Kamis, 04 Juni 2026 | 12:04
OPINI

Fenomena Negara Hantu Akibat Virus Corona

Fenomena Negara Hantu Akibat Virus Corona

Banyak negara di Eropa sudah mulai lockdown menutup diri. Bukan hanya sekedar Airport nya saja bahkan semua toko di Italia ditutup, terkecuali toko makanan yang masih buka.

Di negara mereka itu sudah seperti di negara hantu sepi kosong melompong, karena mereka takut keluar rumah. Jadi bukan hanya sekedar banyaknya kapal hantu yang terbang kosong tanpa penumpang.

Negara-negara sudah menyusul jejak Italia melakukan lockdown adalah Denmark, Norwegia, Austria, Polen bahkan Maroko. Bahkan, Apple Shop di seluruh dunia sudah ditutup s/d akhir bulan Maret.

Di Eropa hampir semua rumah ibadah di tutup, termasuk Belanda dimana tidak ada lagi kebaktian. Bahkan seluruh kegiatan olahraga seperti sepakbola juga sudah dibatalkan. Begitu juga dengan Olimpiade 2020, pembawa Obor dari Yunani yang seyogyanya sudah harus start 2 hari yang lampau terpaksa dibatalkan.

Selama lebih dari 60 tahun saya tinggal di Jerman maupun di Belanda belum pernah saya mengalami, dimana kami harus ngantri sekedar untuk bisa mendapatkan sepotong roti, seperti yang terjadi pada pagi hari ini.

Banyak Supermarket di Belanda sudah diborong habis oleh pembeli yang merasa ketakutan tidak bisa beli makanan lagi. Sehingga untuk beli minyak goreng sekalipun sudah habis terjual. Bahkan perusahaan Penerbangan KLM akan memberhentikan 2.000 karyawan mereka dan sisanya hanya bisa kerja partime sebanyak 30 persen dari normal waktu kerja mereka.

Maklum kemana lagi mereka bisa terbang, ke Amerika sudah dilarang mendarat di sana, begitu juga ke negara-negara lainnya seperti China, Iran maupun negara-negara yang telah di lockdown. Berdasarkan prediksi dari WHO puncak dari penyakit Virus ini akan terjadi pada saat bulan puasa nanti.

Bisnis pariwisata terpuruk bangkrut, mereka tidak tertarik untuk liburan Paskah, maupun liburan Lebaran nanti. Untuk kehidupan sehari-hari ke luar rumah pun mereka sudah merasa takut. Semua Museum, maupun gedung-gedung kebudayaan, konser dan lain-lainnya di Belanda sudah ditutup termasuk semua Gedung Perpustakaan.

Semua sekolah, maupun universitas di Belanda diliburkan s/d akhir Maret. Begitu juga semua Rumah Jompo telah menutup diri, dimana tidak memperkenankan menerima kunjungan tamu dari luar lagi. Bahkan makan pun sekarang harus makan dari lunch/dinner box yg dikirimkan ke kamar mereka masing-masing.

Lucu tapi nyata, dimana sudah merupakan kewajiban dari seorang dokter untuk melayani dan membantu pasiennya, namun di Eropa sudah banyak dokter menutup ruang pratek mereka. Layanan medis hanya bisa melalui online saja, begitu juga dengan pembelian obat-obatan dari Apotek. Pada saat banyak orang sakit, baru mereka menyadari bahwa kesehatan ada jauh lebih penting daripada bisnis.

Bahkan harga saham di seluruh dunia turut anjlok turun meroket habis seperti yang belum pernah mereka alami sebelumnya. Sehingga banyak pasar bursa terpaksa harus ditutup.

Begitu pula para PSK (Penjaja Seks Komersil) pun takut ketularan Corona, sehingga mereka lebih baik tidak jualan dahulu. Hal ini terlihat nyata sekali di daerah Red Light “De Wallen” – Amsterdam dimana lebih dari 40 persen sudah tutup.

Jangankan untuk jajan esek-esek di luar, kewajiban memberikan nafkah batin dengan pasangan sendiri sekalipun, mereka merasa takut ketularan Corona. Jadi terpaksa untuk sementara harus puasa dahulu.

 

Mang Ucup
Warga Indonesia yang menetap di Amsterdam, Belanda

Komentar