Sabtu, 03 Oktober 2026 | 02:22
NEWS

Asap Kawah Bromo Capai 500 Meter, PVMBG Keluarkan Imbauan Keselamatan

Asap Kawah Bromo Capai 500 Meter, PVMBG Keluarkan Imbauan Keselamatan
Gunung Bromo di Jawa Timur (Dok PVMBG)

ASKARA - Aktivitas Gunung Api Bromo masih dipantau oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG). Berdasarkan laporan pengamatan periode Jumat (2/10/2026) pukul 00.00–24.00 WIB, masyarakat dan wisatawan diminta tidak memasuki kawasan dalam radius 1 kilometer dari kawah aktif.

Laporan yang dibuat Wahyu Wijayanto, A.Md., menyebutkan Gunung Bromo yang berada di wilayah Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, memiliki ketinggian 2.329 meter di atas permukaan laut.

Secara visual, gunung api teramati jelas hingga tertutup kabut 0-III. Asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis hingga tebal, dengan ketinggian sekitar 50–500 meter dari puncak.

Cuaca di sekitar gunung terpantau cerah hingga berawan. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah selatan dan barat daya.

Dari pengamatan kegempaan, tercatat dua kali gempa Low Frequency dengan amplitudo 1 milimeter dan durasi 11–19 detik. Selain itu, tercatat tiga kali gempa Hybrid/Fase Banyak dengan amplitudo 1 milimeter dan durasi 10–20 detik.

PVMBG juga mencatat satu kali gempa Vulkanik Dalam dengan amplitudo 3 milimeter, S-P 3 detik dan durasi 26 detik. Sementara gempa Tektonik Jauh tercatat satu kali dengan amplitudo 20 milimeter, S-P 13 detik dan durasi 55 detik.

Selain itu, teramati satu kali Tremor Menerus dengan amplitudo 0,5–1 milimeter dan dominan 0,5 milimeter.

Dalam rekomendasinya, PVMBG meminta masyarakat di sekitar Gunung Bromo serta pedagang, wisatawan, pendaki dan pengelola wisata untuk tidak memasuki kawasan dalam radius 1 kilometer dari kawah aktif.

Masyarakat juga diminta mewaspadai kemungkinan terjadinya letusan freatik yang dapat berlangsung tiba-tiba dan tidak selalu didahului gejala vulkanik yang jelas.

Imbauan tersebut menjadi pengingat bagi pengunjung untuk tidak mengabaikan batas aman yang telah ditetapkan. Keindahan Bromo tetap dapat dinikmati, tetapi keselamatan harus menjadi prioritas utama.

Editor: Dar Edi Yoga