ASKARA - Pemerintah telah mengalokasikan dana sebesar Rp 72 miliar untuk influencer. Dana tersebut merupakan insentif berbentuk potongan atau diskon tiket pesawat ke 10 destinasi yang ditetapkan pemerintah. Namun hal itu mendapat sorotan berbagai pihak.
Anggota Komisi X DPR dari Fraksi PPP, Rojih Ubab Maimoen memahami upaya pemerintah untuk berusaha mendatangkan turis mancanegara maupun domestik di tengah mewabahnya virus corona.
Faktor terpenting yang diperhatikan ialah kesehatan dan keamanan, baik keamanan para turis maupun pekerja di industri pariwisata mulai dari perhotelan, restoran, objek wisata dan lainnya.
"Pekerja sektor pariwisata merupakan salah satu kelompok yang sangat rentan mengalami penularan virus corona, karena mereka berinteraksi dan harus melayani para turis dari berbagai daerah dan negara," ujarnya, Selasa (3/3).
Berbagai tempat yang biasa dikunjungi wisatawan perlu dilengkapi dengan alat pendekteksi dini, khususnya tempat yang kerap jadi destinasi favorit warga negara asing. Sehingga semua pihak merasa lebih terlindungi.
"Jangan sampai upaya mendatangkan turis membuat pemerintah lengah mengantisipasi penyebaran virus corona. Selama ini terbukti banyak berasal dari warna negara China, Jepang, maupun Korea dan berbagai negara lainnya," kata Rojih.
Menurutnya, rencana pemerintah menyediakan anggaran Rp 72 miliar untuk jasa influencer guna mendatangkan wisatawan tidak efektif. Lebih baik digunakan untuk memberitahukan masyarakat soal pencegahan virus corona.
"Untuk saat ini lebih efektif untuk digunakan sebagai sosialisasi pencegahan penularan virus corona," cetusnya.
Termasuk pencegahaan di objek-objek wisata, hotel, restoran dan tempat-tempat yang biasa dikunjungi wisatawan lainnya.
Pemerintah telah menetapkan 10 destinasi pariwisata yang mendapatkan insentif bagi wisatawan asing. Sebanyak 10 destinasi pariwisata yakni Danau Toba, Yogyakarta, Malang, Manado, Bali, Mandalika, Labuan Bajo, Bangka Belitung, Batam, dan Bintan.