Senin, 08 Juni 2026 | 07:40
LIFESTYLE

Ngebet Nikah, Milenial Jangan Khawatir Soal Bujet

Ngebet Nikah, Milenial Jangan Khawatir Soal Bujet
Ilustrasi pernikahan (Suaraislam)

ASKARA - Menikah adalah momentum paling dinanti oleh mereka yang sudah memiliki pasangan. Tidak ingin melewatkan momen istimewa agar tidak terasa biasa bagi pasangan dan bisa dikenang selalu oleh tamu yang diundang maka tidak heran jika kebutuhan menuju hari pernikahan akan dipersiapkan sedetil mungkin dengan perencanaan matang.

Senior Manager Business Development Sequis Life Yan Ardhianto Handoyo mengatakan, agar mereka yang ingin segera menikah, utamanya pasangan milenial, sebelum masuk pada tahap pernikahan penting memahami tujuan pernikahan itu sendiri. Karena menikah dan membangun rumah tangga akan selalu berkaitan dengan biaya seperti berapa dana yang dibutuhkan, dari mana sumber dana, siapa yang membiayai, dan sejumlah pertanyaan lain mengenai anggaran. 

"Menikah adalah awal membangun rumah tangga, kehidupan pernikahan justru dimulai setelah pesta. Oleh sebab itu, biaya pernikahan sebaiknya tidak dibiayai dari utang, masih banyak tahapan kehidupan yang membutuhkan biaya," ujarnya.

Menikah itu pada dasarnya murah dan bisa menjadi mahal karena milenial semakin peduli dengan pencitraan dan penampilan. Milenial biasanya mendambakan pernikahan yang modern dan visual. Sebagai contoh, ada beberapa detil yang mungkin tidak pernah terpikirkan sebelumnya di pesta pernikahan era lama seperti tambahan photo booth dan layar LCD untuk penayangan live pesta pernikahan yang kini banyak dapat dijumpai pada pesta pernikahan pasangan milenial. Selain itu, estimasi biaya untuk resepsi pernikahan pun terus meningkat. Resepsi pernikahan di hotel bintang lima di kawasan Jakarta tahun 2020 biayanya bisa mencapai lebih dari Rp 500 juta dan nilai ini belum termasuk jasa fotografer, photo booth, undangan, souvenir, hantaran, dan lainnya.

Hal lain adalah soal media sosial yang juga sangat lekat dengan kehidupan milenial. Pernikahan yang ditampilkan pada unggahan di media sosial juga semakin berkembang sehingga para milenial tidak mau menikah sekadarnya dan dengan cara konservatif. Bahkan, The Lyst dalam Wedding Report 2019 mencatat bahwa media sosial memiliki dampak semakin penting terhadap tren pernikahan di seluruh dunia sehingga demi unggahan media sosial yang menarik maka vendor media sosial dimasukkan juga dalam bujet pernikahan.

"Dapat kita katakan bahwa biaya pernikahan untuk milenial membutuhkan jumlah yang besar. Fenomena ini bisa menimbulkan polemik bagi mereka yang belum siap secara finansial, beberapa di antaranya menunda pernikahan. Ada juga yang memilih tetap melangsungkan pernikahan dengan berutang. Padahal jika mau menyesuaikan kemampuan keuangan dan mengerti akan tujuan pernikahan, tidak perlu menunda hanya karena gengsi, pernikahan tetap dapat dilangsungkan dengan cara sederhana. Namun, jika pilihan jatuh pada opsi kedua maka milenial dapat memanfaatkan fasilitas pinjaman tanpa bunga atau dengan bunga yang sangat rendah. Hal ini mengingat rasio total utang konsumtif adalah maksimal 15 persen dari penghasilan tetap," papar Yan. 

Kendati demikian, Yan tetap menyarankan agar pernikahan dibiayai dengan anggaran yang telah dipersiapkan sebelumnya.

Alokasi bujet pernikahan agar sesuai kemampuan finansial

Setelah menikah, pasangan akan berhadapan dengan sejumlah kebutuhan sehari-hari dan masa depan maka jika pernikahan dibiayai dengan utang maka sebagian usia pernikahan akan dipenuhi tuntutan tambahan membayar utang biaya pernikahan. Urusan ini bisa saja berdampak pada relasi antar pasangan dan harus menunda kebutuhan lainnya. 

Jika ingin menikah tetapi penghasilan tidak mencukupi membiayai pesta maka mulailah hidup lebih hemat, menahan diri untuk tidak belanja yang bukan urgensi seperti baju, sepatu atau belanja online, mengurangi kebiasaan hang out di kafe, tidak perlu tergoda promo diskon atau cashback untuk hal-hal yang bukan menjadi prioritas hidup saat ini.
 
Survei Bridestory Indonesia Wedding Industry Report, pesta pernikahan dapat dikatagorikan dalam empat katagori, yaitu affordable, moderate, premium, dan luxurious dengan kisaran tamu undangan mulai dari 50 pax sampai 1.000 pax. Untuk katagori affordable, biaya yang diperlukan Rp 20-Rp 400 juta, moderate berkisar Rp 40-Rp 800 juta, premium Rp 100 juta-Rp 2 miliar. Untuk tipe luxurious seperti pernikahan di luar kota atau luar negeri, mengundang selebritis sebagai pengisi acara, dan menggunakan jasa vendor premium, kisaran dananya Rp 350 juta-Rp 7 miliar.

