Kitab Sastra Milik Keraton Yogyakarta Dijarah Pasukan Inggris
ASKARA - Ditulis dalam aksara Arab Jawa (Pegon) dengan tinta hitam di atas kertas dluwang, terdiri atas 1.520 folio atau 3.040 lembar halaman, dijilid dengan kulit asli berwarna coklat.
Sampulnya, seperti dilansir Seasia, dicap dengan hiasan frame di sudut dan di tengah yang dicap lambang medali. Penjilidannya mempunyai gaya Islam dan bersulam ikat.
Inilah kitab Sastra Menak Amir Ambyah, sebuah epos kepahlawanan dengan tokoh Amir Hamzah (Wong Agung), pamanda Kanjeng Nabi Muhammad.
Cerita peperangan dan petualangannya awalnya berbasis pada cerita Arab-Persia kemudian dilokalkan. Dan versi Jawa kemudian ditambahkan pelbagai kisah yang berkaitan dengan anak dan cucu Amir Hamzah.
Manuskrip sastra ini asalnya adalah dari khazanah Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, ditulis (atas perintah) Ratu Ageng (1730-1803), permaisuri dari Sultan Pertama Yogyakarta Sultan Hamengku Buwono I dan juga ibunda Sultan Hamengku Buwono II (di mana manuskrip ini diambil Raffles saat Perang Sepoy di zaman sultan kedua).
Dalam pembukaan kitab menak tertulis tentang:
"prabu wanodya / kang jumeneng Ratu Agung / kang ngedhaton Tegalreja"
"ratu wanita / bertahta sebagai Ratu Agung / dan istananya di Tegalreja"
Ratu Ageng adalah putri dari ulama Sukowati Kyai Derpayuda. Masa mudanya adalah anggota pasukan wanita sultan.
Manuskrip ini ditulis sekitar 1792 (dan sebelum 1812) ketika dijarah Pasukan Inggris dan hingga sekarang masih ada di London.

Komentar