Pentingnya Pelestarian Cagar Budaya di Kawasan Kesultanan Banten
ASKARA - Perkumpulan Ahli Arkeologi Indonesia (IAAI) Komisariat Daerah Jawa Barat Banten, bekerja sama dengan Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Banten, Pokdarwis Maulana Yusuf dan Tim Desa Wisata Unbaja menggelar Bincang Santai Cagar Budaya dan Pariwisata di Kampung Sukadiri (Kawasan Kesultanan Banten) pada Sabtu lalu (8/2).
Ketua Tim Pendamping Desa Wisata Universitas Banten Jaya (Unbaja) Chotibul Umam mengatakan, penyelenggaraan diskusi menjadi cara memberikan edukasi kepada para anggota Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Maulana Yusuf terkait pentingnya pelestarian cagar budaya yang ada di Kawasan Kesultanan Banten.
"Dengan adanya acara tersebut memberikan pengetahuan yang lebih mendalam kepada anggota Pokdarwis Maulana Yusuf dalam mewujudkan Kampung Sukadiri ini menjadi kampung wisata yang berbasis tradisional," tuturnya.
Kepala Seksi Pengembangan Destinasi dan Objek Daya Tarik Pariwisata Disparpora Kota Serang Drs. Toto Suharto menyampaikan bahwa Kampung Sukadiri dibentuk untuk masyarakat sebagai tempat pemberdayaan kemajuan perekonomian di sekitar destinasi wisata. Sehingga hal ini penting diikutsertakan juga para arkeolog untuk memberikan pengetahuan tentang pentingnya melestarikan cagar budaya kepada masyarakat setempat.
"Saat ini pemerintah sudah membuat perda pariwisata yang berisikan bahwa masyarakat diberikan kesempatan untuk mengelola destinasi wisata sebagai tempat untuk memberdayakan perekonomian. Jadi masyarakat yang berada di sekitar destinasi wisata tidak lagi hanya menjadi penonton tetapi masyarakatlah yang mengambil peluang itu menjadi potensi dan penggerak perekonomian masyarakat," paparnya.
Pemberian materi tentang pelestarian cagar budaya dinilai penting oleh para arkeolog dan juga pengelola cagar budaya kepada masyarakat. Apalagi masyarakat yang ikut berperan aktif dalam kegiatan wisata dan juga yang tinggal dekat dengan lokasi cagar budaya.
"Cagar budaya menjadi objek utama wisata. Namun di samping itu dalam hal lain di luar cagar budaya yaitu masyarakat lokal pun menjadi daya tarik juga untuk wisatawan," kata Toto.
Ketua IAAI Juliadi mengutarakan kepada anggota Pokdarwis Maulana Yusuf tentang cara perlakuan terhadap cagar budaya, dan juga nilai-nilai penting dalam pengetahuan tradisional yang terdapat di benda cagar budaya itu. Pemberian materi ini sangat penting mengedukasi masyarakat dalam melestarikan cagar budaya agar tidak rusak.
"Cagar budaya adalah objek utama wisatawan sehingga apabila cagar budaya ini rusak maka peluang untuk menjadi tempat wisata di situ juga hilang. Sehingga masyarakat memang harus menjaga cagar budaya ini agar tidak rusak walaupun cagar budaya ini bisa diperbaiki tetap saja nilai-nilai sejarah yang ada di situ juga ikut hilang," ujarnya. (Dispar.bantenprov/why)

Komentar