ASKARA - Bhatara Dave Rondonuwu menyampaikan klarifikasi sekaligus somasi terbuka menyusul beredarnya video yang menampilkan dirinya dalam peristiwa antrean pengisian Pertamax di salah satu SPBU kawasan Nusa Dua, Bali.
Video tersebut memicu beragam tanggapan di tengah masyarakat. Bhatara menilai, informasi yang beredar perlu dilihat secara utuh agar publik tidak mengambil kesimpulan hanya berdasarkan potongan rekaman atau narasi yang belum tentu menggambarkan keseluruhan kejadian.
Menurut Bhatara, peristiwa bermula ketika dirinya mendatangi SPBU untuk menanyakan ketersediaan Pertamax, mekanisme antrean, serta kemungkinan pengisian BBM menggunakan jeriken untuk menunjang kebutuhan operasional karyawannya.
Dalam situasi tersebut, dia mengakui sempat keluar dari barisan antrean. Bhatara juga mengakui bahwa sikap maupun cara berbicaranya pada saat kejadian dapat menimbulkan kesan kurang baik bagi orang lain.
Atas hal tersebut, Bhatara menyatakan terbuka terhadap kritik dan menjadikannya sebagai bahan introspeksi.
Namun, dia meminta agar kritik tetap didasarkan pada fakta dan konteks kejadian secara lengkap.
"Persoalan ini jangan dinilai hanya dari potongan video atau narasi yang tidak utuh. Saya terbuka terhadap kritik, tetapi informasi yang disampaikan kepada publik juga harus akurat dan proporsional," demikian sikap Bhatara dalam klarifikasinya, Minggu (25/10/2026).
Minta Konten Tak Akurat Dihentikan
Melalui somasi terbuka, Bhatara meminta pihak yang mengunggah maupun menyebarkan informasi yang menurutnya terbukti tidak akurat atau menyesatkan agar segera melakukan langkah korektif.
Dia meminta konten terkait dihapus, penyebaran ulang dihentikan, serta dilakukan klarifikasi atau koreksi secara proporsional.
Permintaan tersebut diberikan dalam tenggat waktu 3 x 24 jam sejak somasi terbuka dipublikasikan.
Bhatara menegaskan, somasi tersebut bukan dimaksudkan untuk membungkam kritik masyarakat.
Menurutnya, kritik merupakan bagian dari ruang publik yang harus dihormati. Namun, kritik dan penyebaran informasi tetap perlu memperhatikan akurasi, konteks serta hak setiap orang yang diberitakan atau menjadi objek pemberitaan.
Apabila tidak terdapat penyelesaian dengan itikad baik dalam batas waktu yang diberikan, Bhatara menyatakan akan mempertimbangkan langkah hukum sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Minta Persoalan Disikapi Bijaksana
Bhatara juga menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat apabila sikapnya dalam peristiwa tersebut menimbulkan ketidaknyamanan maupun polemik.
Batara berharap persoalan yang berkembang dapat diselesaikan secara proporsional tanpa memperpanjang kesalahpahaman.
"Saya tidak bermaksud menghindari kritik. Saya hanya ingin informasi yang beredar diluruskan berdasarkan fakta dan konteks yang sebenarnya," ujarnya.
Menurut Bhatara, penyampaian klarifikasi dan somasi terbuka merupakan upaya menjaga nama baik sekaligus mendorong penyelesaian persoalan secara adil dan bertanggung jawab.
Dia menyerahkan penilaian akhir kepada masyarakat dengan harapan publik dapat melihat persoalan tersebut secara jernih, tidak terburu-buru mengambil kesimpulan, serta tetap menghormati hak semua pihak.
Kasus ini sekaligus menjadi pengingat bahwa di era media sosial, sebuah potongan video dapat menyebar jauh lebih cepat dibandingkan klarifikasi. Karena itu, kehati-hatian dalam memproduksi dan menyebarkan informasi menjadi bagian penting dalam menjaga ruang publik tetap sehat.