Kamis, 04 Juni 2026 | 09:54
LIFESTYLE

Monolog 'Pisang Terakhir', Cerita Kehidupan Masyarakat Tentang Masa Lalu

Monolog 'Pisang Terakhir', Cerita Kehidupan Masyarakat Tentang Masa Lalu
Monolog Pisang Terakhir (Istimewa)

ASKARA - Hiruk pikuk Kota Jakarta, terkadang membuat seseorang lupa dengan lingkungan sekitarnya. Maka perlu berhenti sejenak dan mengenang masa lampau yang menyimpan makna kehidupan. Hal itu yang membawa perubahan saat ini. 

Berangkat dari keresahan itu, sutradara Rizal Siregar produksi Teater Imago Indonesia Jakarta membuat naskah monolog Pisang Terakhir, yang bakal ditampilkan oleh aktor Surya Dharma.

"Jadi cerita ini berawal kehidupan masyarakat. Kemudian diobservasi. Bahwa tidak ada tempat di Jakarta ini yang tidak lepas dari sejarah. Manusia itu butuh masa lalu yang kemudian untuk melihat masa depan," ujar Rizal Siregar, kepada Askara, Jumat (6/3).

Menurutnya, seseorang kadang mengenang masa lalu yang berarti bagi diri mereka. Ide ini bisa datang dari mana saja. Naskah monolog ini adalah gambaran kehidupan warga Jakarta sekarang. 

"Kisahnya tidak ribet, yakni tentang tokoh Arya Kamandanu. Masalah kekinian, yakni tentang kejenuhan manusia dengan rutinitas. Karena diburu oleh waktu yang padat membuat tokoh yang ada di dalam cerita sampai lupa dengan lingkungan dan masa lalunya," kata Rizal. 

Persiapan naskahnya ini membutuhkan waktu selama enam bulan. Sementara pementasan yang akan digelar pada pukul 19.30 WIB, Sabtu (7/3) di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini, Jakarta Pusat ini diyakini mampu menjadi daya tarik tersendiri bagi milenial.

"Insya Allah sudah maksimal. Saya berharap milenial bisa menonton. Karena teater memiliki khas yang beda punya kenikmatan tersendiri untuk menontonnya," terangnya. 

Bahasa yang digunakan dalam naskah monolog itu cukup sederhana. Sehingga kawula muda dapat dengan mudah mengerti. Untuk target penonton yang datang tidak lebih 240 orang. Dengan durasi penampilannya satu jam. 

Sebagai seorang aktor Surya Dharma telah malang melintang dunia panggung dan musik mengatakan, proses latihan dua bulan membuatnya tetap bersemangat.

"Melakoni peran Arya Kamandanu bagi saya sebuah tantangan. Sebab, karakternya unik. Beban batin yang dialaminya cukup berat. Tapi itulah peran, seberat apapun tantangannya harus bisa dilakoni dengan baik," ucap Surya Dharma.

"Karena sosok Arya Kamandanu yang begitu berkarakter membuat saya harus melakukan berbagai riset," imbuh aktor kelahiran Medan, 3 April 1958 itu. 

Surya Dharma pertama kali tampil sebagai seorang pemain teater lewat pementasan 'Sok' yang disutadarai Buoy Hardjo di Taman Budaya Medan (1975). Tampil bersama dalam lakon 'Pencuri Kepincut' (1976) dengan sutradara Burhan Piliang (1976). Kemudian tampil dalam lakon 'Nujum Pak Belalang' (1978) dengan sutradara D. Rifai Harahap.

Komentar