Sabtu, 29 Agustus 2026 | 05:15
NEWS

Wilayah Apresiasi Gus Yahya, NU Disebut Melaju dari Merah ke Hijau

Wilayah Apresiasi Gus Yahya, NU Disebut Melaju dari Merah ke Hijau
Presiden dan Wapres ketika menghadiri pembukaan Muktamar ke 35 NU (Dok Erfan)

ASKARA - Sidang Pleno Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) memasuki tahapan pembahasan Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Masa Khidmah 2021–2026, Jumat (28/8/2026).

Laporan tersebut sebelumnya telah disampaikan langsung oleh Ketua Umum PBNU, KH Yahya Cholil Staquf, atau yang akrab disapa Gus Yahya, di hadapan peserta Muktamar.

Setelah pemaparan laporan secara lisan dan penyampaian dokumen LPJ yang memuat perjalanan kepengurusan selama satu masa khidmah, pimpinan sidang membuka ruang bagi peserta untuk memberikan tanggapan, pandangan, kritik, maupun evaluasi.

Tanggapan tersebut menjadi bagian penting dalam proses pertanggungjawaban organisasi sebelum Muktamar melanjutkan pembahasan agenda-agenda berikutnya.

Dalam forum tersebut, pimpinan sidang meminta agar pandangan peserta dapat disampaikan secara tertib melalui perwakilan pengurus wilayah. Suara dari berbagai daerah pun diharapkan dapat mewakili keberagaman pandangan warga Nahdlatul Ulama dari seluruh penjuru Indonesia.

Mulai dari wilayah di Pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan, Bali, Madura, hingga berbagai pulau dan daerah lainnya di Indonesia, seluruh unsur kepengurusan diberikan ruang untuk menyampaikan penilaian terhadap perjalanan PBNU selama periode kepemimpinan Gus Yahya.

Dalam struktur organisasi NU, perjalanan dan pelaksanaan berbagai program tidak hanya bertumpu pada PBNU di tingkat pusat. Program organisasi juga melibatkan jajaran Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU), Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU), Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU), hingga Pengurus Ranting NU.

Selain struktur kepengurusan tersebut, lembaga, badan, badan otonom, pesantren, para kiai, ulama, serta warga Nahdlatul Ulama juga menjadi bagian dari kekuatan besar organisasi dalam menjalankan berbagai program dan agenda.

Dalam substansi tanggapan yang berkembang di kalangan peserta dan perwakilan wilayah, kepengurusan PBNU di bawah kepemimpinan Gus Yahya mendapat apresiasi atas berbagai perubahan dan perkembangan yang dirasakan selama masa khidmah 2021–2026.

Sejumlah pihak menyampaikan rasa puas dan terima kasih atas kerja kepengurusan yang telah dilakukan selama satu periode.

Menurut pandangan tersebut, berbagai langkah yang dijalankan PBNU dinilai telah membawa kemajuan bagi organisasi, baik dalam penguatan tata kelola, pengembangan program, konsolidasi organisasi, maupun upaya memperluas manfaat NU bagi masyarakat.

Bahkan, muncul penilaian yang menggambarkan perubahan kondisi organisasi dari sebelumnya berada dalam situasi yang disebut sebagai “garis merah”, kemudian bergerak menuju “garis hijau”.

Ungkapan tersebut digunakan untuk menggambarkan adanya perubahan dan perkembangan yang dinilai positif oleh sejumlah peserta terhadap kondisi serta perjalanan organisasi selama masa kepemimpinan Gus Yahya.

Bagi mereka, perubahan tersebut bukan hanya dilihat dari satu program atau satu capaian semata, melainkan dari proses panjang dalam membangun sistem organisasi yang lebih kuat dan terus berkembang.

Kemajuan tersebut juga dinilai memberikan manfaat yang semakin luas bagi warga Nahdlatul Ulama dan masyarakat.

Apresiasi itu sekaligus menjadi gambaran bahwa kerja organisasi selama satu periode tidak dilakukan oleh Ketua Umum maupun PBNU secara sendiri-sendiri.

Gus Yahya sendiri dalam penyampaian LPJ menegaskan bahwa berbagai capaian yang diraih merupakan hasil kerja bersama seluruh unsur Nahdlatul Ulama.

