ASKARA - Koperasi kredit tidak lagi cukup hanya menjadi tempat anggota menabung dan memperoleh pinjaman. Di tengah perubahan ekonomi dan perkembangan teknologi, koperasi dituntut mampu menciptakan ekosistem usaha yang memberi manfaat lebih luas bagi anggotanya.
Gagasan tersebut mengemuka dalam Dialog Peluang dan Tantangan Koperasi Kredit Pintu Air yang digelar bersamaan dengan peresmian Cabang Kampung Sawah, Bekasi, Sabtu (17/10/2026).
Dalam dialog tersebut, Dr. Avanti Fontana, dosen, trainer dan konsultan manajemen inovasi serta kewirausahaan yang berafiliasi dengan Departemen Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI), memaparkan materi bertajuk “Inovasi Model Bisnis KSP Kopdit Pintu Air.”
Avanti mendorong transformasi Credit Union (CU) agar tidak berhenti pada layanan keuangan, tetapi berkembang menjadi penggerak kewirausahaan dan ekosistem ekonomi anggota.
Namun, transformasi tersebut tidak berarti meninggalkan fungsi utama koperasi kredit. Layanan simpan pinjam tetap menjadi fondasi, sementara inovasi bisnis dikembangkan secara bertahap berdasarkan kebutuhan anggota, peluang pasar, kesiapan organisasi dan tata kelola yang sehat.
Berawal dari Kebutuhan Anggota
Avanti menekankan, inovasi tidak seharusnya dimulai dari pertanyaan mengenai usaha apa yang sedang populer, melainkan dari persoalan apa yang benar-benar dihadapi anggota.
“Salah satu prinsip utama yang ditekankan adalah bahwa inovasi bisnis harus berangkat dari kebutuhan nyata anggota, bukan semata-mata mengikuti peluang usaha yang sedang populer,” kata Avanti.
Kebutuhan tersebut sangat beragam. Anggota mungkin membutuhkan tempat menabung yang aman, akses pembiayaan, pendidikan keuangan hingga pendampingan untuk mengembangkan usaha.
Bagi pelaku UMKM, misalnya, modal hanyalah salah satu kebutuhan. Mereka juga membutuhkan peningkatan kualitas produk, akses pasar, jaringan pemasaran dan pendampingan usaha.
Karena itu, wawancara dengan anggota, pemetaan persoalan serta identifikasi potensi komunitas menjadi langkah penting sebelum koperasi memutuskan membangun model bisnis baru.
Dari Simpan Pinjam ke Ekosistem Usaha
Menurut Avanti, model bisnis koperasi perlu melihat berbagai unsur secara utuh, mulai dari anggota yang dilayani, manfaat yang diberikan, hubungan dengan anggota, sumber pendapatan, sumber daya, aktivitas utama, mitra hingga struktur biaya.
Layanan keuangan yang terpercaya tetap menjadi fondasi. Namun, manfaat koperasi dapat diperluas melalui literasi keuangan, pemberdayaan usaha, akses pasar dan penguatan jaringan.
Hubungan dengan anggota pun tidak berhenti pada transaksi. Koperasi dapat membangun keterlibatan melalui dialog, edukasi, pendampingan dan partisipasi aktif.
Di sisi lain, pengembangan usaha membutuhkan sumber daya manusia, data, teknologi dan jaringan. Kemitraan dengan pelaku usaha, pemasok, komunitas maupun penyedia teknologi dapat menjadi jalan untuk memperluas layanan tanpa harus membangun seluruh kemampuan sendiri.
Meski demikian, setiap inovasi harus disertai perhitungan biaya, manfaat dan risiko agar tidak mengganggu kesehatan usaha inti koperasi.
Lima Tahap Menuju Kesejahteraan
Avanti menjelaskan, kewirausahaan koperasi sebaiknya dilakukan secara bertahap.
Pertama, mengidentifikasi peluang berdasarkan kebutuhan anggota dan kondisi pasar. Kedua, menyiapkan sumber daya, mulai dari modal, SDM, teknologi, mitra hingga tata kelola.
