Jumat, 12 Juni 2026 | 15:11
TRAVELLING

Susur Sungai untuk Wisata

Susur Sungai untuk Wisata
Curug tanpa nama di Desa Karang Tengah, Bogor. (Dokumentasi pribadi)

ASKARA - Susur sungai adalah kegiatan mengenalkan ekologi sungai. Menurut M. Hari Subarkah (Mantan Ketua Divisi Arung Jeram Mapagama) bahwa kegiatan susur sungai terdiri dari pengenalan arus air, komponen yang ada di sungai, bentukan sungai, lingkungan sekitar sungai, badan sungai baik itu lingkungan pertanian, hutan, mata air dan sebagainya.

Sehingga berkaitan dengan kegiatan susur sungai akan berhubungan langsung dengan alam sekitar sungai. Berbagai macam medan di sekitar aliran sungai pun menjadi referensi yang tidak terpisahkan dalam proses penyiapan kegiatannya di lapangan.

Kemudian, dengan melaksanakan susur sungai berarti melatih seseorang untuk memahami jenis bahaya yang ada di sungai maupun alam sekitarnya dan melatih ketahanan fisik yang terlibat di dalamnya. Sebab, baik penyelenggara maupun peserta akan selalu berhadapan dengan kondisi alam yang sebenarnya. Oleh karena itu, kegiatan susur sungai membutuhkan fisik yang prima. Dan membutuhkan kesiapan tertentu bilamana terjadi situasi yang tidak diinginkan.

Dalam penelusuran susur sungai, seringkali kita temukan adanya curug di sepanjang aliran sungai. Kata curug merupakan Bahasa Sunda yang artinya air terjun. Curug juga adalah suatu formasi geologi di mana berasal dari arus air yang mengalir melewati suatu formasi bebatuan yang mengalami erosi dan berasal dari ketinggian serta jatuh ke bawah. Beberapa curug terbentuk secara alami di lingkungan pegunungan di mana erosi sering terjadi. Itulah sebabnya oleh pemahaman sebagian masyarakat Indonesia air terjun disebut sebagai sebuah mukjizat yang diciptakan oleh Sang Maha Pencipta.

Yang menjadi objek "penjelajahan" dari susur sungai kali ini adalah anak sungai yang mengalir ke Sungai Ciherang. Tepatnya berada di Desa Karang Tengah, Kecamatan Sukamakmur, Bogor, Jawa Barat. Wilayah ini menjadi target utama karena banyaknya wisata alam yang sudah dikelola oleh warga maupun pihak Perhutani. Tujuan dari kegiatan susur sungai ini adalah untuk mengetahui seberapa besar volume air dari anak sungai tersebut. Dan tujuan berikutnya yakni seberapa jauh anak sungai ini dapat memberikan wahana bagi wisata air. Artinya, mengingat besarnya risiko wisata air di sepanjang aliran Sungai Ciherang jika terjadi hujan besar maka dibutuhkan wahana lain di sekitaran sungai sebagai pengganti objek wisata tanpa memberikan risiko berarti bagi pengunjung.

Sebenarnya sudah ada beberapa objek wisata alam air di Desa Karang Tengah atau Desa Cibadak (Sungai Karang Tengah merupakan batas wilayah antara Desa Karang Tengah dengan Desa Cibadak). Wisata alam ini dapat dijadikan sebagai wahana untuk melepaskan penat bagi masyarakat yang berkunjung. Di antaranya wisata air yang berada di sepanjang Sungai Karang Tengah/Cibadak yaitu;

1. Curug Lewi Hejo
2. Curug Benjol
3. Curug Barong
4. Curug Lewi Cepet
5. Curug Lewi Liung
6. Curug Cibaliung
7. Curug Ciburial
8. Curug Kembar
9. Curug Hordeng
10. Curug Mariuk

Jarak antara curug tersebut sangatlah bervariasi. Keindahan yang ditawarkan pun berbeda-beda. Dan jika dilaksanakan penelusuran sumber air setelah Curug Mariuk kemungkinan masih akan ditemukan lagi curug di atasnya yang belum dikelola secara baik. Yang jelas, jalur menuju setiap curug tersebut sudah pasti membutuhkan fisik yang prima. Sebab perjalanan hingga sampai ke setiap curug harus dilalui dengan sebuah perjuangan melintasi bukit-bukit yang menjadi pembentuk aliran sungai.