Mulai dari PBNU di tingkat pusat, PWNU di berbagai provinsi, PCNU di kabupaten dan kota, MWCNU di tingkat kecamatan, hingga Ranting NU di tingkat desa dan kelurahan, seluruhnya disebut memiliki peran dalam perjalanan organisasi.

Karena itu, LPJ yang disampaikan bukan dimaksudkan sebagai klaim keberhasilan satu kelompok maupun orang per orang.

Laporan tersebut merupakan bentuk pertanggungjawaban atas amanah dan ikhtiar yang telah dijalankan selama masa kepengurusan.

Dalam kesempatan tersebut, Gus Yahya juga menyampaikan permohonan maaf atas segala kekurangan dan kesalahan selama menjalankan amanah sebagai Ketua Umum PBNU.

Ia menegaskan bahwa perjalanan Nahdlatul Ulama selama ini tidak bertumpu pada kekuatan individu, melainkan pada nilai-nilai besar yang diwariskan para ulama.

Kekuatan pesantren, tradisi keilmuan, persaudaraan, doa para kiai, kerja keras para pengurus, serta pengabdian warga Nahdlatul Ulama menjadi fondasi yang menjaga organisasi tetap berjalan.

Memasuki abad kedua, NU dihadapkan pada tantangan untuk terus berkembang tanpa kehilangan akar dan arah perjuangannya.

Tradisi yang diwariskan para ulama harus tetap dijaga, sementara organisasi dituntut mampu menjawab perubahan zaman.

Dalam semangat itulah, NU diharapkan semakin kuat secara organisasi, semakin luas memberikan manfaat, serta semakin teguh menjaga independensi dan jati dirinya.

Selain memaparkan program dan perjalanan organisasi, LPJ PBNU juga memuat pertanggungjawaban mengenai pengelolaan keuangan.

Dalam sidang tersebut turut disampaikan adanya hasil audit eksternal dari Kantor Akuntan Publik sebagai bagian dari laporan pertanggungjawaban pengelolaan keuangan organisasi.

Dari laporan yang dipaparkan, disebutkan terdapat saldo akhir sekitar Rp2 miliar.

Saldo tersebut diharapkan dapat menjadi bagian dari keberlanjutan program dan khidmah Nahdlatul Ulama ke depan.

Dokumen LPJ yang disampaikan juga disebut cukup lengkap dan mencapai sekitar 860 halaman.

Pimpinan sidang meminta peserta untuk mempelajari dokumen tersebut sebagai bahan evaluasi bersama terhadap perjalanan organisasi selama satu masa kepengurusan.

Setelah LPJ dipaparkan, forum Muktamar kemudian membuka ruang tanggapan dari perwakilan wilayah.

Tahapan tersebut menjadi penting karena Muktamar bukan hanya menjadi forum pergantian kepemimpinan, tetapi juga menjadi ruang evaluasi bersama terhadap perjalanan organisasi.

Melalui pandangan dari berbagai wilayah di Indonesia, mulai dari Jawa, Sumatera, Kalimantan, Bali, Madura hingga daerah-daerah lainnya, Muktamar ke-35 NU diharapkan mampu menghasilkan evaluasi yang objektif sekaligus memperkuat langkah organisasi ke depan.

Apresiasi terhadap berbagai kemajuan yang telah dicapai di bawah kepemimpinan Gus Yahya pun menjadi salah satu bagian dari dinamika sidang.

Namun demikian, forum tetap memberikan ruang bagi seluruh peserta untuk menyampaikan evaluasi, kritik, dan masukan sebagai bagian dari tradisi organisasi.

Dengan demikian, pertanggungjawaban kepengurusan tidak berhenti pada penyampaian laporan, tetapi menjadi proses bersama untuk menentukan arah Nahdlatul Ulama memasuki perjalanan abad keduanya.

Dari pusat hingga daerah, dari PBNU hingga ranting, seluruh elemen NU diharapkan tetap berada dalam satu barisan untuk menjaga warisan para ulama, memperkuat organisasi, serta memperluas manfaat bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan.

NU pun diharapkan terus hadir sebagai kekuatan yang membawa kemaslahatan dan meneguhkan perannya sebagai rahmatan lil alamin.

 

Komentar