Selasa, 11 Agustus 2026 | 06:08
NEWS

Prof Rokhmin Dahuri Ungkap Akar Krisis Pertanian: Bukan Anak Muda Malas ke Sawah, Tapi Sistemnya yang Spekulatif

Prof Rokhmin Dahuri Ungkap Akar Krisis Pertanian: Bukan Anak Muda Malas ke Sawah, Tapi Sistemnya yang Spekulatif
Anggota DPR RI Prof Rokhmin Dahuri (dok.askara)

ASKARA - Indonesia sedang berdiri di persimpangan jalan yang menentukan. Di satu sisi, negeri ini dihadapkan pada ancaman nyata krisis regenerasi petani karena mayoritas pahlawan pangan telah memasuki usia senja. Di sisi lain, Indonesia tengah menikmati puncak bonus demografi dengan berlimpahnya anak muda kreatif dan melek teknologi.

Hal itu disampaikan Anggota DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, MS dalam paparannya berjudul MERANCANG REGENERASI PETANI: MENGHIDUPKAN MASA DEPAN PERTANIAN INDONESIA, yang merujuk pada referensi IFAD (International Fund for Agricultural Development) 2019 dan 2020.

"Mayoritas pahlawan pangan kita yang menjaga isi piring kita sehari-hari kini telah memasuki usia senja. Di sisi lain, kita punya bonus demografi berlimpahnya anak muda kreatif dan melek teknologi. Sayangnya, pertanian masih dipersepsikan sebagai dunia lumpur, kerja fisik berat, dan minim jaminan kesejahteraan," ujar Prof Rokhmin Dahuri dalam keterangannya, Selasa (11/8).

Menurut Prof. Rokhmin, bagi mayoritas generasi muda, sektor pertanian masih dipersepsikan sebagai dunia yang kurang menarik, identik dengan lumpur, kerja fisik yang menguras tenaga, penuh ketidakpastian harga, serta minim jaminan kesejahteraan.

Namun, ia menegaskan, enggannya anak muda ke sawah hanyalah gejala permukaan. Akar masalah yang paling mendasar adalah terputusnya mata rantai antara rencana produksi di lahan (on-farm) dan kepastian pasar (off-take).

Selama puluhan tahun, sistem kita berjalan spekulatif: petani diminta menanam dulu tanpa pernah tahu siapa yang akan membeli, berapa harganya, dan standar mutunya apa. Saat panen raya, harga anjlok. Siklus klasik ini mengirim pesan kepada anak muda bahwa pertanian adalah perjudian berisiko tinggi.

"Selama puluhan tahun, sistem kita berjalan dengan pola spekulatif: petani diminta menanam terlebih dahulu tanpa pernah tahu siapa yang akan membeli hasil panennya, berapa harga yang dipatok, atau standar kualitas apa yang diharapkan. Ketika musim panen raya tiba, harga pun anjlok," ujar Guru Besar Fakultas Kelautan dan Perikanan IPB University ini.

Untuk membalikkan keadaan, ia menawarkan pergeseran paradigma radikal. Pertanian tidak boleh lagi dijalankan sekadar sebagai kegiatan bercocok tanam tradisional, melainkan harus ditransformasikan menjadi industri manufaktur biologis berbasis kepastian pasar.

Dengan mengadaptasi formula "3Es" (Employment, Entrepreneurship, Empowerment) yang ia adopsi dari laporan IFAD 2019 tentang peluang kerja bagi pemuda pedesaan dan memadukannya dengan konsep Rantai Nilai Terintegrasi dari IFAD 2020, kita dapat merancang regenerasi petani secara sistematis.

Off-Take First, Production Second

Langkah awal perubahan ini, kata Prof. Rokhmin, adalah membalik cara kerja dari "menanam lalu mencari pembeli" menjadi "mengunci pembeli lalu merencanakan tanam".

Dalam pendekatan ini, industri pengolahan, ritel modern, hingga eksportir (off-taker) dihadirkan sejak hari pertama sebelum benih disebar untuk menetapkan kuota kebutuhan pasokan dan menerbitkan kontrak pembelian di awal (forward contracting) dengan acuan harga dasar (floor price guarantee).

"Industri pengolahan, ritel modern, hingga eksportir (off-taker) dihadirkan sejak hari pertama sebelum benih disebar. Mereka menetapkan kuota, spesifikasi mutu, dan menerbitkan kontrak pembelian di awal dengan jaminan harga dasar (floor price guarantee)," jelas Ketua DPP PDI Perjuangan Bidang Kelautan dan Perikanan.

