Selasa, 09 Juni 2026 | 06:16
TRAVELLING

Pengusaha Kuliner Banten Terapkan Kaidah Kesehatan dan Kebersihan

Pengusaha Kuliner Banten Terapkan Kaidah Kesehatan dan Kebersihan
Dinas Pariwisata Banten mengenalkan konsep gastronomi kepada para pelaku usaha kuliner (Dispar.bantenprov)

ASKARA - Dinas Pariwisata Provinsi Banten memperkenalkan gastronomi atau tata boga kepada para pelaku usaha kuliner.

Dinas Pariwisata Banten mengundang sekitar 100 pelaku usaha kuliner terutama kuliner khas Banten dari delapan kabupaten/kota.

Sebagai pemateri dalam pengenalan gastronomi yakni Tetty Desiarty Soemarsono dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi, Herry Margono selaku sekjen Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia dan Ravita Datau yang merupakan pakar gastronomi.

"Banten sudah banyak memiliki produk-produk kuliner baik makanan pokok maupun juga oleh-oleh. Kami menghadirkan para narasumber untuk memberikan pemahaman dan pengenalan mengenai gastronomi dan juga mengenai keberlanjutan usaha mereka dengan menerapkan kaidah-kaidah kesehatan dan kebersihan pada usaha juliner," jelas Kepala Dinas Pariwisata Banten Eneng Nurcahyati.

Selain itu, Banten juga memiliki potensi pariwisata yang luar biasa. Sehingga mendekatkan para pelaku kuliner dengan pariwisata yang ada harus dibarengi pengembangan ekonomi kreatif untuk meningkatkan perekonomian masyarakat.

"Kami berharap para pelaku ekonomi kreatif ini juga turut serta membangun kemajuan pariwisata di Provinsi Banten," kata Eneng.

Pakar gastronomi Ravita Datau mengatakan, ada tiga indikator penting yang mendukung olahan kuliner bisa digemari masyarakat, yakni kesehatan dan kebersihan, lingkungan berkelanjutan, dan pelayanan.

"Yang tiga indikator dasar saja dilakukan oleh para pelaku suaha kuliner di Banten. Saya kira ini juga sudah bagus sebagai dasar dalam mendukung pengembangan pariwisata dan ekonomi kreatif di Banten menuju destinasi berkualitas," jelasnya.

Menurut Vita, bisnis kuliner merupakan usaha yang menguntungkan. Karena semua orang butuh makanan dan biasanya wisatawan yang datang ke suatu daerah pertama kali yang dicari biasanya adalah makanan khas untuk wisata kuliner maupun sebagai oleh-oleh.

"Bagaimana tidak, ketika baru turun dari pesawat orang sudah mencari makanan. Menu apa khas daerah tersebut. Sehingga tinggal pengelolaannya saja, termasuk nantinya ada inovasi-inovasi sebagai nilai tambah tanpa menghilangkan kekhasannya," ujarnya.

Sekjen Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia Herry Margono menambahkan, sejuah ini pengusaha kuliner di Indonesia baru melaksanakan fungsi, sedangkan dari sisi emosi untuk mendekatkan pelanggan atau konsumen terhadap produk belum dilakukan. Sehingga usaha yang dilakukan tidak berkembang cepat.

"Salah satu penyebabnya salah yang dijual baru sebatas fungsi, belum menjual emosi. Salah satu emosi yang dijual adalah branding. Coba lihat produk di sini branding-nya seperti apa," kata Herry.

Padahal kuliner Banten, tidak kalah bersaing dengan produk-produk dari daerah lain. Karena tadi informasinya bahwa talasnya produksi Banten tapi yang mengolahnya daerah lain.

"Caranya dengan membuat identitas, kasih nama kasih logo. Ini juga identik dengan exyting Banten. Produknya harus disesuaikan dengan personality, sehingga orang tahu," demikian Herry. 

Komentar