Ustadz Harun Al Rasyied: Menutup Tahun Hijriyah dengan Laba Dunia atau Bekal Akhirat?
ASKARA - Menjelang berakhirnya bulan Dzulhijjah, Wakil Ketua Umum Yayasan Madani Al Washiyyah, Ustadz Muhammad Harun Al Rasyied, mengingatkan bahwa hidup bukan hanya tentang mengejar dunia, tetapi juga menyiapkan bekal menuju akhirat. Banyak dari kita berlari mengejar target profesional, membukukan profit bisnis, menyelesaikan proyek, tanpa sadar bahwa usia kita perlahan berkurang.
Dalam khutbah Jumat di Masjid Al-Hadii, Kementerian PMK (Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan) ini (20/6), beliau mengajak umat untuk merenung dan mengevaluasi orientasi hidup.
"Allah tidak melarang kita sukses di dunia. Tapi jangan lupa, akhirat jauh lebih kekal dan berharga," ujarnya.
Ia mengutip sabda Rasulullah SAW dalam HR. Muslim, bahwa dunia dibandingkan akhirat hanyalah seperti setetes air di ujung jari dibandingkan seluruh lautan.
“Artinya, sehebat apa pun pencapaian dunia kita, tetap tak ada artinya jika melalaikan akhirat,” ujarnya.
Ustadz Harun mengajak umat Islam untuk merenung di penghujung bulan Dzulhijjah, akhir tahun dalam kalender hijriyah. Ia mengingatkan bahwa kesibukan manusia mengejar target duniawi kerap melalaikan urusan akhirat.
"Biasanya di akhir tahun, kita sibuk menutup laporan kerja, mengejar omset bisnis, menuntaskan program. Tapi, pernahkah kita mengevaluasi amal untuk akhirat?" ujarnya.
Mengutip Surah Al-Hasyr ayat 18, Ustadz Harun menegaskan pentingnya mengoreksi diri: "Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat)."
Ia menambahkan, setiap detik yang berlalu sejatinya mendekatkan kita pada kematian. Maka akhir tahun hijriyah harus menjadi momen koreksi dan muhasabah, bukan sekadar perayaan atau pencapaian duniawi.
Dalam Surah Al-Baqarah ayat 200-201, Allah membagi manusia menjadi dua kelompok: mereka yang hanya mengejar dunia, dan mereka yang memohon kebaikan dunia dan akhirat. "Jangan sampai kita termasuk kelompok pertama—yang hanya memburu dunia tapi bangkrut di akhirat," tegasnya.
Ustadz Harun juga mengingatkan dua kelompok manusia sebagaimana dijelaskan dalam Al-Baqarah ayat 200-201: mereka yang hanya meminta dunia dan terlupa akhirat, dan segelintir yang memohon kebaikan di dunia dan akhirat sekaligus. Rasulullah SAW pun memberi gambaran nyata: dunia hanyalah setetes air dari samudera luasnya akhirat.
"Kelompok pertama adalah mereka yang hanya berfokus pada kesuksesan di dunia, dan mengabaikan kehidupan
akhirat," tuturnya.
Allah tidak melarang kita untuk berusaha sukses di kehidupan dunia, namun jangan kita lupa bahwa akhirat itu, jauh lebih kekal dan berharga.
Rasulullah SAW memberikan perbandingan nilai antara kehidupan dunia dengan akhirat
”Maka di antara manusia ada orang yang berharap: "Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia", dan tiadalah
baginya bahagian (yang menyenangkan) di akhirat.”
"Demi Allah, tidaklah dunia dibandingkan akhirat kecuali seperti seseorang dari kalian mencelupkan jarinya ke laut
kemudian mengangkatnya kembali, maka perhatikanlah hanya sebanyak apa tetesan air yang tersisa di jarinya
dibandingkan dengan seluruh air di lautan?". (Hr. Muslim)
Kelompok kedua, yaitu hanya sebagian kecil dari manusia yang bisa seimbang antara berikhtiar untuk kesuksesan dunianya, juga mempersiapkan keselamatan akhiratnya
”Dan di antara mereka ada orang yang berdoa: "Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di
akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka"”.
Dan allah tutup rangkaian ayat ini dengan
”Mereka itulah orang-orang yang mendapat bahagian daripada yang mereka usahakan; dan Allah sangat cepat perhitungan-Nya.
Keadaan kita di dunia dan akhirat tergantung pada bagaimana upaya yang kita lakukan. Oleh karena itu, di momentum akhir tahun hijriyah ini, mari kita evaluasi diri kita masing-masing; apa saja upaya yang sudah kita lakukan untuk dunia dan akhirat kita.
"Mari kita kembali luruskan orientasi hidup kita; untuk sukses di dunia, dan selamat di akhirat," imbuhnya.
"Mari kita jadi golongan kedua. Sukses di dunia, selamat di akhirat," imbuhnya.
Mari kita luruskan orientasi hidup: berikhtiar meraih sukses dunia sambil tak alpa mempersiapkan keselamatan di akhirat. Semoga Allah menuntun hati kita, menetapkan langkah dalam istiqamah, dan mengizinkan kita menutup tahun ini dengan pencapaian terbaik dunia–akhirat.
Ustadz Harun menutup dengan ajakan muhasabah akhir tahun hijriyah: mengevaluasi amal, meluruskan niat, dan memperbarui semangat menuju hidup yang seimbang dunia-akhirat.
"Keuntungan sejati bukan hanya angka di laporan keuangan, tapi pahala yang dicatat di sisi Allah," pungkasnya.
Ustadz Harun berharap, mudah-mudahan Allah luruskan hati dan mindset kita, untuk bisa menyeimbangkan dunia dan akhirat. Dan mudah mudahan Allah berikan kita istiqamah untuk mewujudkan hal tersebut, sehingga kita bisa menutup tahun ini maupun perjalan hidup kita dengan hasil yang paling memuaskan. Aamiin ya rabbal alamiin.
"Allahummaj’al yaumana khairan min amsina, waj’al ghodana khairan min yaumina, wa ahsin ‘aqibatan fil umuri kulliha, wa ajirna min khizyid dunya wa ‘adzabil akhirah. Rabbana atina fiddunya hasanah wa fil akhirati hasanah wa qina ‘adzaban nar."

Komentar