Ketiga, menguji inovasi melalui rencana bisnis dan proyek percontohan. Keempat, membangun keunggulan melalui kualitas, efisiensi, jaringan, akses pasar dan kepercayaan.
Kelima, memastikan nilai ekonomi yang tercipta kembali kepada anggota.
“Keberhasilan inovasi tidak semata-mata diukur dari jumlah usaha baru yang dibentuk, melainkan dari manfaat nyata dan berkelanjutan yang dihasilkan bagi anggota,” ujarnya.
Manfaat tersebut dapat berupa peningkatan pendapatan, penciptaan lapangan kerja, pertumbuhan usaha maupun dampak sosial.
Tiga Jalur Pengembangan
Dalam dialog tersebut, Avanti menawarkan tiga jalur yang dapat dipertimbangkan sesuai kebutuhan dan kesiapan organisasi.
Pertama, membangun kemitraan dengan pelaku usaha, UMKM, pemasok maupun penyedia jasa. Kedua, mengembangkan ekosistem usaha anggota melalui pendidikan, pendampingan, penguatan jaringan dan akses pasar.
Ketiga, membentuk entitas usaha terpisah atau spin-off jika peluang bisnis telah terbukti, model bisnis layak, sumber daya tersedia serta aspek hukum dan tata kelola terpenuhi.
“Pembentukan spin-off bukan langkah otomatis setiap kali muncul peluang baru. Kemitraan maupun proyek percontohan dapat menjadi langkah awal untuk menguji pasar sekaligus mengendalikan risiko,” jelas Avanti.
Belajar dari Mondragon
Pengalaman Mondragon di Spanyol juga menjadi salah satu contoh yang dibahas sebagai pembelajaran mengenai hubungan antara koperasi, pembiayaan dan pengembangan usaha produktif.
Menurut Avanti, pengalaman tersebut tidak untuk ditiru secara mentah. Yang penting dipelajari adalah prosesnya: bagaimana koperasi mengenali peluang, menyiapkan sumber daya, mengembangkan inovasi dan membangun usaha yang berkelanjutan.
Bagi koperasi kredit, pelajaran tersebut menunjukkan pentingnya memilih bentuk usaha yang sesuai, menguji pasar dan memastikan manfaat ekonomi serta sosial dapat dipertahankan dalam jangka panjang.
Dana Anggota Harus Tetap Dilindungi
Di tengah peluang melakukan inovasi, Avanti mengingatkan bahwa kepentingan anggota tidak boleh dikorbankan.
“Transparansi, kehati-hatian, kepatuhan terhadap ketentuan, pemisahan risiko usaha, audit dan pengawasan perlu menjadi bagian dari setiap keputusan pengembangan bisnis,” tegasnya.
Penggunaan dana anggota untuk pengembangan usaha harus mempertimbangkan sumber modal, mekanisme persetujuan, pengawasan, pelaporan serta risiko yang mungkin muncul.
Setiap eksperimen bisnis juga perlu memiliki indikator keberhasilan dan batas risiko yang jelas. Jika hasilnya tidak sesuai dengan kriteria, koperasi harus berani melakukan perbaikan bahkan menghentikannya.
Inovasi Harus Kembali kepada Anggota
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan inovasi bukan sekadar seberapa besar pendapatan koperasi bertambah.
Partisipasi anggota, kepuasan, penggunaan layanan, peningkatan literasi, pertumbuhan usaha anggota, stabilitas pendapatan, efisiensi organisasi hingga pengelolaan risiko menjadi bagian penting yang perlu diukur.
Semangat tersebut menempatkan anggota sebagai pusat dari setiap perubahan.
“Koperasi yang inovatif tidak harus meninggalkan jati dirinya. Sebaliknya, koperasi dapat memperbarui cara menciptakan nilai, menjaga kepercayaan serta membangun kesejahteraan bersama dengan tetap menempatkan kepentingan anggota sebagai prioritas,” pungkas Avanti.