Hari Damai Aceh ke-21, Raja Linge XXI Serukan Adat Gayo Jadi Penjaga Perdamaian
ASKARA - Peringatan Hari Damai Aceh ke-21 pada 15 Agustus 2026 menjadi momentum penting bagi masyarakat Gayo. Raja Linge ke-XXI, Juhursyah, bersama jajaran Pasak Opat Nenggeri Linge, menghadiri undangan Gubernur Aceh dalam peringatan perdamaian Aceh yang menandai 21 tahun perjalanan damai pasca-MoU Helsinki.
Kehadiran Raja Linge XXI menjadi simbol kuat persatuan dan eksistensi adat Gayo dalam menjaga perdamaian Aceh. Momentum tahun ini terasa semakin istimewa karena bertepatan dengan hadirnya Raja Linge ke-XXI dalam peringatan Hari Damai Aceh ke-XXI.
“Hari yang istimewa. Raja Linge ke-XXI dan Damai ke-XXI. Angka yang sama punya makna yang mendalam. Perdamaian ke-XXI, Reje Linge hadir perdana,” ujar salah seorang pemuka adat yang hadir.
Dalam kesempatan tersebut, Raja Linge Juhursyah menyerukan kepada seluruh masyarakat Gayo agar menjadikan semangat MoU Helsinki sebagai pijakan untuk membangun Aceh yang bermartabat, adil dan penuh harapan.
“Damai ini bukan hadiah. Damai ini hasil perjuangan panjang. Tugas kita sekarang adalah mengisinya dengan kerja, gotong royong dan menjaga adat. Selama adat Gayo berdiri tegak, maka Aceh akan tetap damai,” tegas Juhursyah.
Perdamaian Harus Diisi dengan Kerja
Menurut Juhursyah, perjalanan Aceh telah melalui berbagai fase sulit, mulai dari konflik berkepanjangan hingga bencana tsunami 26 Desember 2004 yang kemudian menjadi salah satu momentum penting menuju lahirnya perdamaian.
Kini, semangat persatuan kembali diuji setelah Aceh menghadapi bencana alam pada 26 November 2025.
Karena itu, perdamaian tidak boleh berhenti sebagai peringatan seremonial. Perdamaian harus diwujudkan melalui kerja nyata, pemulihan ekonomi dan kebersamaan masyarakat.
Ketua Umum Pasak Opat Nenggeri Linge, Zam Zam Mubarak, yang turut mendampingi Raja Linge XXI, menegaskan pentingnya menjaga suasana damai untuk mempercepat proses pemulihan Aceh.
“Aceh hari ini harus tetap menjaga perdamaian demi mempercepat rehab dan rekon,” ujar Zam Zam.
Dalam rombongan tersebut turut hadir Lahat selaku Pembina Pasak Opat Nenggeri Linge, Azman selaku akademisi budaya, Mukim Jamat Ilyas sebagai perwakilan tokoh Gayo, serta Darmawan.
Adat dan Pemerintah Harus Berjalan Bersama
Raja Linge Juhursyah menegaskan dukungan lembaga adat terhadap upaya pemerintah Aceh dalam mempercepat rehabilitasi dan pemulihan ekonomi masyarakat pascabencana.
Menurutnya, pemerintah dan lembaga adat memiliki peran yang saling melengkapi. Pemerintah menjalankan kebijakan dan program pembangunan, sementara adat menjadi kekuatan sosial yang menjaga persatuan masyarakat.
“Pemerintah hadir untuk rakyat. Adat hadir mengawal. Jika keduanya jalan bersama, tidak ada persoalan yang tidak bisa kita selesaikan,” katanya.
Ia menilai kolaborasi antara pemerintah, lembaga adat dan masyarakat menjadi modal penting dalam menjaga stabilitas Aceh sekaligus mempercepat pembangunan di berbagai daerah.
Pesan Raja Linge untuk Generasi Muda Gayo
Juhursyah juga menitipkan pesan khusus kepada generasi muda Gayo agar tidak melupakan sejarah dan nilai-nilai yang diwariskan para pendahulu.
Menurutnya, perdamaian yang dinikmati generasi saat ini merupakan amanah yang harus dijaga dan diteruskan.
“Jaga potensi alam, jaga hutan Gayo, jaga bahasa Gayo dan jaga persatuan. Itulah bentuk perlawanan kita yang paling bermartabat hari ini. Melawan kemiskinan dengan kerja. Melawan perpecahan dengan adat,” pesannya.
Ia juga mengajak generasi muda untuk melihat Aceh bukan hanya sebagai wilayah yang memiliki sejarah panjang konflik dan bencana, tetapi sebagai daerah yang memiliki potensi besar untuk bangkit dan menjadi kekuatan ekonomi di kawasan.
Aceh Harus Bangkit
Raja Linge XXI menilai Aceh memiliki modal sejarah, sumber daya alam, budaya dan posisi geografis yang strategis. Karena itu, momentum perdamaian harus menjadi titik balik untuk membawa Aceh menuju kemajuan.
“Aceh adalah negeri yang tangguh. Dari perjalanan sejarah perlawanan, Aceh telah melahirkan tokoh-tokoh pembaharu dan mampu melewati konflik serta bencana,” ujarnya.
Ia berharap perdamaian yang telah berlangsung selama 21 tahun dapat menjadi fondasi untuk membangun Aceh yang lebih maju dan mandiri.
“Inilah titik baliknya. Aceh harus menjadi pemimpin perdagangan di kawasan Selat Malaka. Kemajuan Aceh harus dibuktikan melalui diplomasi dagang, penguasaan ilmu pengetahuan dan penguatan nilai-nilai Islam,” pungkas Juhursyah.
Peringatan Hari Damai Aceh ke-21 akhirnya bukan sekadar mengenang berakhirnya konflik. Bagi masyarakat Gayo, momentum tersebut menjadi pengingat bahwa perdamaian harus dirawat melalui adat, persatuan dan kerja nyata untuk masa depan Aceh.

Komentar