Intens Hubungi Keluarga di Indonesia, Cara Mahasiswa di Wuhan Kurangi Kesedihan
ASKARA - Kepulangan ke Tanah Air menjadi tujuan utama seluruh mahasiswa Indonesia yang masih berada di Kota Wuhan, China. Mengingat saat ini mereka terisolasi akibat mewabahnya virus corona. Sehingga belum dipastikan kapan proses evakuasi dilakukan Pemerintah RI.
Salah satu mahasiswa yang menumpuh pendidikan di Wuhan, Fadil menuturkan, komunikasi masih terus dilakukannya dengan keluarga di Indonesia. Meski dirinya menyadari bahwa kondisi di Wuhan semakin memburuk.
"Alhamdulilah, komunikasi saya dengan keluarga intens setiap hari," ujar Fadil saat dihubungi Askara, Kamis malam (30/1).
Komunikasi juga dilakukan kepada mahasiswa lain di Kota Wuhan untuk memastikan keadaan yang lain aman. Namun, keinginan keluar dari pusat mewabahnya virus tersebut tidak bisa dinafikan.
"Setiap hari saya telepon ke rumah. Untuk memastikan bahwa saya di sini baik-baik saja. Saya sehat-sehat saja. Hanya saja mereka berdoa terus untuk dapat jalan terbaik bisa dievakuasi," tutur Fadil.
Dalam kondisi seperti ini, kata Fadil, orangtua pasti khawatir dan sedih. Harapan untuk segera kumpul bersama keluarga menjadi prioritas sejumlah mahasiswa Indonesia.
"Perasaan orangtua pasti sedih. Kita lihat ini namanya bencana mengancam nyawa siapa yang tidak sedih. Pasti sedih," ucap Fadil.
Atas dasar itu mereka meminta segera dievakuasi. Sementara, langkah-langkah telah disiapkan oleh Pemerintah Indonesia untuk mengevakuasi warga negara Indonesia yang berada di Wuhan, China. Tapi harus menunggu sikap pemerintah China, karena akses Kota Wuhan masih tertutup.
"Kami ingin segera dievakuasi supaya bisa langsung ketemu sama keluarga mungkin haresu melewati beberapa karantina atau sebagainya. Intinya kami ingin keluar dari Wuhan," harap Fadil.
Virus itu tak hanya mewabah di Tiongkok, sejumlah kasus juga terkonfirmasi di negara lain, yakni Australia, Kanada, Kamboja, Prancis, Jerman, Jepang. Malaysia, Nepal, Singapura, Korea Selatan, Sri Lanka, Taiwan, Thailand, Vietnam, dan Amerika Serikat.

Komentar