Memberikan Motivasi dan Memberdayakan Orangtua Tunggal Melalui Komunitas Perempuan Ungu
ASKARA - Warna ungu identik dengan warna para perempuan yang sudah menjanda. Padahal ungu merupakan lambang kemuliaan dan kemakmuran. Tentu saja stigma negatif itu harus dihilangkan.
Sebuah komunitas dengan nama Perempuan Ungu berpendapat, warna ungu merupakan warga agung. Bahkan setiap kegiatan sosial yang dilakukan komunitasnya kerap mengenakan warna ungu. Komunitas ini aktif memberi motivasi terhadap ibu yang merupakan orang tua tunggal akibat perceraian atau hal lainnya.
"Kata ungu dalam masyarakat stigmanya janda. Padahal warna ungu itu warna yang agung. Apapun yang sifatnya sosial itu pasti latar belakangnya pakai ungu seperti alzheimer," kata Wakil Ketua Komunitas Perempuan Ungu, Wenny Suhendra kepada Askara, Kamis (12/3).
Namun, hal masih mengganjal di benak mereka ialah pengucapan janda. Karena konotasinya masih dianggap negatif. Menjadi seorang orang tua tunggal memang tidak ada yang menginginkan tapi kehendak Tuhan.
"Sering kali kata-kata janda itu menjadi bahan candaan yang konotasinya negatif. Kadang kita kasihan sama anak-anak, kalau kita sebagai orangtua sudah kuat," ucap Wenny.
Jika seseorang bisa mengerti dan merasakan beban yang ditanggung para orang tua tunggal. Tentu harusnya pengucapan janda tidak akan menjadi sesuatu hal yang negatif.
"Kita bisa merasakan. Itu akan beda justru yang kita lihat kadang-kadang, yang membuat kita tidak maju karena embel-embel tadi yang sudah dilekatkan oleh masyarakat," kata wanita mantan karyawan swasta itu.
Para orangtua tunggal telah berjuang untuk menafkahi keluarganya. Kendati ada stigma itu, diyakininya jika punya pemahaman berbeda tentu tidak menimbulkan hal negatif.
"Kita sebagai orangtua tunggal padahal sudah berusaha keras. Apapun istilah yang diberikan orang sepanjang bisa menjaga dengan menambah pikiran lebih smart dan secara akhlak bisa kita jaga sebetulnya tidak ada masalah," cetusnya.
Namun, kata Wenny, terkadang orangtua tunggal kerap menjadi guyonan yang muncul di masyarakat. Tanpa memperhatikan dampaknya terhadap anak mereka.
"Sebetulnya kita lebih berpikir kita kuat. Cuma kadang tadi anak-anak kita yang suka bercanda. kasihan kan," keluhnya.
Komunitas ini diisi oleh para orangtua tunggal dengan profesi berbeda-beda. Dari tenaga pengajar maupun karyawan swasta. Mereka solid dan saling membantu mengatasi masalah yang dihadapi para anggotanya.
"Kita anggotanya tidak banyak, karena besar belum tentu kuat, tapi yang kecil ini bagaimana kita memperdayakan yang kecil ini. kalau kita kuat bisa memperdayakan lebih banyak lagi," jelasnya.
Komunitas ini juga memberikan pendampingan secara hukum dan psikologi kepada para anggotanya.
"Saya hanya ingin memotivasi kalau perempuan sendiri (orangtua tunggal) bukan berarti anak menjadi broken home akibat perceraian atau tidak ada sosok ayah," ujarnya.

Komentar