Selasa, 27 Oktober 2026 | 19:45
OPINI

Rupiah Tembus Rp 18.108 dan Alarm Kepercayaan Pasar, Saatnya Perkuat Kolaborasi untuk UMKM

Rupiah Tembus Rp 18.108 dan Alarm Kepercayaan Pasar, Saatnya Perkuat Kolaborasi untuk UMKM
Hafisz Tohir (dok.askara)

Oleh: Hafisz Tohir | Bersama Usaha Kecil Rakyat Sumsel

ASKARA - PDB tumbuh 5%, tapi tabungan rakyat menyisakan 15,4%, saldo di bawah Rp100 juta turun 45%, IHSG terkoreksi dalam.

Hari ini, Senin (26/10), kita kembali mendapat data penting: Rupiah tercatat di level *Rp18.108 per Dolar AS*, sempat intraday *Rp18.135* (data Refinitiv & Bloomberg). Sepanjang 2026, pelemahan sekitar 8% - 8,6%.

Di saat yang sama, Yuan justru di posisi terkuat 4 tahun. Ini memberi sinyal bahwa tekanan yang kita hadapi lebih banyak dipengaruhi faktor domestik, khususnya premi risiko dan persepsi kepercayaan pasar.

Seperti disampaikan Ekonom CORE Indonesia, Yusuf Rendy, tekanan kali ini lebih banyak dari dalam negeri. Tentu ini menjadi catatan bersama untuk kita perbaiki.

*MEMBACA AKAR PERSOALAN SECARA JERNIH*

Beberapa fakta yang perlu kita cermati bersama:

1. Isu MSCI terkait potensi perubahan klasifikasi pasar Indonesia menjadi perhatian serius pelaku pasar.

2. Arus keluar modal asing tercatat *Rp92,09 Triliun* sampai 21 Oktober, meningkat signifikan dibanding tahun lalu.

3. Likuiditas Dolar di pasar spot yang menipis turut memberi tekanan pada Rupiah.

Ini sejalan dengan koreksi IHSG yang saya tulis kemarin. Akar persoalannya sama: kepercayaan pasar yang perlu kita pulihkan bersama.

Kami mengapresiasi langkah Bank Indonesia yang menahan suku bunga di 5,75% dan terus melakukan intervensi terukur di spot, NDF, dan DNDF. Pernyataan Gubernur BI yang menyatakan akan terus memonitor volatilitas adalah langkah yang menenangkan pasar.

Tugas kita sekarang adalah memperkuat langkah tersebut dengan kolaborasi fiskal dan moneter yang solid.

*DAMPAK NYATA DI LAPANGAN DAN JALAN KELUARNYA*

Bagi pasar keuangan di SCBD, angka Rupiah adalah indikator. Tapi bagi UMKM kita di Pasar 16 Ilir atau Pasar Cinde Palembang, Rupiah adalah harga kedelai, sparepart, obat warung, dan bahan baku.

Saat Rupiah di Rp18.108:
- Biaya bahan baku impor UMKM berpotensi naik.
- Di artikel sebelumnya saya sampaikan, rasio konsumsi rumah tangga 74,9% karena menggunakan tabungan (dari MANTAB menjadi MATANG: Makan Tabungan).

- Jika daya beli ini kembali tertekan oleh kenaikan harga impor, maka UMKM akan mengalami tekanan ganda.

Cadangan devisa kita di *$146,3 miliar* adalah modal yang kuat. Namun akan lebih efektif jika diperkuat dengan perbaikan persepsi, bukan hanya mengandalkan intervensi.

*TIGA USULAN KONSTRUKTIF UNTUK PEMERINTAH:*

Sebagai mitra kritis pemerintah, saya mengusulkan:

*1. Percepat Penyelesaian Isu MSCI Secara Transparan dan Komunikatif.*
Pasar butuh kepastian dan komunikasi yang satu suara. Dengan transparansi, kita bisa kembalikan kepercayaan investor, sehingga intervensi BI tidak bekerja sendirian.

*2. Perkuat Sinergi Fiskal-Moneter dan Komunikasi Kebijakan.*
Rupiah Rp18.108 adalah alarm pengingat bagi kita semua untuk memperkuat koordinasi. Sinergi antara Pemerintah, BI, dan OJK akan memberi sinyal kuat bahwa kita mengelola ekonomi secara hati-hati dan kompak.

*3. Hadirkan Jaring Pengaman Khusus untuk UMKM.*
Saat Rupiah melemah, lindungi sektor yang paling merasakan: UMKM. Misalnya melalui subsidi bunga KUR yang tepat sasaran, kepastian pasokan bahan baku impor, dan insentif logistik.

Rupiah bukan sekadar angka di layar Bloomberg. Di Pasar Cinde, Rupiah adalah harga cabai, tempe, dan ongkos ojek. Menjaga Rupiah berarti menjaga dapur rakyat.

Kritik ini kami sampaikan bukan untuk melemahkan, tapi untuk memperkuat. Karena kita semua berada di kapal yang sama, ingin ekonomi Indonesia tumbuh berkeadilan, berkelanjutan, dan berpihak pada usaha kecil rakyat.

Editor: Husnie

Berita Terkait