Selasa, 08 September 2026 | 01:13
LIFESTYLE

Pengalaman Sehat Pakde Aji Surya (1)

Menjadi Kurus Itu Hanya Soal Niat

Menjadi Kurus Itu Hanya Soal Niat

MESIR:: Menjadi kurus dalam arti memiliki berat badan ideal menjadi dambaan semua orang. Masalahnya, banyak yang berhenti di “mimpi”, niatpun tidak sampai.

Empat tahun lalu, saat ditugaskan oleh kantor saya tinggal di Kota Seoul, Korea Selatan, saya melihat fenomena yang unik. Disana, hampir semua warga memiliki musuh bersama yang bernama obesitas. Kurus idem dengan cantik, indah dan pujian. Sedangkan gemuk bermakna sebaliknya.

Bagaimana tidak, seorang anak bisa menolak diantar ibunya ke sekolah hanya karena ibunya punya body yang berlebihan. Mereka mungkin malu, ibunya sudah tidak cantik lagi.

Begitulah persepsi cantik dan indah bagi sebagian orang Korsel. Ini tentu berbeda dengan lelaki Arab yang justru malu manakala istri mereka kurus. Gemuk adalah manifestasi kemakmuran.

Saya pun akhirnya tertarik untuk bisa kurus seperti para bintang K-pop. Mereka berusaha keras agar memiliki badan sangat ideal dengan berbagai cara. Saya ingin menurunkan berat saya dari 68 kg menjadi 55 kg, persis seperti saat lulus SMA. Istilahnya, ingin lebih sehat dan tampak muda di usia dengan kepala lima.

Dengan berkonsultasi dokter gizi, saya makin yakin bahwa hal tersebut dapat dilakukan dengan cara yang aman. Semua terpulang seberapa kuat niat dalam sanubari. Kalau kuat, pastilah akan menetes dalam sikap dan aksi. Hasilnya akan nyata. Tapi bila lemah, ya mungkin cepat “on” dan “off”.

Dokter hanya menyarankan beberapa hal yang kelihatannya sepele namun menuntut keseriusan niat. Pertama, saya harus menghentikan garam dan micin. Ini sangat baik karena juga akan menurunkan tekanan darah sehingga akan terhindar dari resiko stroke dan semisalnya.

Kedua, menghindari makanan yang berlemak termasuk alkohol. Konon, kata dokter, hal ini sangat penting agar badan tidak mudah mekar. Bahkan makan daging pun dibatasi. Daging ayam misalnya, hanya makan bagian dada, dan “haram” makan sayap apalagi jeroan. Selain itu, saya harus banyak makan ikan-ikan khusus seperti tengiri, tuna dan salmon.

Ketiga, ini yang berat. Mengganti nasi putih ke nasi merah atau oat yang terdiri biji-bijian terpilih. Beras merah memang tidak seenak beras putih yang ada rasa gurih dan manisnya. Beras merah punya karbohidrat sangat rendah dan di lidah tidak terlalu punya rasa.

Keempat, minum air putih sebanyak mungkin. Kalaupun susu yang benar-benar low fat. Jus juga tidak sembarangan. Jus mangga memiliki kandungan gula yang konon tidak baik. Biasanya saya minum jus alpukat atau jambu tanpa gula sama sekali.

Kelima dan ini super penting, yakni jalan 10 ribu langkah per hari. Saya pakai aplikasi khusus yang dipasang di hape sehingga terdeteksi sudah berapa langkah yang kita jalani. Tidak jarang, saya tidak sadar bahwa sehari di kantor itu hanya meraih 2000 an langkah, yang berarti harus menggeber 8 ribu langkah sebelum tidur.

Kembali soal makan, pada awalnya saya pagi hari hanya makan oat saja, siang makan nasi dan buah dan malam buah plus agar-agar. Namun setelah mencapai target berat yang ideal, makan lebih bisa lebih banyak namun tetap terukur.

Menurunkan berat badan dari 68 kg menjadi 55 kg ternyata memerlukan waktu nyaris setahun. Artinya sebulan turun kisaran satu kg saja. Justru penurunan yanh tidak drastis inilah diet yang saya rasakan tidak terlalu berat.

Setelah mencapai berat ideal, saya merasa fit. Nyaris tidak pernah sakit meskipun hanya pegal-pegal. Bahkan dalam setengah tahun terakhir ini saya bisa beraktifitas full layaknya anak muda saja.

Dalam pengalaman saya, sebenarnya yang berat dalam menurunkan berat badan atau menjadi sehat itu bukan di soal makan. Keenakan makan itu pada hakekatnya hanya terkait dengan lidah yang panjangnya kisaran 10 cm. Selebihnya tidak ada rasa lagi.

So, yang sering jadi masalah justru mindset, pikiran kita. Sadarkah bahwa kontrol pikiran akan mempengaruhi banyak hal, termasuk pola makan. Pertarungan antara nafsu dan pikiran menjadi pangkal banyak hal, termasuk apakah kita mau menjadi sehat atau tidak.

Komentar