ASKARA - Pergantian pucuk pimpinan Polri dari Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo kepada Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto membuka babak baru dalam konfigurasi pimpinan institusi keamanan nasional. Di tengah transisi tersebut, desas-desus mengenai kemungkinan pergantian sejumlah pucuk pimpinan TNI mulai mengemuka.
Serah terima kepemimpinan Polri dari Listyo kepada Suyudi berlangsung Jumat (2/10/2026), sehari setelah Presiden Prabowo Subianto melantik Suyudi sebagai Kapolri di Istana Negara. Pergantian itu sekaligus menempatkan perhatian publik pada dinamika regenerasi di tubuh TNI.
Sejauh ini belum ada keputusan resmi mengenai pergantian Panglima TNI maupun Kepala Staf Angkatan. Jenderal TNI Agus Subiyanto masih menjalankan tugas sebagai Panglima TNI, sementara Jenderal TNI Tandyo Budi Revita menjabat Wakil Panglima TNI dan Jenderal TNI Maruli Simanjuntak sebagai Kasad. Ketiganya bahkan masih tercatat mengikuti agenda strategis bersama Presiden Prabowo pada Agustus 2026.
Namun, di kalangan pemerhati pertahanan dan keamanan, sejumlah nama mulai disebut sebagai bagian dari dinamika kemungkinan regenerasi kepemimpinan TNI.
Untuk posisi Panglima TNI, nama Jenderal TNI Tandyo Budi Revita disebut-sebut masuk dalam bursa. Tandyo merupakan abituren Akmil 1991. Selain itu, nama Jenderal TNI Maruli Simanjuntak, abituren Akmil 1992, juga menjadi bagian dari konfigurasi senioritas yang diperhitungkan dalam dinamika tersebut.
Pemerhati militer Dar Edi Yoga melihat dinamika pergantian pimpinan TNI tidak bisa dilepaskan dari kebutuhan regenerasi dan kesinambungan organisasi.
"Kalau terjadi pergantian, yang harus dilihat bukan sekadar siapa yang menggantikan siapa. Yang lebih penting adalah kesinambungan kepemimpinan, kebutuhan organisasi, rekam penugasan, serta tantangan pertahanan yang akan dihadapi TNI ke depan," kata Dar Edi Yoga, Sabtu (3/10/2026).
Di level TNI Angkatan Darat, dua nama yang mulai disebut dalam bursa adalah Letjen TNI Tri Budi Utomo dan Letjen TNI Robi Herbawan. Tri Budi Utomo merupakan abituren Akmil 1994 dan kini menjabat Sekjen Kementerian Pertahanan.
Sementara Robi Herbawan, yang juga disebut dalam bursa, merupakan perwira tinggi jebolan Akmil 1994 dari kecabangan Kopassus yang kini mengemban tugas strategis di bidang intelijen TNI.
Menariknya, konfigurasi tersebut memperlihatkan semakin kuatnya kemunculan perwira abituren 1994 dalam jajaran strategis TNI. Generasi yang sebelumnya berada pada lapis menengah kini mulai menempati posisi-posisi penting dalam struktur pertahanan.
Dinamika serupa juga muncul di TNI Angkatan Laut. Laksamana TNI Muhammad Ali, abituren AAL 1989, saat ini masih menjabat sebagai KSAL. Namun, sejumlah nama mulai disebut-sebut sebagai kandidat apabila terjadi pergantian, antara lain Laksdya TNI Hersan, Edwin Caniago dan Erwin S. Aldedharma.
Nama Hersan cukup menonjol karena saat ini menduduki posisi strategis di lingkungan TNI. Sementara Edwin Caniago dan Erwin S. Aldedharma juga merupakan perwira senior yang disebut dalam bursa informal tersebut.
Dar Edi Yoga menilai munculnya nama-nama dari generasi berbeda menunjukkan bahwa proses regenerasi di tubuh TNI mulai memasuki fase penting.
"Abituren 1994 sekarang mulai naik daun. Ini bagian dari siklus regenerasi yang normal dalam organisasi militer. Tetapi siapa yang akhirnya dipercaya tentu bergantung pada kebutuhan organisasi dan keputusan Presiden," ujarnya.
Meski demikian, seluruh nama yang beredar tersebut masih berada pada wilayah spekulasi. Belum ada keputusan resmi Presiden mengenai pergantian Panglima TNI, Kasad maupun Kasal.
Yang jelas, setelah estafet kepemimpinan Polri berganti, mata publik kini mulai tertuju pada dinamika berikutnya di tubuh TNI. Jika benar terjadi rotasi, pergantian tersebut bukan sekadar perubahan nama di pucuk pimpinan, tetapi juga akan menjadi penanda dimulainya babak baru regenerasi kepemimpinan pertahanan Indonesia.