Jumat, 21 Agustus 2026 | 14:38
COMMUNITY

Dari Lahan Kosong disulap menjadi Kebun Edukasi, Kelompok Tani Kalikoa Kini Ikut Dukung Pembelajaran Anak

Dari Lahan Kosong  disulap menjadi Kebun Edukasi, Kelompok Tani Kalikoa Kini Ikut Dukung Pembelajaran Anak
Foto bersama (dok.nasir)

ASKARA - Lingkungan desa tidak hanya memiliki fungsi sebagai ruang hidup masyarakat, tetapi juga dapat menjadi ruang belajar bagi anak-anak. Melalui kolaborasi sekolah, pemerintah desa, kelompok tani, mahasiswa, dan masyarakat, ruang hijau desa dapat dikembangkan menjadi sarana edukasi yang memberikan pengalaman belajar secara langsung kepada siswa.

Semangat tersebut menjadi salah satu fokus Tim Pemberdayaan Masyarakat oleh Mahasiswa (PMM) Universitas Muhammadiyah Cirebon (UMC) dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat di Desa Kalikoa, Kabupaten Cirebon. Program ini memperoleh hibah pendanaan dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) Tahun Anggaran 2026.

Pelaksanaan program mendapat dukungan dari Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Muhammadiyah Cirebon dalam mendorong pelaksanaan kegiatan pengabdian yang melibatkan sivitas akademika dan masyarakat.

Tim PMM UMC dipimpin oleh Titi Rohaeti, M.Pd. sebagai ketua, bersama anggota dosen Dr. Fikriyah, MA dan Dewi Yulianawati, M.Pd. Pelaksanaan program juga melibatkan 20 mahasiswa dari Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) dan Teknik Industri UMC.

Program tersebut tidak hanya menyasar peningkatan kualitas pembelajaran di sekolah dasar, tetapi juga mendorong keterlibatan masyarakat desa dalam menciptakan lingkungan yang lebih hijau dan edukatif.
Salah satu mitra yang memiliki peran penting adalah Kelompok Tani Desa Kalikoa. Kelompok tani didorong untuk tidak hanya berperan dalam aktivitas pertanian, tetapi juga menjadi mitra sekolah dalam kegiatan penghijauan dan pembelajaran berbasis lingkungan.

Kepala Desa Kalikoa, Misbakh Fauzi, S.E., menyampaikan bahwa Desa Kalikoa memiliki potensi lingkungan yang cukup besar untuk dikembangkan sebagai ruang edukasi masyarakat dan anak-anak.

“Desa Kalikoa sebenarnya memiliki potensi lingkungan hijau yang cukup banyak. Salah satunya adalah kawasan Bazme Alam yang sejak awal dibangun dengan tujuan dapat menjadi ruang terbuka dan taman edukasi bagi masyarakat, termasuk anak-anak sekolah. Potensi seperti ini perlu dihidupkan kembali dan dimanfaatkan secara bersama-sama,” ujarnya.

Menurutnya, keberadaan kawasan tersebut menjadi peluang untuk mempertemukan kepentingan pendidikan, lingkungan, dan pemberdayaan masyarakat. Namun, pemanfaatan ruang tersebut masih menghadapi berbagai tantangan.

“Kami berharap adanya kolaborasi dengan Universitas Muhammadiyah Cirebon dapat membantu desa dalam mengoptimalkan kembali potensi lingkungan yang ada. Jangan sampai fasilitas yang sudah dibangun justru kehilangan fungsi awalnya. Kami ingin kawasan ini dapat kembali memiliki manfaat bagi masyarakat dan juga menjadi tempat belajar bagi anak-anak,” katanya.

Melalui program PMM, kelompok tani dilibatkan dalam perencanaan dan pelaksanaan kegiatan penghijauan edukatif. Kegiatan tidak diarahkan sekadar pada penanaman tanaman, tetapi juga dirancang agar dapat mendukung proses pembelajaran siswa.

Misalnya, kegiatan menanam dan merawat tanaman dapat dikembangkan menjadi aktivitas literasi dan numerasi. Siswa dapat mengamati pertumbuhan tanaman, mengukur tinggi tanaman, menghitung jumlah tanaman, mencatat hasil pengamatan, membuat tabel, hingga menyusun laporan sederhana.

Dengan cara tersebut, kegiatan penghijauan dapat menjadi kelas terbuka bagi siswa. Mereka belajar matematika, membaca, menulis, mengolah data, sekaligus membangun kepedulian terhadap lingkungan.
Kelompok tani juga dapat berperan sebagai sumber pengetahuan lokal bagi siswa.

Pengalaman masyarakat dalam mengelola tanaman, mengenali jenis tanaman, merawat kebun, dan menjaga lingkungan menjadi pengetahuan nyata yang dapat dipadukan dengan pembelajaran sekolah.

Dalam pelaksanaannya, mahasiswa UMC berperan sebagai fasilitator yang menghubungkan sekolah dan masyarakat. Mahasiswa membantu mendampingi kegiatan, menyiapkan perangkat pembelajaran, mendukung aktivitas penghijauan, melakukan dokumentasi, serta membantu proses refleksi bersama mitra.

Bagi mahasiswa, keterlibatan tersebut menjadi pengalaman belajar di luar kampus. Mereka memperoleh kesempatan untuk menerapkan pengetahuan sekaligus belajar memahami kondisi nyata masyarakat, bekerja dalam tim lintas program studi, serta berkomunikasi dan berkolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan.

Ketua Tim PMM UMC, Titi Rohaeti, M.Pd., mengatakan bahwa pendekatan program memang dirancang untuk menghubungkan kebutuhan pendidikan dengan potensi lingkungan lokal.

“Kami ingin lingkungan desa tidak hanya dipandang sebagai tempat tinggal masyarakat, tetapi juga sebagai sumber belajar yang kaya. Ketika guru, siswa, kelompok tani, mahasiswa, dan pemerintah desa dapat berkolaborasi, kegiatan penghijauan sekaligus dapat menjadi bagian dari pembelajaran literasi dan numerasi yang lebih bermakna,” jelasnya.

Kolaborasi tersebut diharapkan tidak berhenti selama program berlangsung. Sekolah dan kelompok tani didorong untuk dapat melanjutkan kegiatan secara mandiri melalui pemanfaatan kebun atau ruang hijau sebagai sarana pembelajaran dan kegiatan lingkungan.

Dukungan pemerintah desa, sekolah, kelompok tani, LPPM UMC, dosen, serta mahasiswa menjadi modal penting dalam membangun ekosistem pendidikan berbasis lingkungan di Desa Kalikoa.
Melalui program PMM yang didanai Kemdiktisaintek Tahun Anggaran 2026 ini, Universitas Muhammadiyah Cirebon berupaya menghadirkan model pemberdayaan yang mempertemukan pendidikan, lingkungan, dan masyarakat dalam satu kegiatan yang saling menguatkan.

Harapannya, dari lingkungan desa yang hijau dapat tumbuh ruang belajar yang hidup; dari kolaborasi sekolah dan masyarakat dapat tumbuh generasi yang memiliki kemampuan literasi dan numerasi sekaligus memiliki kepedulian terhadap lingkungan.

Komentar