Senin, 17 Agustus 2026 | 00:59
NEWS

30 Tahun Imamat Romo Yos Bintoro, Pastor Pertama Lulus Pendidikan Perwira Karier TNI

30 Tahun Imamat Romo Yos Bintoro, Pastor Pertama Lulus Pendidikan Perwira Karier TNI
30 Tahun Imamat Romo Yos Bintoro, Pr (Dok OCI)

ASKARA - Tiga dekade perjalanan imamat Romo Kolonel (Purn.) Yoseph Maria Marcelinus Bintoro, Pr menjadi kisah tentang panggilan, pengabdian dan keberanian menapaki dua dunia sekaligus: menjadi imam Katolik dan mengabdi sebagai prajurit TNI.

Akrab disapa Romo Yos atau Romo Yote, perjalanan imamatnya memasuki usia 30 tahun. Ia dikenal sebagai pastor pertama yang mengikuti Pendidikan Perwira Prajurit Karier (Pa PK) dan berhasil lulus pada 1997. Perjalanan tersebut membuktikan bahwa panggilan sebagai imam tidak menghalanginya untuk menjalankan tugas pengabdian sebagai anggota TNI.

Romo Yos menjadi sosok yang menjalani peran unik: mengenakan jubah sebagai imam sekaligus seragam sebagai prajurit. Dua panggilan tersebut dijalankan dalam satu semangat pengabdian, melayani Tuhan, Gereja, bangsa dan negara.

Diakui MURI

Keunikan perjalanan tersebut mendapat pengakuan dari Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI). Romo Yos menerima penghargaan sebagai “Pastor Pertama yang Sekolah Perwira Prajurit Karier di Akmil.”

Penghargaan tersebut diserahkan pendiri MURI Jaya Suprana di Balairung Jaya Suprana Performing Arts, Mall of Indonesia, Kelapa Gading, Jakarta Utara.

Penghargaan itu menjadi penanda perjalanan panjang Romo Yos dalam memadukan kehidupan imamat dengan pengabdian militer.

Tidak hanya di lingkungan TNI, perjalanan pengabdiannya juga membawanya dalam pelayanan kepada umat Katolik di lingkungan TNI dan Polri.

Melalui Ordinariatus Castrensis Indonesia (OCI) atau Keuskupan Militer, Romo Yos secara resmi diangkat sebagai Wakil Uskup Umat Katolik di lingkungan TNI dan Polri.

Pengangkatan tersebut tertuang dalam Surat Keputusan OCI Nomor 075/3.20/2019 yang ditandatangani Mgr. Ignatius Suharyo selaku Uskup Militer Indonesia/Uskup Umat Katolik di lingkungan TNI dan Polri.

30 Tahun, Panggilan yang Tidak Berjalan Sendiri

Setelah mengabdikan diri selama puluhan tahun, Romo Yos memasuki masa purnatugas dari dinas militer pada 30 November 2025.

Namun, purnatugas sebagai prajurit tidak berarti berakhirnya panggilan untuk melayani. Sebagai imam, perjalanan pastoralnya terus berlanjut.

Dalam momentum 30 tahun imamatnya, Romo Yos menyampaikan rasa syukur sekaligus terima kasih kepada semua pihak yang selama ini menjadi bagian dari perjalanan hidup dan panggilannya.

“Terima kasih dari hati yang terdalam atas setiap ucapan, perhatian, dan doa yang diberikan pada 30 tahun Imamat saya. Semuanya menjadi peneguhan bahwa perjalanan panggilan ini tidak pernah saya jalani sendiri,” ungkap Romo Yos.

Ia menyadari bahwa perjalanan panjang tersebut tidak mungkin dijalani seorang diri.

“Syukur kepada Tuhan yang telah menyertai, dan terima kasih kepada Anda semua yang telah menjadi bagian dari perjalanan kasih dan pengabdian ini,” lanjutnya.

Bagi Romo Yos, tiga puluh tahun imamat bukan sekadar perjalanan waktu. Ada doa, pelayanan, pengorbanan, persahabatan, serta kesetiaan yang mengiringi setiap langkah.

“Semoga Tuhan membalas setiap doa dan kebaikan dengan berkat-Nya yang berlimpah,” katanya.

Ia menutup ungkapan syukurnya dengan sebuah doa sederhana namun sarat makna:

“Ad multos annos, dalam kasih dan kesetiaan-Nya.”

Tiga puluh tahun imamat Romo Yos menjadi kisah tentang seorang imam yang memilih mengabdi di dua medan: altar dan tanah air.

Dari altar ia membawa pesan kasih dan pengharapan. Dari dunia militer ia belajar disiplin, keberanian dan pengabdian. Keduanya bertemu dalam satu panggilan: melayani Tuhan sekaligus hadir bagi sesama, bangsa dan negara.

 

Komentar