Sabtu, 15 Agustus 2026 | 08:45
NEWS

Apresiasi Swasembada Pangan 2026, Prof. Rokhmin Dahuri: Jangan Biarkan Petani Tetap Miskin di Lumbung yang Melimpah

Apresiasi Swasembada Pangan 2026, Prof. Rokhmin Dahuri: Jangan Biarkan Petani Tetap Miskin di Lumbung yang Melimpah
Prof. Rokhmin Dahuri (dok.askara)

ASKARA - Capaian swasembada pangan di tahun 2026 menjadi kado strategis menjelang 81 tahun kemerdekaan Indonesia. Hal ini mendapat apresiasi dari Anggota Komisi IV DPR RI, Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, M.S.

Dalam wawancara bersama TVR Parlemen, Kamis (14/8), Guru Besar IPB University itu menilai peningkatan produksi beras, jagung, cabai hingga garam sebagai bukti bahwa Indonesia mampu berdaulat pangan jika kebijakan tepat dan berpihak pada produsen.

"Ini capaian yang sangat penting dan patut kita apresiasi. Ini membuktikan dengan kebijakan yang tepat dan dukungan kepada produsen, Indonesia punya kemampuan untuk mandiri," ujar Prof. Rokhmin.

Namun, ia mengingatkan, euforia swasembada tidak boleh menutup mata pada pekerjaan rumah yang masih besar. Ketergantungan impor pada gandum dan kedelai masih menjadi titik lemah kedaulatan pangan nasional.

Menurutnya, kunci untuk lepas dari jebakan impor adalah diversifikasi pangan lokal secara serius. Rokhmin menyoroti sagu sebagai senjata strategis yang selama ini belum digarap maksimal.

Padahal, Indonesia memiliki 5,2 juta hektare lahan sagu atau sekitar 85% cadangan sagu dunia. "Kalau kita ingin benar-benar berdaulat pangan, maka sumber pangan lokal harus kita kembangkan secara maksimal. Jangan sampai negara yang memiliki kekayaan sumber daya pangan begitu besar justru terus bergantung pada impor," tegasnya.

Selain diversifikasi, Menteri Kelautan dan Perikanan 2001 - 2004 itu menyoroti persoalan klasik yang belum tuntas: tata kelola pupuk bersubsidi. Ia menyebut pupuk adalah jantung produktivitas. Jika distribusinya masih rumit, tidak transparan, dan tidak tepat waktu, maka swasembada hanya akan menjadi angka statistik.

"Swasembada pangan tidak akan bermakna optimal apabila peningkatan produksi belum berbanding lurus dengan peningkatan kesejahteraan produsen pangan," katanya.

Bagi Prof. Rokhmin, kedaulatan pangan sejati harus menempatkan petani, nelayan, pembudidaya ikan, dan petambak sebagai subjek utama, bukan sekadar objek. Orientasinya tidak boleh hanya tonase produksi, tetapi juga pada produktivitas, nilai tambah, kepastian pasar, dan pendapatan.

Di usia 81 tahun kemerdekaan, ia berharap capaian 2026 ini menjadi titik lompatan, bukan garis finis.

"Swasembada pangan merupakan capaian yang sangat penting. Tetapi perjuangan kita belum selesai. Ke depan kita harus semakin mengurangi ketergantungan impor, memperkuat pangan lokal, meningkatkan produktivitas, dan yang paling penting memastikan petani serta seluruh produsen pangan hidup semakin sejahtera," pungkasnya.

Komentar