Terdampak Corona, Pemerintah Siapkan Insentif Dorong Wisatawan Domestik
ASKARA - Pemerintah Indonesia terus mengakselerasi perekonomian dalam negeri untuk tetap stabil di tengah merebaknya virus Corona.
Diakui, penyebaran corona lebih parah dibandingkan dengan virus SARS yang mewabah di tahun 2002-2003 lalu.
Sekretaris Kemenko Bidang Perekonomian Susiwijono mengatakan, dalam 12 hari, terhitung sejak 31 Januari hingga 12 Februari perkembangan virus corona luar biasa ekstrim. Hal ini diukur dari segi jumlah korban yang terinfeksi dan yang meninggal dunia.
"Itu dibandingkan angka 31 Januari ke 12 Februari itu empat kali lipat. Contoh yang terinfeksi itu yang tadinya 11.900-an, hari ini jam tujuh pagi itu 43.099. Jadi sudah empat kali lipat," ujarnya dalam Kongkow Bisnis bertema Ancaman Virus Corona Bagi Ekonomi Indonesia di Hotel Millenium, Tanah Abang, Rabu (12/2).
Sementara yang meninggal dunia pada 31 Januari lalu berjumlah 259 orang dan angka pada hari ini sudah 1.018 orang. Susiwijono mengaku perkembangan corona tidak disangka melebihi kasus SARS.
"Kita tadinya menganggap virus corona ini penyebarannya lebih cepat tapi fatality ringnya lebih rendah, sekarang kita baru ngeh," katanya.
Akibat SARS, kata dia, korban meninggal dunia mencapai 774 orang dalam delapan bulan, sementara dampak corona lebih parah di mana dari hitungan selama 12 hari naik empat kali lipat. Susiwijono pun mengaku bersyukur Indonesia belum terjangkit virus tersebut.
"Mudah-mudahan ini bisa dipertahankan," ujarnya.
Dampaknya terhadap perekonomian Indonesia, dari segi lalu lintas orang, Tiongkok sebagai sumber virus corona merupakan negara dengan wisatawan mancanegara nomor dua di Indonesia. Di mana, sebelumnya 2,07 juta orang pada 2019 per kunjungan mereka bisa mencapai 1.385 USD sementara dari negara lain hanya 1.280 USD.
"Ternyata average spending-nya lebih tinggi per kunjungan dengan negara lain. Kalau kita kalikan 2,07 juta devisa yang hilang dari turis RRT dalam satu tahun 2,87 billion USD atau setara 40 triliun rupiah," papar Susiwijono.
Namun akibat virus corona yang berdampak pada 28 negara membuat kunjungan wisman ke Indonesia juga turut berkurang. Hal ini menjadi tantangan bagi perekonomian Indonesia.
Sebab, corona telah berdampak terhadap 28 negara yang positif teridentifikasi, Hal ini tentu akan berdampak pada sektor wisata di Indonesia, termasuk transportasi penerbangan.
"Seat yang utilitasnya tidak terisi atau katakan yang lost di sana itu kira-kira 2,1 juta seat dalam satu season, itu kalau kita hitung dalam Tiongkok saja. Dan banyak sekali catatan dari Angkasa Pura II kehilangan beberapa bandara, termasuk Angkasa Pura I," tutur Susiwijono.
Tidak hanya terhadap pariwisata, sektor lain seperti UMKM dan manufaktur juga terimbas. Termasuk, pemerintah juga menggarisbawahi tenaga kerja asing (TKA) di Indonesia, di mana akhirnya mengizinkan sejumlah TKA untuk overstay.
"Ada TKA yang pas liburan Imlek beberapa TKA industri besar itu posisinya lagi pulang kampung, itu juga belum bisa balik, akhirnya diberikan perpanjangan. Artinya kalau sudah habis bisa di-extend satu bulan," jelas Susiwijono.
Dalam segi industri juga banyak kehilangan akibat virus ini, sehingga dampaknya bersifat saling berkaitan. Di mana lalu lintas orang pun mempengaruhi dampak lalu lintas barang.
Saat ini, upaya yang dilakukan di tengah krisis secara kompleks mempengaruhi perekonomian Indonesia adalah dengan mendorong jumlah wisatawan domestik.
"Karena memang wisatawan domestik pun akan berpikir ulang kalau mau ke luar negeri sehingga potensi ini kita akan dorong. Dengan cara apa, ya kita beri insentif," beber Susiwijono.
Insentif tarif bagi wisawatan domestik akan dikaji secepatnya. Dengan menggaet Kemenko Maritim dan Investasi yang saat ini sudah terbentuk tim untuk membuat skema penghasilannya.
"Kita akan konkretkan skemanya dulu, apakah per weekend kita akan kasih insentif. Artinya ini akan menjadi faktor kunci untuk mendorong wisatawan domestik," ujarnya.
Susiwijono juga meminta Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) untuk saling membantu. Dengan memberikan keringanan harga sewa bagi para wisatawan.
"Harga pesawat sudah diturunkan tapi hotelnya masih mahal, itu tidak bisa. Artinya kita harus bicara sama-sama semua sektor," imbuhnya.

Komentar