Dari katagori tersebut, kisaran angka yang dianggap wajar untuk pesta pernikahan tergantung dari jumlah tamu yang diundang dan tingkat kemewahan acara, tipe pesta pernikahan yang diimpikan, pemilihan lokasi serta pilihan jenis hidangan. Jika belum yakin dengan bujet yang sedang siapkan maka rincian anggaran biaya pernikahan yang rasional bisa digunakan sebagai panduan membuat bujet yaitu 40 persen biaya konsumsi, 20 persen biaya dekorasi, 5 persen untuk biaya akad nikah/pemberkatan pernikahan, masing-masing 8 persen untuk biaya pakaian, venue, dan dokumentasi, masing-masing 3 persen untuk biaya souvenir dan undangan, serta 5 persen untuk biaya lainnya.

Yan juga menyarankan agar menyisihkan kurang lebih 10 persen dari total bujet yang dimiliki untuk biaya tak terduga karena kebanyakan pesta pernikahan membutuhkan tambahan bujet sebesar 10-15 persen. Misalnya untuk keperluan resepsi, bujet untuk keperluan katering konsumsi sebesar 40 persen dari dana pesta untuk keperluan makanan pondokan atau gubukan, sebagian lagi untuk kue pengantin atau snacks sehingga untuk pesta dengan konsep buffet presentasenya bisa jadi akan lebih besar.

Bagaimana jika sudah melakukan perencanaan anggaran dan angkanya terlihat sangat besar sehingga membuat menjadi tidak yakin. Yan menyarankan agar meninjau lagi anggaran pernikahan yaitu memilih anggaran mana yang bisa dikurangi dan yang bisa dihilangkan. Misalnya, bila kompensasi biaya videografi lebih besar dari perkiraan maka calon pengantin bisa meniadakan photo booth dan hanya menyediakan pojok foto dengan dekorasi sederhana tetapi tetap menarik bagi tamu untuk berfoto.

Dalam menyiasati bujet, calon pengantin juga bisa melakukan survei untuk harga perlengkapan pernikahan termasuk survei di mana barang tersebut dijual lebih murah jika dibeli dalam jumlah banyak sehingga dapat memperkirakan jumlah bujet. Beberapa vendor biasanya dapat diikat harganya dengan down payment (DP) sekitar satu tahun menjelang hari H pernikahan dan sisa pembayarannya bisa dicicil kemudian di sepanjang tahun tersebut. Hal ini tentu bisa meringankan kita untuk mengalokasikan mana bujet yang prioritas dan mana yang bisa ditunda.

Miliki asuransi sebelum berumah tangga

Mengingat pernikahan merupakan momen penting dan tak terlupakan dan menjadi penanda kehidupan baru maka calon pengantin harus mempersiapkan kesehatan fisik dan mental juga kesehatan finansial karena setelah pesta usai, pengantin harus bekerja keras untuk membangun rumah tangganya.

Fisik, mental, dan finansial jangan sampai diabaikan karena dapat menganggu kestabilan rumah tangga. Apalagi, tiga hal tersebut sangat dekat dengan hal-hal tak terduga yang berujung pada ongkos yang mahal, misalnya ketika kita menyiapkan anggaran untuk membeli sofa dan lainnya ternyata dana tersebut harus dialokasikan untuk rawat inap di rumah sakit. Untuk itu, ada baiknya pasangan milenial menyediakan anggaran khusus untuk proteksi diri dengan berasuransi yaitu asuransi kesehatan dan jiwa. Karena asuransi berfungsi untuk menggantikan biaya perawatan medis jika sakit dan sebagai pengganti pemasukan jika salah satu pasangan mengalami cacat tetap total atau meninggal dunia.

Branding and Communication Strategist MiPower by Sequis Ivan Christian Winatha menyebutkan bahwa idealnya asuransi dimiliki oleh pasangan sejak mereka belum menikah. 

"Memilih pasangan yang sudah mempunyai perlindungan asuransi sudah menjadi tren di luar negeri, hal ini juga baik untuk diterapkan oleh milenial karena jika pasangan kita telah memiliki asuransi kita akan lebih siap menghadapi risiko kehidupan di masa mendatang yang bisa menggerus finansial keluarga, misalnya jika terjadi risiko sakit, kecelakaan atau meninggal dunia," jelasnya.

Bagi milenial yang merencanakan untuk berumah tangga, Ivan menyarankan untuk memilih asuransi yang memiliki manfaat komprehensif yaitu tersedianya proteksi terhadap penghasilan, kesehatan, jiwa. Dan jangan lupa untuk memperhatikan biaya premi agar sesuai dengan bujet. 

Tingkatkan uang pertanggungan dan rider asuransi kesehatan

Setelah menikah, jumlah uang pertanggungan (UP) polis asuransi yang sudah dimiliki sejak masih single sebaiknya dapat ditingkatkan dan bisa juga ditambahkan sejumlah asuransi tambahan (rider) seperti asuransi kesehatan dan penyakit kritis serta rider lainnya sesuai kebutuhan. Jika pendapatan bertambah dan memungkinkan untuk menambah UP dan rider segera lakukan jangan ditunda karena seiring naiknya pendapatan biasanya naik juga jumlah utang dan akan tetap ada risiko kehidupan yang perlu diantisipasi.

 
Seseorang yang memiliki pendapatan dan harus membiayai anggota keluarganya berarti memiliki nilai ekonomi yang harus dijaga. Nilai ini akan bertambah seiring dengan bertambahnya pendapatan dan utang. Itu sebabnya, asuransi jiwa harus dimiliki oleh mereka yang memiliki nilai ekonomi karena jika terjadi risiko kehidupan seperti meninggal dunia tentu saja utangnya akan dibebankan pada anggota keluarga. Dengan memiliki UP yang tinggi tentu risiko ini dapat dialihkan ke perusahaan asuransi dan berguna juga untuk meringankan beban biaya kebutuhan rumah tangga untuk sementara waktu karena tidak lagi memiliki pencari nafkah. 

Komentar