Pengalaman Sehat Pakde Aji Surya (3)
Jurus Jitu Singkirkan “Baper”
KAIRO: Masalah hidup tak ada habisnya. Datang dan pergi silih berganti. Jangan khawatir, berpikir positif bisa menyelesaikan separuh persoalan.
Problem hidup ini memang tak main-main. Bisa amat rumit, bisa biasa-biasa saja. Ada yang bikin pusing tujuh keliling, ada yang bikin baper. Bahkan, saat semua ok-ok saja, tiba-tiba muncul masalah yang tidak pernah diduga. Hanya pikiran positiflah yang bisa menyelesaikan.
Ingatkah kita saat masih duduk di bangku sekolah? (Bukan lagu Chrisye lho). Tubuh kita masih super fit. Asupan tidak kurang. Motornya matic. Pakaian keren. Temanpun banyak. Semua terlihat sempurna bukan? Alias ok-ok saja. Pede abisss.
Tapi, bisa saja dada ini tiba-tiba terasa sesak dan keringat dingin ngocor manakala melihat teman pakai motor lebih baru, atau bahkan punya nilai ujian yang lebih baik dari kita. Terbersit dalam benak, kenapa kita kalah, atau mengapa mereka lebih baik! Dan, ujung-ujungnya datanglah penyakit hati yang bisa bermetamorphosis menjadi penyakit jasmani. Tak sedikit kejadian begini.
Sebagai ibu rumah tangga, misalnya, kadang mengalami hal serupa. Betapa jengkelnya melihat anak tetangga diterima di Universitas Negeri terkemuka, sedangkan anaknya di univeritas swasta pun ditolak. Atau, anak saudara diterima kerja di perusahaan multinasional dengan gaji segede gambreng sedangkan anaknya sendiri harus bekerja di swasta papan bawah. Sakit rasanya.
Kaum pekerja juga demikian. Persaingan memperoleh jabatan menjadi semakin ketat dan rumit. Kadang ada yang berani sodok sana sodok sini, alias “main kayu”. Lalu kita terpental hingga ujung. Gubrak! Alamak, “sakitnya tuh disini”.
Secara pribadi, saya pun mengalami masa sulit dimana teman-teman sudah kuliah sementara saya masih di level SMA. Mengalami juga saat, posisi jabatan berada underdog dibanding karib satu angkatan dan satu kost. Kalau baper, terasa termarginalisasi oleh keadaan dan mudah jatuh sakit body dibuatnya.
Sorry. Saya tidak mau demikian. Saya pun kemudian mencoba untuk berkontemplasi, merenung. Bagaimana mengatasi ini semuanya? Mencari solusi yang paling mujarab agar kesehatan tetap terjaga. Agar kinerja tidak menurun. Agar optimisme hidup tetap membuncah. Agar tetap kelihatan gagah.
Setelah “bertapa” sekian lama, jawaban dari langit yang saya terima adalah: memulai “berpikir positif” atau istilah kerennya “husnu zon”, berbaik sangka. Itulah juga yang sering kita dengar dari orang-orang ternama, ulama, ahli agama atau kaum cendekia.
Berpikir positif adalah sebuah ajaran yang mudah diamini namun sering hanya numpang di telinga, atau bahkan hanya lewat depannya. Jauh dari penerapan dan implementasi. Hmm.
Mengapa sulit, ya karena ini soal hati, manajemen kalbu. Hati itu seperti kaca, kalau sudah pecah susah sekali mengembalikannya. Hancur berkeping-keping! Makanya, preventive measures dalam bentuk positive thinking, menjadi kebutuhan mutlak.
http://www.askara.co/read/2019/11/29/195/menjadi-kurus-itu-hanya-soal-niat-?preview=1
Akal harus mengendalikan, itu inti dari berpikir positif. Setelah itu, apa yang benar menurut akal, harus diikuti, walaupun perasaan ini kadang melakukan penolakan. Just do it, don’t delay until tomorrow !!!
Pastilah semua harus dibangun dengan pelan-pelan. Saya pun puluhan tahun mencoba merekonstruksi bangunan pikiran positif. Manakala akan bengkok, diluruskan lagi. Akan melenceng, diluruskan lagi. Demikian seterusnya hingga menjadi kebiasaan, habit dan karakter.
Bayangkan saja, ketika kita melihat teman kita berada diatas dan kita di posisi sebaliknya, pasti bikin baper. Tapi dengan pengendalian tadi, semua akan beres. Ketemu mereka pun kita tetap bisa tersenyum. Komunikasi tetap terbuka. Dan semua akan looks fine !
Kelakuan kita yang positif tadi biasanya akan mendapat respon positif dari lingkungan. Teman sejawat atau yang sudah naik daun pasti akan merasa nyaman-nyaman saja. Bahkan, dengan komuniksi yang baik maka keterpurukan itu akan mendapatkan exit nya.
http://www.askara.co/read/2019/12/01/207/perlukah-saya-minder-soal-kuliner?preview=1
Yang jelas, dengan positive mind, komunikasi dan kolaborasi dengan mereka yang lebih melambung akan tetap terjalin. Kerjasama dengan mereka yang lebih beruntung akan tercipta. Dari proses ini, mereka justru lebih mudah membantu kita. Komunikasi akan lebih mempercepat kesuksesan menjelma menjadi kenyataan.
Tidak terasa memang, dengan cara yang demikian maka pelan tapi pasti kita akan merangkak naik. Bahkan, tidak jarang sangat cepat naik daun dan akhirnya menyamai mereka yang lebih dahulu dari kita.
Tapi lagi-lagi jangan lupa, saat kita diatas kita tetap harus pakai jurus berpikir positif: tidak merasa jumawa dan tetap helpful kepada sesama. Ingatlah bahwa kita bisa setiap saat “bangkrut” kembali.
Bila semua ini mampu dimanage dengan baik, maka kisaran separuh masalah hidup akan selesai dengan sendirinya. Tidak ada penyakit hati, tidak banyak penyakit body. Akan jarang-jarang mge-date dengan Bu Dokter.
Dan memang benarlah, sebuah kata bijak orang Arab kuno yang mengatakan : “kebersamaan itu dasar dari kesuksesan”. So, terus jalin kebersamaan dengan siapa saja dengan hati yang bersih dan pikiran positif.
Salam dari Kairo

Komentar