Minggu, 23 Agustus 2026 | 11:53
COMMUNITY

Jangan Sampai Salah Niat! Kupas Tuntas Bahaya Kikir dan Riya dalam Kajian Tafsir Al-Qur'an Bersama Dr. KH. Mohamad Hidayat

Jangan Sampai Salah Niat! Kupas Tuntas Bahaya Kikir dan Riya dalam Kajian Tafsir Al-Qur'an Bersama Dr. KH. Mohamad Hidayat
Abina Dr. KH. Mohamad Hidayat menyampaikan kajian rutin tafsir Al-Quran di Masjid Jami At Taubah (dok.askara)

ASKARA - Di tengah gaya hidup yang serba pamer dan budaya flexing di media sosial, serta di sisi lain maraknya sikap individualis dan pelit terhadap sesama, Masjid Jami' At Taubah bersama Yayasan Al Washiyyah kembali menggelar Kajian Tafsir Al-Qur'an rutin Malam Senin yang sangat relevan dengan kondisi umat saat ini.

Kajian spesial yang akan digelar pada Ahad, 23 Agustus 2026, Ba'da Maghrib sampai selesai ini akan menghadirkan guru kita semua, Abina Dr. KH. Mohamad Hidayat, Pengasuh Pondok Pesantren Tahfizh Al Washiyyah.

Mengangkat tema yang sangat menghentak hati, "SAMA BURUKNYA : BERSIFAT KIKIR ATAU BERINFAQ SECARA RIYA", kajian ini akan membedah secara mendalam Tafsir Surat An-Nisa Ayat 37-39 dengan merujuk pada Kitab Shofwatut Tafaasir karya Syaikh Muhammad Ali Ash-Shabuni.

Dua Wajah Keburukan yang Sama di Mata Allah

Banyak dari kita mengira bahwa orang yang kikir dan orang yang dermawan adalah dua kutub yang berlawanan. Namun Al-Qur'an justru menempatkan keduanya dalam satu ayat yang sama, dengan ancaman yang sama beratnya.

Dalam Surat An-Nisa ayat 37-39, Allah SWT berfirman tentang golongan orang-orang yang kikir, menyuruh orang lain berbuat kikir, dan menyembunyikan karunia yang telah Allah berikan. Di ayat selanjutnya, Allah juga mengecam orang-orang yang menafkahkan hartanya karena ingin dilihat manusia (riya) dan tidak beriman kepada Allah dan hari akhir.

Abina Dr. KH. Mohamad Hidayat menjelaskan bahwa kedua sifat ini hakikatnya sama buruknya.
"Orang kikir, ia menahan harta karena cinta dunia dan tidak percaya bahwa Allah akan menggantinya. Sementara orang yang berinfak karena riya, ia memang mengeluarkan harta, tapi bukan karena Allah, melainkan karena ingin pujian manusia. Niatnya rusak, maka pahalanya pun gugur. Keduanya sama-sama merugi," demikian salah satu poin penting yang akan dikupas tuntas dalam kajian nanti.

Kajian ini menjadi pengingat yang sangat penting bagi kita semua, terutama di era digital. Sifat kikir membuat harta tidak berkah dan memutuskan silaturahmi. Sedangkan sifat riya, yang seringkali tanpa sadar muncul saat kita memposting sedekah, bantuan, atau ibadah kita di media sosial, dapat menghapus seluruh pahala amal tersebut bagaikan debu yang tertiup angin.

Lalu, bagaimana ciri-ciri kikir yang halus? Bagaimana batasan antara syiar kebaikan dengan riya? Dan bagaimana cara Rasulullah SAW mengajarkan kita untuk menjadi hamba yang dermawan tapi tetap ikhlas?

Semua pertanyaan itu akan dijawab tuntas dalam Kajian Malam Senin ini.
Terbuka Untuk Umum

Panitia mengundang seluruh kaum muslimin dan muslimat, jamaah Masjid Jami' At Taubah dan sekitarnya untuk hadir dan mengambil keberkahan ilmu.

Kajian akan dilaksanakan di: Masjid Jami' At Taubah, Jl. Kebon Nanas Selatan III, No. 3, RT. 03/RW.05, Cipinang Cempedak, Jakarta Timur.

Mari hidupkan malam dengan ilmu. Ajak keluarga, tetangga, dan sahabat. Semoga dengan memahami tafsir ini, kita dijauhkan Allah dari sifat kikir dan riya, dan digolongkan menjadi hamba-hamba-Nya yang ikhlas dalam beramal.

Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi Contact Person: 0882-1097-3757 atau follow Instagram @yayasan_alwashiyyah.

Komentar