Agus Salim, Kecerdasan yang Membela Republik
ASKARA - Republik Indonesia masih sangat muda ketika dunia belum sepenuhnya percaya bahwa kemerdekaannya akan bertahan. Di tengah tekanan Belanda, kekuatan militer yang terbatas, dan diplomasi internasional yang rumit, Haji Agus Salim tampil membawa modal yang tidak dapat diukur dengan uang atau senjata: pengetahuan, bahasa, keberanian berpikir, pengalaman politik, serta kemampuan meyakinkan bangsa lain bahwa Indonesia bukan sekadar negeri yang memproklamasikan kemerdekaan, tetapi bangsa yang berhak menentukan nasibnya sendiri.
Haji Agus Salim lahir di Koto Gadang, Sumatera Barat, pada 8 Oktober 1884 dengan nama Masjhoedoelhaq Salim. Ia tumbuh dalam lingkungan keluarga yang memberinya kesempatan memperoleh pendidikan relatif baik pada masa kolonial. Kesempatan itu tidak berhenti menjadi keuntungan pribadi. Ia mengubah pendidikan menjadi jalan untuk membaca dunia, memahami kekuasaan, dan pada akhirnya menentang sistem kolonial yang sejak awal membatasi kebebasan bangsanya.
Agus Salim dikenal sebagai seorang poliglot yang menguasai banyak bahasa. Kemampuan berbahasa Inggris, Belanda, Jerman, Prancis, Arab, Turki, dan bahasa lainnya bukan sekadar kemampuan teknis. Bahasa memberinya akses terhadap gagasan, literatur, budaya dan cara berpikir bangsa lain. Dalam perjalanan hidupnya, kemampuan tersebut menjadi modal penting ketika perjuangan Indonesia harus berpindah dari ruang pergerakan nasional menuju arena diplomasi internasional.
Pada 1915, Agus Salim bergabung dengan Sarekat Islam. Di lingkungan pergerakan itu, ia bertemu dengan tokoh-tokoh penting seperti HOS Tjokroaminoto dan terlibat dalam perdebatan tentang Islam, nasionalisme, pendidikan, masyarakat dan masa depan bangsa. Ia menulis, berpidato, berdiskusi dan berdebat. Julukan Singa Podium kemudian melekat kepadanya bukan karena ia sekadar pandai meninggikan suara, tetapi karena ia mampu mempertahankan gagasan dengan argumentasi yang tajam.
Agus Salim juga memiliki cara tersendiri menghadapi ejekan. Ketika jenggotnya pernah menjadi bahan olok-olok, ia menjawab dengan humor yang sekaligus mengandung sindiran. Kisah semacam itu penting bukan karena kelucuannya semata, melainkan karena memperlihatkan karakter seorang intelektual yang tidak mudah kehilangan kendali. Ia mampu menjadikan humor sebagai senjata sosial tanpa harus mengubah perdebatan menjadi permusuhan.
Dari sinilah kita dapat memahami mengapa Agus Salim menjadi penting dalam sejarah perjuangan Indonesia. Ia tidak hanya seorang politisi yang mampu berbicara. Ia adalah intelektual yang memahami bahwa perjuangan kemerdekaan membutuhkan kemampuan membaca perubahan zaman. Ketika kolonialisme tidak hanya bekerja dengan senjata, tetapi juga dengan hukum, administrasi, propaganda dan diplomasi, perlawanan pun harus mampu bergerak dalam bahasa yang sama.
Proklamasi 17 Agustus 1945 membuka babak baru. Kemerdekaan telah diumumkan, tetapi pengumuman belum otomatis menghasilkan pengakuan internasional. Republik harus membuktikan bahwa dirinya memiliki pemerintahan, wilayah, rakyat, kemampuan mempertahankan diri, sekaligus legitimasi untuk berdiri sebagai negara. Di sinilah perjuangan Agus Salim menemukan medan yang berbeda dari panggung politik sebelumnya.