Curug tanpa nama
Dalam perjalanan susur sungai di Desa Karang Tengah, tim menentukan lokasi yang akan dijadikan tempat penelusuran yaitu sebuah aliran air yang berada di antara Curug Cibaliung dengan Curug Lewi Liung. Memang terdapat banyak anak sungai yang mengalir ke Sungai Ciherang. Salah satu yang menjadikan aliran ini dijadikan target susur sungai adalah aliran anak sungai ini berasal dari lempengan batu hitam. Tim memastikan jalur aliran air tersebut hingga ke hulu. Tumpahan air yang mengalir pada lempengan batu hitam biasanya tidak akan menimbulkan adanya longsor. Meskipun saat terjadi hujan deras karena lempengan batu hitam merupakan senyawa padat dan keras. Saat pelaksanaan susur sungai, wilayah Desa Karang Tengah baru saja diguyur hujan deras namun tidak menyurutkan tim untuk siap menjejaki setiap jengkal aliran air.

Pintu masuk aliran air ini belum ada jalan sama sekali. Hanya tampak semak-semak dan ranting yang saling berkait. Namun di bawah rerumputan tersebut terihat jelas bahwa air mengalir dari dalamnya. Ini berarti di bagian hilirnya terdapat sebuah sumber air. Selanjutnya tim susur sungai membuat jalur lewat lintasan air. Hal ini sebenarnya sangat berisiko mengingat saat itu baru saja terjadi hujan deras. Bisa saja terjadi penumpukan air di suatu tempat akibat tertahan oleh benda-benda alam. Dan dimungkinkan pula air tertahan ini berubah menjadi bencana bagi tim susur sungai.

Setelah menembus rerimbunan semak belukar, tim tertahan oleh bebatuan (masih lempengan batu hitam). Alur aliran air semakin terlihat dengan jelas mengarah pada sebuah ketinggian. Dengan menapaki serta mendaki bebatuan lempeng hitam akhirnya tim berhasil pada sebuah cipratan air yang tersebar ke mana-mana. Ya, di depan mata telah terhidang sebuah curug indah nan alami. Ketinggian tebing curug sekitar 75 meter. Sebuah spot wisata yang belum terjamah oleh tangan-tangan manusia. Dan sang guide menjelaskan bahwa curug ini belumlah memiliki nama. Oleh karena itu kami sebut sebagai "curug mamang" karena dipandu oleh seorang warga Sunda.

Kekhawatiran awal akan adanya risiko setelah guyuran hujan deras berubah menjadi sebuah kekaguman. Kekaguman akan ciptaan Sang Khalik.

Sebaliknya, justru setelah terjadi hujan deras, dinding-dinding tebing tempat aliran air memberikan pemandangan yang memukau. Hal ini memberikan dampak positif bagi pelaksanaan susur sungai. Besarnya curah air yang jatuh dari puncak curug memberikan pesona tersendiri dan menakjubkan.

Tentunya hasil penelusuran ini akan bermanfaat bagi masyarakat lokal khususnya desa Karang Tengah. Selain itu masyarakat umum pun dapat menikmatinya tanpa ada resiko yang berarti. Namun, sebelum dinikmati sebagai wahana wisata akan sangat bijak jika ada sentuhan-sentuhan "seni" terhadap curug tersebut. Siapapun pihak yang akan mengelola sudah seharusnya menyiapkan sarana dan prasarana pendukung bagi penikmat alam yang aman dan nyaman.

Rivelson Saragih
(Marine Fighter Runners)

Komentar