Rabu, 17 Juni 2026 | 18:36
NEWS

Antrean Panjang, Kebijakan Transportasi Anies Harus Segera Dikaji Ulang

Antrean Panjang, Kebijakan Transportasi Anies Harus Segera Dikaji Ulang
Antrean panjang calon penumpang untuk naik ke bus Transjakarta, Senin (16/3). (Istimewa)

ASKARA - Antrean penumpang mengular di halte bus Transjakarta pasca Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memutuskan hanya ada 13 rute yang beroperasi dan membatasi jumlah armada hingga 30 Maret mendatang. 

Antrean panjang di halte, direkam seorang warga Ciledug di halte Puri Beta II, pukul 07.00 WIB. Dalam video tersebut ratusan orang antre untuk naik bus Transjakarta. 

"Rekan-rekan ini adalah kondisi antrean busway di Puri Beta II, panjangnya hampir 200 meter antreannya, ini adalah lokasi terkini pukul 7.00 antreannya begitu panjang," ujarnya dalam video, Senin (16/3). 

Selain itu, tersebar pula video yang diduga terjadi di Halte Harmoni, Jakarta Pusat. Dalam video tersebut terjadi adu mulut antara petugas Transjakarta dan para calon penumpang yang sedang mengantre. Sejumlah netizen melaporkan kondisi antrean penumpang Transjakarta di media sosial. 

Anggota DPRD DKI Jakarta Fraksi PSI, Eneng Malianasari menyoroti keputusan Pemprov DKI Jakarta yang mengurangi jumlah armada Transjakarta dan gerbong MRT yang beroperasi sepanjang dua minggu ke depan.

Menurutnya, langkah yang diambil Pemprov DKI Jakarta telah menyebabkan penumpukan penumpang yang justru meningkatkan resiko penyebaran virus corona secara masif. 

"Pemprov DKI tidak memperhitungkan mereka yang tidak bisa otomatis beralih bekerja di rumah. Pembatasan armada justru mengorbankan pekerja harian yang bergantung pada transportasi umum," ujar Milli, sapaannya. 

Dia pun meminta Pemprov DKI segera meninjau pembatasan tersebut dan menambah armada MRT dan Transjakarta sehingga penumpukan tidak berulang pada sore jelang pulang kerja. 

Namun demikian, Milli mengaku mendukung langkah Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan yang meminta warga untuk bekerja dari rumah dan mengurangi interaksi fisik di publik yang dapat meningkatkan penyebaran corona. Tetapi pemerintah perlu memberi waktu untuk pihak swasta dan publik menyesuaikan dan mengadopsi kebijakan tersebut. 

"Dunia usaha membutuhkan waktu transisi untuk mengadopsi imbauan bekerja di rumah, itu pun baru diungkap Jumat sore lalu, tidak bisa otomatis semua pekerja dirumahkan," kata dia.

Menurut Milli, langkah memerangi infeksi virus corona seharusnya dilakukan dengan memperbanyak armada Transjakarta dan gerbong MRT yang beroperasi sehingga penumpang bisa tersebar dan langsung terangkut. 

"Masa tunggu penumpang harusnya dipersingkat. Penumpukan massa di ruang tertutup yang sempit seperti halte justru membuat sarang infeksi," jelasnya.

Sementara, pihak PT Transjakarta ketika dihubungi belum mau memberikan keterangan. "Sebentar ya," ucap Kepala Divisi Sekretaris Korporasi dan Humas PT Transportasi Jakarta, Nadia Diposanjoyo melalui pesan singkat. 

Komentar