Setelah kepastian pasar terkunci, barulah Pemuda Tani & Koperasi bergerak mengonsolidasi lahan kecil melalui corporate farming, menyusun jadwal tanam presisi dan sistem pelacakan digital. Sementara Pemerintah & Lembaga Keuangan berperan sebagai enabler dengan menyediakan infrastruktur rantai dingin (cold chain), irigasi, KUR, dan asuransi pertanian.

Ia juga merinci formula 3Es di lapangan: Employment membuka spektrum pekerjaan baru seperti operator drone penyemprot pupuk presisi, teknisi sensor tanah IoT, hingga quality control inspector standar ekspor. Entrepreneurship mencetak agripreneurs berbasis demand melalui Inkubator Bisnis Pertanian Desa (IBPD) yang menyusun business plan berdasarkan pesanan nyata industri. Sedangkan Empowerment memberi posisi tawar setara melalui Forum Pemuda Tani Desa yang dilibatkan dalam Musrenbangdes.

Untuk membalikkan keadaan, Prof Rokhmin menawarkan pergeseran paradigma radikal. Pertanian tidak boleh lagi sekadar bercocok tanam tradisional, melainkan harus ditransformasi menjadi industri manufaktur biologis berbasis kepastian pasar.

Konsep yang merujuk pada IFAD tersebut, menurutnya, telah terbukti berhasil. Di Rwanda program serupa menciptakan lebih dari 65.000 lapangan kerja baru dan 12.000 usaha mikro agribisnis yang bankable. Di Vietnam, pendapatan bersih pemuda tani naik 35-50% setelah terhubung dengan off-taker. Di Kolombia, volume penjualan kolektif pemuda tani melonjak hingga 300% dalam 4 tahun.

"Masa depan kedaulatan pangan Indonesia tidak lagi terletak pada ujung cangkul yang digerakkan secara spekulatif di bawah terik matahari, melainkan pada jemari kreatif generasi muda yang menguasai teknologi, didukung kepastian pasar industri, dan peduli pada kelestarian bumi," ungkap Menteri Kelautan dan Perikanan 2001 - 2004 itu.

Pertanian Bukan Cuma Soal Mencangkul

Langkah awal perubahan ini dimulai dari cara kita merencanakan produksi. Kita harus berani mengubah pola pikir lama dari sekadar "menanam lalu mencari pembeli" menjadi "mengunci pembeli lalu merencanakan tanam".

Dalam pendekatan rantai nilai terintegrasi, industri pengolahan, ritel modern, hingga eksportir (off-taker) dihadirkan sejak hari pertama sebelum benih disebar:

Langkah 1: Industri & Pasar (Tahap Hulu / Demand Signal)

Menetapkan kuota kebutuhan pasokan dan spesifikasi mutu secara transparan; Menerbitkan kontrak pembelian di awal (forward contracting) dengan acuan harga dasar (floor price guarantee).

Langkah 2: Pemuda Tani & Koperasi (Tahap Operasional / On-Farm)

Mengonsolidasi lahan-lahan kecil milik warga (land aggregation) melalui pola corporate farming; Menyusun jadwal tanam presisi (calendar planting) dan sistem pelacakan digital (traceability).

Langkah 3: Pemerintah & Lembaga Keuangan (Tahap Enabler / Pendukung)

Menyediakan fasilitasi infrastruktur rantai dingin (cold chain) dan jaringan irigasi; Menyalurkan Kredit Usaha Rakyat (KUR), penjaminan risiko, dan asuransi pertanian.

Dengan formula 3Es, wajah pertanian akan berubah total menjadi sektor yang keren bagi generasi digital:

1. Employment (Lapangan Kerja) – Pertanian Bukan Cuma Soal Mencangkul

Perlu ada pemahaman baru bahwa bekerja di sektor pertanian tidak selalu berarti memegang cangkul di bawah terik matahari. Rantai nilai pertanian modern membuka spektrum pekerjaan baru yang sangat luas dan relevan dengan minat generasi digital. Anak muda dapat mengambil peran sebagai operator drone penyemprot pupuk presisi, teknisi sensor tanah berbasis Internet of Things (IoT), ahli manajemen logistik rantai dingin (cold chain), desainer kemasan produk kreatif, hingga quality control inspector yang memastikan produk desa memenuhi standar industri atau pasar ekspor.

2. Entrepreneurship (Kewirausahaan) – Mencetak Agripreneurs Berbasis Demand*

Generasi muda hari ini memiliki naluri wirausaha yang tinggi. Lewat pembentukan *Inkubator Bisnis Pertanian Desa (IBPD), anak muda tidak diajar membuat usaha secara spekulatif, melainkan menyusun rencana bisnis (business plan) berdasarkan pesanan nyata dari industri. Selama 1 hingga 2 tahun, mereka didampingi mulai dari tata kelola produksi, pengurusan izin edar, hingga kemudahan akses pembiayaan yang disesuaikan dengan siklus panen komoditas mereka.

