Spirit Ganda Agustus & Rabiul Awwal: Ustadz Harun Al Rasyied Ajak Umat Hijrah Menuju Perubahan
ASKARA - Wakil Ketua Umum Yayasan Madani Al Washiyyah, Ustadz Muhammad Harun Al Rasyied, Lc., menyampaikan tausiyah penting tentang makna perubahan. Menurutnya, bertemunya momentum Bulan Agustus sebagai bulan kemerdekaan RI dengan Bulan Rabiul Awwal sebagai bulan kelahiran Rasulullah SAW bukanlah kebetulan, melainkan pengingat ganda bagi umat Islam Indonesia untuk melakukan transformasi diri.
"Agustus mengajarkan kita merdeka dari penjajahan fisik. Rabiul Awwal mengajarkan kita merdeka dari penjajahan jahiliyah menuju cahaya Islam. Keduanya adalah spirit perubahan," ujar Ustadz Harun, dalam tausiyahnya, Ahad (23/8).
Ustadz Harun menegaskan, perubahan adalah sunnatullah dan menjadi syarat utama turunnya pertolongan Allah. Ia mengutip firman Allah SWT:
"Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri." (QS. Ar-Ra'd: 11)
Ayat ini, lanjutnya, menjadi dalil paling kuat bahwa kemerdekaan bangsa dan kemuliaan umat tidak datang dengan berpangku tangan, melainkan dengan ikhtiar dan hijrah.
"Dulu Rasulullah SAW melakukan hijrah terbesar dalam sejarah pada bulan Rabiul Awwal. Dari Makkah yang menekan, menuju Madinah yang memuliakan. Itulah perubahan. Dari yang sempit menuju yang lapang. Dari bangsa terjajah menjadi bangsa merdeka," jelasnya.
Ia juga mengutip Hadits tentang hijrah: "Orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang Allah." (HR. Bukhari dan Muslim)
Dan Hadits: "Barangsiapa hari ini lebih baik dari hari kemarin, dialah orang yang beruntung." (HR. Baihaqi)
Menurut Ustadz Harun, ada 3 spirit perubahan yang harus dibawa dari dua momentum ini:
1. Perubahan Tauhid (Spirit Agustus): Merdeka dari penghambaan kepada makhluk menuju penghambaan hanya kepada Allah. Seperti proklamasi kemerdekaan yang memutuskan rantai kolonialisme.
2. Perubahan Akhlak (Spirit Rabiul Awwal): Meneladani akhlak Rasulullah SAW yang diutus untuk menyempurnakan akhlak. Dari akhlak individualis menjadi akhlak gotong royong dan peduli.
3. Perubahan Amal: Dari malas menjadi produktif, dari pesimis menjadi optimis membangun peradaban. Rasulullah membangun Madinah menjadi negara maju dalam 10 tahun setelah hijrah.
"Jangan jadi jamaah yang hanya merayakan 17 Agustus dengan lomba, dan Rabiul Awwal dengan seremonial saja. Tapi tidak ada perubahan dalam sholat, sedekah, dan kerja kita," pesan beliau.

Komentar