Trending di Youtube, Menelusuri Dugaan Munculnya Virus Corona dari Segi Agama
ASKARA - Seiring menjalarnya virus corona dari Kota Wuhan, Provinsi Hubei, Tiongkok yang kini meluas ke berbagai negara menjadi perhatian menarik seluruh kalangan masyarakat. Untuk mengetahui asal muasal virus tersebut baik dari segi sejarah, kesehatan, hingga agama.
Di jagat dunia maya, khususnya di platform berbagi video Youtube pada hari ini (Kamis, 30/1), sejumlah unggahan menarik terkait virus corona menjadi trending nomor dua dalam peringkat pencarian nasional. Video tersebut berjudul Masya Allah, Ternyata Virus Corona Sudah Tertulis di Al Quran dan Hadist.
Penelurusan Askara, video tersebut merupakan unggahan Youtuber dengan akun Permana Cuy. Di mana video tersebut saat ini telah disaksikan sekitar 6.664.232 penonton. Mengawali video, Permana menjelaskan asal usul dari virus tersebut yang diduga berasal dari pasar seafood Huanan yang menjual daging segala jenis binatang mulai dari kelelawar, katak hijau, ular dan lainnya.
''Sudah tahukah kalian ada sebuah hadis yang sangat masyhur yang membahas kedua binatang ini (kelelawar dan katak),'' ungkap Permana.
Dia menuturkan, hadis tersebut adalah dari Abdullah bin Amru yang menyebut ''Janganlah kalian membunuh katak karena suaranya adalah tasbih, jangan kalian pula membunuh kelelawar karena ketika Baitul Maqdis roboh ia berkata, wahai Rabb, berikan kekuasaan padaku atas lautan hingga aku dapat menenggelamkan mereka. Hadist Riwayat Al Baihaqi dalam Al Kubraa 9:318 dan Ash-Shughraa 8:293 Nomor 3907 dan Al-Ma'rifah halaman 456. Al Baihaqi berkata bahwa sanad hadis tersebut shahih,'' tulis keterangan dalam video tersebut.
Selain itu, Permana juga menjelaskan dalam kisah yang sama bahwa Aisyah Radhiallahu juga menyebut peran besar binatang kelelawar ketika kebakaran melanda Masjidil Aqsa.
''Diriwayatkan Aisyah tentang kelelawar, dia adalah hewan yang memadamkan api dengan sayap-sayapnya pada saat Baitul Maqdis dibakar. Di sini kita sudah tahu ya kedua hewan ini dilarang untuk dibunuh tentunya apalagi jika dimakan,'' sambung Permana.
Kemudian Permana pun menyinggung apakah hadirnya virus corona tersebut merupakan sebab akibat dari apa yang dilakukan seperti memakan dan membunuh kedua jenis binatang tersebut. Sebab, kata dia, santapan yang tidak lazim tersebut termasuk biawak dan juga lainnya dijual di Pasar Huanan.
''Apakah virus corona itu adalah akibat dari kelakuan manusia yang menyantap kuliner ekstrem. Itu bisa saja terjadi ya,'' ujarnya.
Saat ini, virus corona membuat Kota Wuhan menjadi sorotan. Bahkan kota ini telah diisolir agar virus tidak menyebar ke kota-kota lain. Kota yang memiliki pasar tersebut dikenal menjual segala jenis daging hewan liar adapun dijual dengan kondisi masih hidup.
Permana juga menjelaskan situasi Wuhan, salah satunya menerangkan foto aktifitas di pasar tersebut yang nampak si penjual tengah menguliti sejumlah hewan yang dipesan pembeli dengan satu ember berisikan darah yang bercampur dengan darah serta kulit berbagai jenis hewan.
''Terlihat seekor ayam yang diikat di keranjang sayur kemudian ada juga talenan yang diletakkan di atas ember digunakan sebagai meja atau tempat memotong. Kemudian di sampingnya ada penjual katak yang masih hidup juga masih terlihat di dalam ember tersebut,'' paparnya.
''Adapula katak yang sudah dipotong dagingnya disingkirkan namun diletakkan di ember yang sama dalam kondisi masih penuh darah, daging katak pun bercampur dengan daging lain yaitu ikan. Kemudian di sampingnya ada ember yang tidak dicuci serta timbangan digital yang kotor,'' sambung Permana.
Menyinggung kondisi tersebut, Permana mengatakan para ulama syafi'iyah berpandangan, larangan membunuh suatu hewan menunjukkan pula keharaman bagi kita untuk mengonsumsinya atau jika dilogikakan hewan tersebut tidak mungkin dimakan sebelum dibunuh. Jika membunuhnya saja diharamkan tentu memakannya pun adalah haram.
''Tentu di balik larangan (membunuh dan memakan hewan tersebut) ada alasan dan hikmah kita sebagai manusia yang mungkin kita tidak tahu terlalu dalam akan hal tersebut. Faktanya masyarakat Tionghoa di sana menggunakan katak sebagai makanan sumber pangan yang digemari,'' ujar Permana.
Bahkan penduduk di sana juga meyakini bahwa katak merupakan makanan yang bergizi serta lezat. Permana pun menyisipkan pesan dari hasil penelitian Intitut Pertanian Bogor (IPB) yang menyebutkan bahwa katak mengandung cacing nematoda yang berada di sistem pencernaannya.
''Apabila cacing tersebut masuk ke dalam sistem pencernaan manusia maka akan mengganggu metabolisme tubuh. Selain itu akan lebih bahaya lagi jika cacing tersebut masuk ke dalam pencernaan manusia,'' jelas Permana.
Selain itu, dampak dari adanya cacing tersebut siapa yang mengonsumsinya akan tetap merasakan lapar meskipun sudah menyantapnya. Sementara dari sisi kehalalalnya, terdapat perbedaan pendapat namun mayoritas menyatakan memakan katak adalah haram.
''Nah sebaiknya kita menghindari konsumsi katak, mengingat adanya perbedaan pandangan para ulama, walaupun pada katak memiliki gizi yang baik namun gizi tersebut sudah dihabiskan oleh cacing nematoda yang ada di dalam pencernaan katak, dan yang kita makan hanya racun yang berbahaya,'' tuturnya.
Video tersebut pun diakhiri dengan dugaan timbulnya penyakit corona disebabkan akibat ulah membunuh atau memakan daging. Permana pun mempersilahkan para penontonnya untuk berkomentar di dalam videonya.
Nampak video yang diunggahnya sejak Senin (27/1) saat ini telah mendapatkan banyak perhatian dengan menduduki trending nomor dua di Youtube. Dengan jumlah yang menyukai sebanyak 232 ribu dan yang tidak menyukai 9,8 ribu. Adapun di bagian kolom komentar telah diisi oleh 20 ribu netizen.

Komentar