Menggapai Ketenteraman Sejati (2)
ASKARA - Tekad kuat dan bijak dalam mengambil keputusan hidup membuat kehidupan Patrick berangsur-angsur mengalami perubahan menggapai kebahagian hakiki ketika menjalani spiritual di Tanah Jawa. Dengan demikian timbullah ketenteraman dalam hatinya.
Patrick kecil dibesarkan di lingkungan Katolik dan sempat mengikuti ibadah di gereja. Bukan merasa tenteram tapi justru ada pergolakan batin dan pikirannya berkecamuk jadi tak menentu.
"Di belgia saya dibesarkan dalam lingkungan yang beragama Katolik tapi dari kecil tidak tertarik. Selama itu saya tidak punya patokan religi," ujar Patrick saat dialog dalam channel Youtube Surya KKS.
Berangkat dari kegelisahan itu, hatinya seperti terpanggil untuk mencari ketenangan hati. Bahkan Patrick mencoba memahami setiap detil perubahan dalam menjalani spiritualnya.
"Tapi lebih terjun ke dalam hidup realistis di situ titik panggilan jiwa. Jangan kamu mencari euforia daripada keindahan alam sendiri," katanya.
Kesempatan datang pada dirinya mengikat babak baru kehidupan untuk mengejar nilai amal saleh. Kala itu mulai mengenal ajaran Budha yang momentumnya terjadi di Pegunungan Nepal, Himalaya tahun 1995. Patrick belajar langsung dari Dalai Lama.
"Itu sangat aneh, abstrak. Terjadi di Pegunungan Himalaya dengan ketinggian 3.000 dpl. Tepatnya di Annapurna dekat dengan Tibet. Di sana masih banyak suku asli, di situ saya dibangun. Ikuti berbagai meditasi," jelas Patrick.
Mencoba memahami lebih dalam makna kehidupan yang harus dijalani meski berbeda dengan masyarakat pada umumnnya yang mencari kesempurnaan tersumber pada materi.
"Jangan kamu kejar ketinggian di atas ketinggian alam. Artinya, saya belum cukup mengerti apa yang disediakan alam semesta. Lalu mencari pikiran-pikiran palsu yang bukan alami," kata Patrick.
Namun semuanya dinilai manusiawi. Jadi kesenangan itu sebuah paradigma yang sudah terdidik untuk mencari kesenangan.
"Memuaskan panca indera yang lebih ke materi," tambah Patrick.
Kala itu terjadi perubahan drastis pada hidupnya. Patrick harus belajar dari alam untuk mencapai sebuah kebahagiaan yang murni dan sejati. Setelah belajar banyak di Tibet akhirnya memutuskan bertolak ke Yogyakarta.
"Akhirnya saya memetik mulai baca dari ilmu Budha utamanya. Tapi setelah itu saya mulai hidup di Jawa, dari 1997-1999. Walau tujuan utamanya menampung benda-benda meubel," kenang Patrick.
Kemudian memulai belajar kebatinan yang bisa membuka dunia spiritual Jawa. Jadi dari dua landasan spiritual yaitu ajaran yang pernah didapat di Himalaya dan Kejawen.
"Saya bergerak sedikit demi sedikit, tujuan awalnya suruh cari jati diri. Mulai mengubah paradigma saya sendiri tentang hidup dan utamanya sumber kebahagiaan dalam hidup," papar Patrick.
Patrick juga sempat kuliah strata satu dan magister di Amerika Serikat dengan jurusan Antropologi. Alasan memilih bidang itu lantaran mempelajari tentang kebudayaan. Tidak membutuhkan waktu lama, kuliahnya di tahun 2003.
"Itu jurusan paling cocok menurut saya. Saya menyelesaikan S1 dan S2 seperti kilat itu karena tidak mau buang waktu, mau secepatnya ke Jawa," katanya.
Penelitian tentang kearifan lokal telah dilakukan Patrick sejak masa kuliah dan menjadi tesis magisternya. Serta mendalami perubahan dan ekspolarasi tubuh dan jiwa.
Bahkan baginya Jogja seperti rumah. Keistimewaan kota itu memikat hati Patrick dan dinamika spiritualnya mengajak untuk mendalami Kejawen.
"Awal-awal mulai menyentuh dunia kebatinan itu sudah mantap tertimbun di hati saya sebut benih di mana saya harus lebih lama lagi karena Jogja merasa seperti rumah," jelas Patrick.
Menariknya, tahun 2005, Patrick bersama mantan istrinya pergi kembali ke Himalaya melakukan retret praktik meditasi. Pengalamannya bertahan hingga tahap tapa brata.
"Mulai dari pribadi jati diri mulai unsur penyatuan alam sampai tingkat dewa gaib. Tapi itu tiga tahun saya mematangkan diri mempelajarinya," katanya.
Tahun 2008 Patrick keluar dari meditasi yang prosesnya terbagi dua tahap selama satu bulan. Di mana, dua pekan pertama tidak boleh berbicara dan dua pekan berikutnya tidak boleh makan maupun minum.
"Keluar dari retret terakhir itu mulut saya langsung mengatakan mau jadi bhiksu. Saya cukup dengan hidup biasa sudah punya panggilan atau determinasi menjadi bhiksu," cerita Patrick.

Komentar