ASKARA - Pelatihan Life Skill bagi remaja dan dewasa Orang Asli Papua (OAP) yang diselenggarakan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Papua Selatan resmi ditutup, Sabtu (24/10/2026).
Penutupan berlangsung di Bel Hotel dan dilakukan oleh Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Provinsi Papua Selatan, Drs. Agustinus Djoko Guritno, M.Si. Kegiatan tersebut turut disaksikan Ketua Pokja Agama Majelis Rakyat Papua (MRP) Papua Selatan Ana Mahuze, Kabid Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Papua Selatan Martinus Mahuze, serta Anggota DPRP Papua Selatan Dominikus Ulukyanan.
Selama dua pekan, sebanyak 115 peserta mendapatkan pembekalan keterampilan praktis melalui sejumlah kelas, mulai teknik pengelasan, tata busana, tata boga, broadcasting, hingga kecantikan. Pelatihan tidak berhenti pada teori, tetapi mendorong peserta menghasilkan karya yang dapat dimanfaatkan maupun dikembangkan menjadi peluang usaha.
Dari kelas teknik pengelasan, peserta berhasil membuat berbagai produk seperti panggangan ikan bakar, tempat galon, hingga kompor berbahan bakar oli bekas. Sejumlah peserta bahkan dinilai sudah memiliki keterampilan yang cukup untuk bekerja di bengkel yang membutuhkan tenaga pengelasan.
Sementara itu, kelas tata busana melahirkan 30 perempuan OAP yang telah mampu menjahit pakaian wanita. Di kelas tata boga, peserta menunjukkan kemampuan mengolah bahan lokal menjadi produk bernilai ekonomi, di antaranya sagu sep kelapa, abon ikan gastor, serta teh sarang semut dalam kemasan siap seduh.
Peserta yang serius menekuni bidang kuliner juga mendapat dukungan lanjutan melalui Rumah BUMN yang dikoordinasikan Amadea Sampe Padang. Sejumlah peserta telah difasilitasi hingga memiliki Nomor Induk Berusaha (NIB), sehingga produk yang dihasilkan memiliki peluang lebih besar untuk dikembangkan sebagai usaha.
Minat peserta juga terlihat pada kelas broadcasting. Sejumlah peserta menunjukkan ketertarikan untuk terjun ke dunia public speaking dan penyiaran. Adapun kelas kecantikan menjadi ruang bagi peserta untuk mengembangkan keterampilan tata rias yang dapat langsung diterapkan setelah pelatihan.
Asisten I Setda Provinsi Papua Selatan Agustinus Djoko Guritno mengatakan, tantangan terbesar justru muncul setelah pelatihan berakhir. Menurutnya, peserta telah mendapatkan bekal keterampilan dan peluang, sehingga tahap berikutnya adalah keberanian untuk mengimplementasikannya.
“Tantangan yang paling berat setelah pelatihan adalah diri sendiri. Materi sudah diterima, peluang sudah terbuka, tinggal kemauan untuk bergerak dan mengimplementasikannya di lapangan,” ujar Djoko.
Ia mendorong peserta tidak hanya berpikir untuk mencari pekerjaan, tetapi juga menciptakan peluang kerja bagi orang lain. Namun, semangat tersebut perlu diikuti dengan dukungan permodalan agar keterampilan yang telah diperoleh dapat berkembang menjadi usaha produktif.
“Baiknya bukan kita yang mencari pekerjaan, namun justru kita yang membuka peluang untuk pekerjaan. Ini yang harus dilanjutkan, namun hal tersebut harus didukung pula dengan modal usaha,” katanya.
Ketua Panitia Petrus Mbaraka mengatakan, pelatihan selama dua pekan tersebut dirancang agar peserta tidak hanya memahami materi, tetapi juga menghasilkan karya nyata. Menurutnya, beberapa peserta kelas pengelasan bahkan telah siap memasuki dunia kerja di bengkel-bengkel yang membutuhkan tenaga terampil.
Peluang kerja juga mulai terbuka bagi peserta kelas tata busana. Owner Butik Benang Ikat Kalimaro Collection, Anna Kaize, yang hadir dalam acara penutupan menyatakan ketertarikannya untuk mengambil beberapa peserta kelas tata busana untuk bekerja di butiknya.
Sementara itu, hasil kreativitas peserta kelas kecantikan dan broadcasting ditampilkan melalui fashion and make up bridal show. Pertunjukan tersebut menjadi penutup yang memperlihatkan langsung kemampuan peserta setelah mengikuti pelatihan.
Instruktur kelas kecantikan dari Salon Puspo, Yuyun, mengatakan tema pelatihan tahun ini adalah tata rias pengantin. Karena itu, hasil pembelajaran peserta ditampilkan melalui peragaan make up pengantin yang dipadukan dengan kemampuan broadcasting.
Tak hanya ditampilkan, karya peserta juga mendapat respons positif dari para undangan. Produk hasil kelas tata boga dan pengelasan yang dipajang dalam kegiatan tersebut dibeli oleh sejumlah undangan yang hadir.
Pelatihan tersebut akhirnya tidak sekadar menjadi seremoni penutupan. Di balik berakhirnya dua pekan pembelajaran, tersisa keterampilan, karya, peluang kerja, dan harapan agar peserta OAP mampu mengubah keterampilan menjadi sumber penghidupan yang mandiri.
Bagi para peserta, pelatihan menjadi langkah awal. Tantangan berikutnya adalah membawa keterampilan itu keluar dari ruang pelatihan dan menjadikannya sesuatu yang bernilai bagi diri sendiri, keluarga, serta masyarakat Papua Selatan.