3. Empowerment (Pemberdayaan) – Posisi Tawar yang Setara

Anak muda akan bertahan di desa jika mereka merasa memiliki peran dan dihargai. Melalui Forum Pemuda Tani Desa yang diakui secara legal, suara mereka dilibatkan langsung dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan Desa (Musrenbangdes) untuk memastikan alokasi anggaran desa mendukung ruang tumbuh pemuda.

Selain itu, konsolidasi pemuda ke dalam wadah aliansi atau koperasi memberi mereka posisi tawar yang kuat saat bernegosiasi harga dan syarat pembayaran (payment terms) dengan perusahaan-perusahaan besar.

Belajar dari Rwanda, Vietnam, Kolombia

Konsep regenerasi petani melalui formula 3Es (Employment, Entrepreneurship, Empowerment) dan penyatuan rantai nilai terintegrasi yang digagas Prof. Rokhmin Dahuri, bukanlah sekadar teori di atas kertas. Merujuk pada laporan IFAD (International Fund for Agricultural Development) 2019 dan 2020, ia membeberkan bukti nyata keberhasilan di tiga benua: Afrika, Asia, dan Amerika Latin.

1. AFRIKA: Rwanda - Dari Petani Tradisional Jadi Eksportir Kopi Kelas Dunia

Rwanda yang dikenal melalui program Poverty Reduction and Rural Transformation berhasil merekayasa masa depan petani mudanya dari pola tradisional menjadi pelaku agribisnis bernilai tinggi pada rantai pasok kopi, teh, dan hortikultura ekspor.

Secara kualitatif, anak muda di sana tidak lagi disuruh mencangkul, melainkan dilatih menduduki posisi teknis keren seperti teknisi uji laboratorium tanah, pengelola rumah kaca (greenhouse), dan auditor sertifikasi ekspor Fair-Trade. Pemerintahnya memfasilitasi inkubator bisnis yang menghubungkan kelompok usaha muda langsung dengan perusahaan eksportir (off-taker) lewat kontrak pasokan jangka panjang. Bahkan dibentuk National Youth Council in Agriculture yang diberi hak suara resmi dalam menentukan alokasi anggaran desa.

Hasil kuantitatifnya mencengangkan:

• Tercipta lebih dari 65.000 lapangan kerja baru berbasis rantai nilai agribisnis bagi pemuda desa. • Lebih dari 12.000 usaha mikro agribisnis pemuda berhasil didirikan dan dinilai layak mendapat pendanaan bank (bankable). • Akses kredit bagi petani muda melonjak dari di bawah 15% menjadi lebih dari 45%.

2. ASIA: Vietnam - Petani Gurem Jadi Juragan Smart Farming di Delta Mekong

Di kawasan Delta Sungai Mekong, Vietnam menjalankan program Climate-Smart Agricultural Value Chain Development. Mereka mentransformasi pemuda dari petani gurem spekulatif menjadi agripreneurs berbasis teknologi adaptasi iklim pada buah tropis, beras ramah lingkungan, dan akuakultur.

Anak muda Vietnam kini berperan sebagai operator teknologi smart farming, pengelola chilled logistics (rantai dingin), dan spesialis pemasar e-commerce farm-to-table. Koperasi pemuda dihubungkan langsung dengan pabrik pengolahan dan ritel modern melalui skema contract farming bersertifikat GAP. Bahkan pemuda etnis minoritas dan perempuan desa dilibatkan aktif dalam dewan pengambil keputusan.

Capaian program:

• Menjangkau dan meningkatkan kualitas hidup lebih dari 60.000 keluarga pemuda tani. • Mengunci kuota wajib 30% partisipasi aktif pemuda dan perempuan dalam setiap alokasi modal kerja. • Pendapatan bersih usaha tani pemuda meningkat 35–50% setelah terhubung dengan jaringan off-taker industri.

3. AMERIKA LATIN: Kolombia - Mantan Daerah Konflik Jadi Sentra Kakao dan Kopi Spesial

Kolombia melalui Building Rural Opportunities Project merangkul pemuda desa di kawasan pasca-konflik agar tidak bermigrasi ke kota dengan masuk ke rantai nilai kakao, kopi spesial, dan buah ekspor.

Pemuda desa ditransformasi menjadi Agri-tech Specialists yang bertugas menguji mutu kopi (cupping/grading) serta mengelola keterlacakan rantai pasok berbasis blockchain dari kebun hingga pembeli internasional. Koperasi Pemuda Tani dihubungkan langsung dengan eksportir dunia tanpa tengkulak. Mereka bahkan membentuk Rural Youth Alliance Colombia yang diajak Kementerian Pertanian merumuskan kebijakan kepemilikan lahan bagi generasi muda.