Ia dipercaya menduduki berbagai posisi penting dalam pemerintahan Republik. Tugasnya bukan ringan. Indonesia sedang menghadapi tekanan militer Belanda, sementara dunia internasional masih menilai konflik Indonesia dari berbagai kepentingan politik. Republik membutuhkan orang yang mampu menjelaskan persoalan Indonesia kepada dunia dengan bahasa yang dapat dipahami oleh para diplomat asing.
Agus Salim kemudian menjadi salah satu tokoh penting dalam misi diplomasi Indonesia ke negara-negara Arab. Pada 10 Juni 1947, di Kairo, ditandatangani Perjanjian Persahabatan Indonesia-Mesir. Peristiwa itu menjadi tonggak penting karena Mesir memberikan pengakuan de jure terhadap Republik Indonesia. Dukungan tersebut kemudian berkembang melalui hubungan dengan sejumlah negara Arab lainnya.
Keberhasilan itu tidak boleh dipahami sebagai karya satu orang. Diplomasi Indonesia merupakan kerja kolektif yang melibatkan Sutan Sjahrir, Agus Salim, A.R. Baswedan, Nazir Sutan Pamuncak, H.M. Rasjidi, Abdul Kadir dan banyak tokoh lainnya. Namun Agus Salim memiliki posisi istimewa karena keluasan wawasan, pengalaman politik dan kemampuan bahasa yang membuatnya mampu menjembatani kepentingan Indonesia dengan lingkungan diplomatik negara lain.
Pengakuan Mesir mempunyai arti yang jauh lebih besar daripada sebuah dokumen bilateral. Republik yang baru lahir memperoleh legitimasi dari negara lain pada saat Belanda masih berusaha mengembalikan kekuasaan kolonialnya. Diplomasi itu menunjukkan bahwa perjuangan kemerdekaan Indonesia tidak lagi hanya menjadi persoalan antara Indonesia dan Belanda. Ia mulai memperoleh tempat dalam percakapan internasional mengenai kemerdekaan, kolonialisme dan hak suatu bangsa menentukan masa depannya.
Ketika Belanda melancarkan Agresi Militer I pada Juli 1947, persoalan Indonesia semakin masuk ke forum internasional. Agus Salim bersama Sutan Sjahrir menjadi bagian dari delegasi Indonesia yang hadir dalam persidangan Dewan Keamanan PBB di Lake Success, New York. Di tempat itu Republik Indonesia menghadapi persoalan yang jauh lebih besar daripada sekadar bagaimana memenangkan perdebatan. Indonesia harus memenangkan perhatian dunia.
Di forum tersebut, Agus Salim tidak memiliki kekuatan ekonomi seperti negara besar. Ia juga tidak membawa kemampuan militer yang dapat digunakan sebagai ancaman. Kekuatan yang tersedia baginya adalah argumentasi. Ia memahami bahwa Indonesia harus menjelaskan persoalannya dalam kerangka yang dapat diterima masyarakat internasional: bahwa kemerdekaan bukan hadiah, bahwa kolonialisme bukan persoalan domestik semata, dan bahwa konflik harus diselesaikan dengan mempertimbangkan hak bangsa Indonesia.
Pada 25 Agustus 1947, Dewan Keamanan PBB mengeluarkan Resolusi 31 yang menawarkan jasa baik kepada pihak-pihak yang bersengketa. Dari proses itu kemudian lahir Komisi Jasa Baik, yang melibatkan Australia sebagai pilihan Indonesia, Belgia sebagai pilihan Belanda, dan Amerika Serikat sebagai anggota ketiga. Ini merupakan perkembangan penting karena konflik Indonesia-Belanda semakin memperoleh mekanisme penyelesaian dalam ruang internasional.
Di sinilah kehebatan Agus Salim seharusnya ditempatkan. Bukan pada kisah bahwa seluruh delegasi dunia terdiam karena melihat jas lusuhnya. Bukan pula pada cerita bahwa seorang diplomat seorang diri membuat enam negara mengakui Indonesia. Sejarah yang sebenarnya justru lebih menarik. Seorang tokoh dari republik yang kekuatan materialnya terbatas mampu menggunakan pengetahuan, jaringan, bahasa dan diplomasi untuk memperbesar ruang gerak bangsanya.
