Udara di Tiga Kota Kalimantan Berbahaya untuk Kesehatan
ASKARA - Kualitas udara di sejumlah wilayah Kalimantan berada pada kondisi mengkhawatirkan. Pemantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada Sabtu (12/9/2026) pukul 16.00 WIB menunjukkan konsentrasi partikulat halus PM2.5 di beberapa daerah masuk kategori Berbahaya.
Palangkaraya mencatat konsentrasi PM2.5 tertinggi, mencapai 837,8 mikrogram per meter kubik (µg/m³). Angka tersebut jauh melampaui batas kategori Berbahaya BMKG yang dimulai di atas 250,5 µg/m³.
Kondisi serupa juga tercatat di sejumlah wilayah Kalimantan lainnya. Konsentrasi PM2.5 di Mempawah mencapai 706,0 µg/m³, sementara Kubu Raya berada pada 680,6 µg/m³. Angka tersebut menunjukkan tingginya paparan partikulat halus di udara yang berpotensi mengganggu kesehatan.
Partikulat PM2.5 menjadi perhatian karena ukurannya sangat kecil sehingga dapat masuk jauh ke dalam sistem pernapasan. Ketika konsentrasinya sangat tinggi, paparan dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, serta masyarakat dengan gangguan paru-paru atau jantung.
Dalam klasifikasi BMKG, kualitas udara dibagi menjadi lima kategori berdasarkan konsentrasi PM2.5, yakni Baik pada 0–15,5 µg/m³, Sedang 15,6–55,4 µg/m³, Tidak Sehat 55,5–150,4 µg/m³, Sangat Tidak Sehat 150,5–250,4 µg/m³, dan Berbahaya di atas 250,5 µg/m³.
Dengan angka mencapai ratusan mikrogram per meter kubik, masyarakat di wilayah yang mengalami kondisi tersebut perlu meningkatkan kewaspadaan. Aktivitas di luar ruangan sebaiknya dikurangi, terutama bagi kelompok rentan.
Masyarakat yang harus beraktivitas di luar ruangan juga dianjurkan menggunakan masker yang memiliki kemampuan filtrasi partikulat, seperti N95, serta mengurangi paparan udara luar dengan menutup pintu dan jendela ketika kualitas udara sedang buruk.
Jika muncul keluhan seperti sesak napas, batuk yang memburuk, nyeri dada atau gangguan pernapasan lainnya, masyarakat disarankan segera mencari pertolongan medis. Kondisi udara ekstrem bukan sekadar persoalan jarak pandang, tetapi dapat menjadi ancaman nyata bagi kesehatan.
Data tersebut menjadi pengingat penting bahwa kualitas udara perlu terus dipantau. Ketika angka polusi melonjak hingga berkali-kali lipat dari batas kategori Berbahaya, keselamatan dan kesehatan masyarakat harus menjadi perhatian utama.

Komentar