Minggu, 27 November 2022 | 15:52
JAYA SUPRANA

Belajar dari 'Besok atau Tidak Sama Sekali'

Belajar dari 'Besok atau Tidak Sama Sekali'
Pembacaan teks proklamasi (Dok IPPHOS)

ASKARA - Dalam rangka mendirgahayu 77 tahun Kemerdekaan Republik Indonesia, Aylawati Sarwono yang telah beberapa kali bekerja sama dengan Wawan Sofwan menyelenggarakan pergelaran wayang orang dan drama kolosal Jenderal Besar Soedirman pada Sabtu 13 Agustus 2022 mulai pukul 16.00, di auditorium Jaya Suprana School of Performing Arts, telah menyelenggarakan pergelaran monolog garapan sekaligus tampilan Wawan Sofwan dengan judul “Besok, Atau Tidak Sama Sekali”.

Judul tersebut merupakan sumpah Bung Karno yang diungkapkan pada tanggal 16 Agustus 1945, sehari sebelum hari paling bersejarah bagi Bangsa, Negara dan Rakyat Indonesia.

Di dalam pergelaran sederhana namun akbar tersebut, Kang Wawan mengerahkan segenap kesaktian teatrikal secara paripurna mendayagunakan segenap teknik monolog demi ekspresif berkisah tentang apa yang terjadi empat hari sebelum peristiwa bersejarah yang paling menentukan nasib bangsa, negara dan rakyat Indonesia, yaitu proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945.

Dengan monolog “Besok, Atau Tidak Sama Sekali” Kang Wawan memberikan sebuah kuliah umum yang mengajarkan kita semua tentang apa yang terjadi pada kurun waktu beberapa hari menjelang 17 Agustus 1945, dipandang dari sisi Bung Karno sebagai pembaca teks proklamasi Kemerdekaan Indonesia.

Selama beberapa hari menjelang Proklamasi Kemerdekaa Indonesia, Bung Karno mengalami masa kemelut paling berpengaruh untuk akhirnya bisa tercatat di dalam sejarah bersama Bung Hatta sebagai proklamator Kemerdekaan Bangsa, Negara dan Rakyat Indonesia.

Gesekan-gesekan dengan orang-orang terdekat Bung Karno yang akhirnya memengaruhi pengambilan keputusan penting tidak hanya untuk dirinya, tetapi juga untuk kelahiran sekaligus kelangsungan hidup bangsa Indonesia.

Menyaksikan pergelaran monolog Kang Wawan, lubuk sanubari saya tergetar. Pelajaran yang dapat saya peroleh dari monolog Wawan Sofwan adalah kesadaran atas keluhuran budi pekerti para pejuang kemerdekaan Indonesia yang telah terbukti berjuang tanpa pamrih jabatan, kekuasaan apalagi harta benda bagi kepentingan diri sendiri namun benar-benar tulus mengabdi bagi kepentingan Negara, Bangsa dan Rakyat Indonesia.

Para Pejuang Kemerdekaan Indonesia pada masa Republik Indonesia belum merdeka, sudah mampu sadar bahwa pada hakikatnya demokrasi bukan tujuan, namun sekadar alat untuk meraih tujuan yang jauh lebih mulia, yaitu mempersatukan beragam pendapat yang saling beda satu dengan lain-lainnya tanpa angkara murka kebencian antara yang saling beda pendapat.

Insya Allah para calon pemimpin bangsa yang akan memperebutkan suara rakyat pada pemilihan umum 2024 berkenan belajar dari para Pejuang Kemerdekaan Indonesia untuk mampu bersaing tanpa kebencian sambil berbekal semangat tulus mengabdikan diri kepada bangsa, negara dan rakyat Indonesia.

Selaras makna luhur terkandung di dalam lagu Padamu Negeri mahakarya Kusbini:

Padamu negeri kami berjanji
Padamu negeri kami berbakti
Padamu negeri kami mengabdi
Bagimu negeri jiwa raga kami

Komentar