Pakaian sederhana Agus Salim boleh menjadi simbol, tetapi jangan sampai simbol itu mengalahkan substansi. Yang membuatnya berharga bukan lusuhnya jas, melainkan tajamnya pikiran. Bukan bututnya sepatu, melainkan jauh langkah perjuangannya. Bukan kemiskinan yang membuatnya besar, melainkan kemampuannya menempatkan kepentingan bangsa di atas kenyamanan pribadi.
Kesederhanaan itu juga terlihat dalam kehidupan sehari-harinya. Agus Salim tidak dikenal sebagai tokoh yang mengejar kemewahan meski pernah menduduki posisi penting dalam pemerintahan. Ia menjalani kehidupan sederhana dan berpindah dari satu rumah kontrakan ke rumah lainnya. Ungkapan Leiden is Lijden, memimpin adalah menderita, sering dikaitkan dengan pandangan hidupnya.
Ungkapan itu menjadi relevan ketika kepemimpinan modern sering dinilai dari fasilitas yang melekat pada jabatan. Agus Salim memberikan ukuran berbeda. Jabatan bukan terutama tentang apa yang dapat diperoleh seseorang, melainkan apa yang sanggup ia tanggung. Kekuasaan bukan pertama-tama tentang kemewahan, tetapi tentang tanggung jawab. Kecerdasan bukan sekadar kemampuan memenangkan perdebatan, tetapi kemampuan menggunakan pengetahuan untuk kepentingan yang lebih besar.
Agus Salim wafat di Jakarta pada 4 November 1954 dalam usia 70 tahun. Pemerintah kemudian menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 657 Tahun 1961. Namanya diabadikan menjadi nama jalan di berbagai daerah. Namun sesungguhnya, penghargaan terbesar terhadap Agus Salim bukanlah nama jalan atau gelar kepahlawanan. Penghargaan terbesar adalah ketika generasi sesudahnya memahami alasan mengapa perjuangannya penting.
Ia mengajarkan bahwa bangsa yang baru lahir tidak harus minder di hadapan bangsa yang lebih kuat. Keterbatasan material tidak harus menjadi alasan untuk kehilangan martabat. Ketika tidak memiliki banyak uang, sebuah bangsa masih dapat memiliki gagasan. Ketika tidak memiliki kekuatan militer yang sebanding, ia masih dapat memiliki argumentasi. Ketika belum mempunyai pengaruh besar, ia masih dapat membangun kepercayaan melalui diplomasi.
Karena itu, kisah Agus Salim tidak seharusnya berhenti pada cerita tentang jas lusuh dan sepatu butut. Itu hanya ornamen yang mudah diingat. Inti perjuangannya jauh lebih dalam: ia menunjukkan bagaimana ilmu dapat menjadi kekuatan politik, bahasa dapat menjadi jembatan diplomasi, keberanian berpikir dapat menjadi modal perjuangan, dan kesederhanaan dapat berjalan bersama martabat.
Pada akhirnya, Agus Salim meninggalkan pertanyaan yang masih relevan bagi Indonesia hari ini. Apa arti sebuah jabatan jika kecerdasan hanya digunakan untuk memperbesar kepentingan pribadi? Apa arti kekuasaan jika fasilitas menjadi lebih penting daripada tanggung jawab? Dan apa arti pendidikan jika pengetahuan tidak pernah dikembalikan kepada masyarakat?
Agus Salim tidak meninggalkan warisan berupa kemewahan. Ia meninggalkan sesuatu yang lebih sulit diwariskan: teladan bahwa kecerdasan harus mempunyai arah, kekuasaan harus mempunyai tanggung jawab, dan perjuangan harus mempunyai tujuan. Republik yang dahulu ia bela dengan diplomasi kini telah jauh lebih besar. Tantangannya pun berubah. Tetapi ukuran kepemimpinannya tetap sederhana: seberapa besar kemampuan yang kita miliki digunakan untuk kepentingan bangsa, bukan sekadar untuk kepentingan diri sendiri.

Komentar