena di tengah situasi wabah virus corona sekarang ini.
"Akan banyak korban ketika pasien masuk katagori ODP. Apalagi pasien cuci darah itu sangat rentan demam karena infeksi benda asing seperti alat kateter dan sesak karena kelebihan cairan," beber Tony.
Dalam situasi krisis ini, KPCDI juga meminta BPJS Kesehatan tidak melakukan pemutusan kerja sama dengan rumah sakit yang memiliki layanan hemodialisa.
"Di Medan Rumah Sakit Bunda Thamrin diputus kerja samanya dengan BPjS Kesehatan. Sekitar 70 pasien cuci darah di sana kebingungan karena rumah sakit lainnya sudah melakukan kebijakan tidak menerima lagi pasien dari luar dalam situasi wabah virus corona. Nyawa mereka sekarang terancam karena belum ada solusi yang jelas," pungkas Tony.

Komentar