Menko PM Lihat Langsung Dampak Pemberdayaan PNM di Gresik
ASKARA - Pemberdayaan masyarakat tidak selalu dimulai dari sesuatu yang besar. Di Desa Watuagung, Kecamatan Bungah, Kabupaten Gresik, perubahan justru tumbuh dari usaha-usaha sederhana yang dijalankan perempuan di rumah, dari lapak kecil hingga produk olahan hasil laut.
Hal tersebut terlihat saat Menteri Koordinator Pemberdayaan Masyarakat Republik Indonesia Muhaimin Iskandar mengunjungi Desa Watuagung, kawasan Pulau Mengare, Gresik. Di tengah masyarakat yang kehidupannya lekat dengan potensi perikanan, tambak, dan hasil laut, Menko PM melihat langsung bagaimana akses pembiayaan dan pemberdayaan PNM membantu usaha ultra mikro mampu mengembangkan usaha sekaligus memperkuat ekonomi keluarga.
Kawasan Mengare sendiri memiliki potensi ekonomi yang besar. Masyarakatnya selama ini menggantungkan kehidupan pada perikanan, pertambakan, perdagangan hasil laut, serta berbagai produk olahan. Di Desa Watuagung terdapat 3.048 penduduk dalam 1.022 kepala keluarga berdasarkan data 2023. Sementara secara internal, PNM mencatat sekitar 2.000 nasabah di kawasan Mengare.
di watu agung jumlah perempuan 1.492 nasabahnya ada 878.
Besarnya jumlah nasabah tersebut menunjukkan bahwa potensi ekonomi masyarakat ultra mikro di kawasan pesisir ini sangat besar untuk terus dikembangkan.
Bagi PNM, pembiayaan menjadi pintu masuk. Namun, pemberdayaan menjadi bagian penting untuk memastikan usaha nasabah tidak berhenti pada kemampuan mendapatkan modal, tetapi terus berkembang dan memiliki nilai tambah.
Salah satu contohnya adalah Lisminah, perempuan yang mempertahankan usaha pembuatan terasi secara turun-temurun. Dengan dukungan PNM Mekaar, usahanya berkembang dari sisi kapasitas produksi, kualitas produk, hingga pemasaran. Usaha yang sebelumnya menjadi aktivitas ekonomi keluarga kini berkembang menjadi sumber penghasilan utama sekaligus membuka peluang kerja bagi masyarakat sekitar.
Kisah tersebut menjadi gambaran bahwa naik kelas bagi nasabah PNM Mekaar bukan semata-mata tentang meningkatnya plafon pembiayaan. Namun mampu meningkatkan produksi, memperluas pasar, memperbaiki kualitas produk, memiliki legalitas, membangun merek, dan pada akhirnya menciptakan manfaat ekonomi yang lebih luas.
Karena itu, PNM mendorong pendekatan pemberdayaan melalui klasterisasi usaha. Di Mengare, potensi hasil laut masyarakat tidak hanya diarahkan untuk dijual sebagai komoditas mentah, tetapi dikembangkan menjadi produk olahan yang memiliki nilai tambah. Pendampingan mencakup proses produksi, sertifikasi halal, legalitas usaha, branding, hingga pengemasan. Pendekatan tersebut membuka peluang agar produk lokal dapat memiliki daya saing dan pasar yang lebih luas.
Dukungan terhadap pendekatan pemberdayaan tersebut juga mendapat perhatian dari Menko PM. Dalam kunjungannya, Muhaimin melihat bahwa penguatan masyarakat tidak cukup dilakukan dengan membuka akses pembiayaan, tetapi perlu dilanjutkan dengan pendampingan yang membuat usaha masyarakat semakin produktif dan memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.
“Pemberdayaan harus membuat masyarakat tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga mampu berkembang dan naik kelas. Apa yang dilakukan PNM melalui pembiayaan, pendampingan, klasterisasi usaha, hingga penguatan kapasitas masyarakat merupakan bagian penting untuk memastikan potensi yang ada di desa dapat menjadi sumber kesejahteraan bagi keluarga dan masyarakat,” ujar Muhaimin.
Pendekatan tersebut menjadi semakin relevan bagi masyarakat pesisir seperti Mengare. Sebab, potensi ekonomi sebenarnya telah tersedia di sekitar masyarakat.
Tantangannya adalah bagaimana potensi tersebut diolah menjadi kegiatan usaha yang berkelanjutan dan memberikan manfaat lebih besar.
Pemberdayaan PNM juga tidak berhenti pada peningkatan ekonomi orang tua. Melalui program Ruang Pintar, PNM menghadirkan ruang belajar dan pengembangan kapasitas bagi keluarga serta anak-anak nasabah PNM Mekaar yang memiliki keterbatasan akses terhadap pembelajaran tambahan. Mereka mendapatkan pendampingan belajar secara gratis dengan dukungan fasilitas yang memadai untuk membantu meningkatkan semangat belajar dan mengembangkan potensi.
Kehadiran Ruang Pintar menunjukkan bahwa pemberdayaan memiliki dimensi yang lebih panjang. Ketika seorang ibu diperkuat melalui usaha, manfaatnya tidak berhenti pada pendapatan keluarga hari ini.
Ada kesempatan bagi anak-anak untuk mendapatkan akses belajar yang lebih baik, sekaligus membangun fondasi agar generasi berikutnya memiliki peluang yang lebih besar.
Inilah wajah pemberdayaan yang terlihat di Mengare.
Pembiayaan memberikan kesempatan untuk memulai dan mengembangkan usaha. Pendampingan membantu nasabah memperbaiki kapasitas dan kualitas usaha.
Klasterisasi membuka peluang untuk meningkatkan nilai tambah produk lokal.
Sementara Ruang Pintar memperluas manfaat pemberdayaan hingga ke pendidikan anak-anak nasabah.
Direktur Utama PNM Kindaris meyakini ukuran keberhasilan pemberdayaan bukan hanya berapa banyak pembiayaan yang tersalurkan, tetapi sejauh mana pembiayaan itu mampu menciptakan perubahan dalam kehidupan masyarakat.
“Perubahan itu hadir dalam bentuk yang sederhana namun nyata, usaha yang tumbuh, pendapatan keluarga yang menguat, lapangan kerja yang terbuka, dan anak-anak yang mendapatkan kesempatan belajar lebih baik,” jelas Kindaris.
Di tengah potensi besar Pulau Mengare, cerita tersebut memperlihatkan bahwa ketika masyarakat mendapatkan akses dan pendampingan yang tepat, usaha ultra mikro dapat menjadi lebih dari sekadar sumber penghasilan.
Ia dapat menjadi titik awal bagi keluarga untuk tumbuh, bagi masyarakat untuk berdaya, dan bagi potensi desa untuk berubah menjadi kekuatan ekonomi. (Kelana Muda)

Komentar