Hasilnya:

• Menyerap lebih dari 35.000 pemuda pedesaan ke rantai kerja pascapanen dan pengolahan. • Membentuk lebih dari 8.500 usaha agribisnis pemuda baru yang sukses menembus sertifikasi ekspor organik dan Fair Trade. • Volume penjualan kolektif pemuda melonjak hingga 300% dalam 4 tahun.

Bisa Dimulai Hari Ini dari Dana Desa

Pelajaran dari Rwanda, Vietnam, dan Kolombia menegaskan satu hal: merancang regenerasi petani melalui gagasan 3Es tidak bisa berdiri sendiri. Kuncinya adalah perjodohan antara kreativitas wirausaha pemuda dengan kepastian kontrak industri, yang dipayungi infrastruktur pemerintah dan penguatan posisi tawar.

Menurut Prof Rokhmin, gerakan ini tidak perlu menunggu regulasi rumit di pusat. Pemerintah Desa bisa memulai hari ini dengan tiga langkah sederhana: sisihkan Dana Desa untuk satu unit IBPD, rangkul 10-20 pemuda potensial dan hubungkan langsung dengan satu off-taker lokal seperti supermarket atau restoran, dan tantang mereka mengelola komoditas unggulan sesuai pesanan pasar.

"Masa depan kedaulatan pangan Indonesia tidak lagi terletak pada ujung cangkul yang digerakkan secara spekulatif di bawah terik matahari, melainkan pada jemari kreatif generasi muda yang menguasai teknologi, didukung kepastian pasar industri, dan peduli pada kelestarian bumi," tegas Ketua Umum Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI).

Ia berharap konsep yang sudah berjalan di klaster-klaster tertentu ini segera diintensifkan menjadi gerakan nasional, karena harapannya ada pada Generasi Muda Tani, bukan petani hari ini yang sudah berusia di atas 50 tahun.

Peran Pemerintah: Menjadi Jembatan dan Pelindung

Sinergi antara pemuda tani dan industri tidak akan berjalan seimbang tanpa hadirnya pemerintah sebagai pembuat kebijakan dan pelindung risiko. Ada empat langkah nyata yang bisa diambil pemerintah:

1.Fasilitasi Sistem Rantai Pasok Tertutup (Closed-Loop): Bantuan benih atau alat mesin pertanian tidak lagi dibagikan begitu saja secara lepas, melainkan diikat dengan kemitraan industri yang jelas.

2.Digitalisasi Informasi Pasar: Menyediakan platform data market intelligence yang memetakan ketersediaan stok, proyeksi panen raya, dan kebutuhan industri secara real-time.

3.Insentif bagi Industri: Memberikan kemudahan perizinan atau potongan pajak (tax deduction) bagi perusahaan pangan yang terbukti konsisten menyerap produk pemuda tani lokal.

4.Mitigasi Risiko: Menyiapkan BUMN atau BUMD Pangan sebagai pembeli siaga (Buyer of Last Resort) saat terjadi fluktuasi harga ekstrem, serta memperluas perlindungan asuransi pertanian dari risiko gagal panen akibat cuaca.

Menurut Prof. Rokhmin, perubahan besar ini tidak harus menunggu regulasi rumit di pusat. Pemerintah Desa bisa memulainya hari ini dengan 3 langkah sederhana: (1) Sisihkan sebagian Dana Desa untuk mendirikan satu unit Inkubator Bisnis Pertanian Desa (IBPD), (2) Rangkul 10-20 pemuda potensial dan hubungkan langsung dengan satu off-taker lokal seperti supermarket atau restoran, dan (3) Tantang mereka memetakan komoditas unggulan desa sesuai pesanan pasar yang sudah pasti.

Masa depan kedaulatan pangan Indonesia, tegasnya, tidak lagi terletak pada ujung cangkul yang digerakkan secara spekulatif di bawah terik matahari, melainkan pada jemari kreatif generasi muda yang menguasai teknologi, didukung kepastian pasar industri, dan peduli pada kelestarian bumi. Mungkin konsep ini telah dilaksanakan pada klaster-klaster tertentu. "Sudah saatnya lebih diintensifkan menjadi gerakan nasional, karena tantangannya sudah di depan mata, dan harapannya ada pada Generasi Muda Tani, bukan Petani Hari Ini yang sudah berusia di atas 50 tahun ke atas. Semoga," pungkas Ketua Umum Gerakan Nelayan Tani Indonesia (GNTI) ini.

Komentar