Jangan Takut, Aku ini
ASKARA - Ada istilah setelah orang mampu mengatasi badai hidup: dikhianati orang yang dikasihi, dilukai perasaan oleh sahabat dan kerabat, jatuh dalam usaha, difitnah orang terdekat .... Ketika peristiwa itu sudah dilalui dan saat ini orang tersebut penuh senyum, gembira ada dalam raut wajah orang menyebut: Orang itu sudah berdamai dengan dirinya.
Para murid Yesus pun mengalami peristiwa itu saat: perahu dihantam gelombang dan angin bertiup melawan arah. Namun para rasul yang diwakilkan Petrus hatinya sempat berlum berdamai dengan dirinya karena belum mengandalkan Yesus.
Kalau pun persoalan belum selesai dan kalau pun permohonan doa belum terwujud, ataupun usaha dan perbuatan baik belum juga membuahkan hasil, narasi Kitab Suci tetaplah memberi peneguhan. Yesus tidak segera menghentikan badai itu. Ia justru datang kepada para murid di tengah badai.
Inilah kekuatan Sabda: iman bukanlah jaminan bahwa hidup kita tidak akan mengalami badai. Iman adalah keyakinan bahwa di tengah badai, Tuhan tidak pernah meninggalkan kita.
Disitulah kaum beriman menemukan kekuatan Tuhan, bukan dari sesuatu yang spektakuler, namun dari hal yang lembut, yang biasa yang datang di keseharian hidup.
Tuhan hadir justru dalam kesederhanaan, ketulusan, kedekatan pada orang-orang kecil.
Kehadiran Tuhan bukan dalam mukjizat besar, melainkan lewat pengalaman perjumpaan yang mengubah cara pandang, cakrawala berpikir hingga mengubah pola pola pandang, pola sikap dan pola hidup.
Tuhan selalu mengajak manusia berbicara melalui sesuatu yang jauh lebih sederhana: melalui keheningan doa, melalui keluarga yang tetap setia mendampingi, melalui seorang sahabat, melalui orang kecil yang kita jumpai, bahkan melalui hati nurani yang berbisik lembut.
Tuhan tidak selalu menghilangkan badai. Kadang-kadang Tuhan justru mengajar kita menemukan suara-Nya di tengah badai.
Hari ini Yesus seperti membisikan kepada para beriman: “Tenanglah! Aku ini, jangan takut!”
Gelombang laut tidaklah. Anginnya tidak berubah. Yang berubah adalah arah pandangan Petrus. Pada mulanya mata Petrus tertuju kepada Yesus, ia mampu berjalan. Namun, saat matanya dikuasai oleh badai, ia mulai khawatir, takut tenggelam.
Kadang persoalan terbesar kita bukanlah besarnya gelombang, melainkan karena cara kita yang terlalu lama memandang gelombang dan terlalu sedikit memandang Tuhan.
Dan ketika Petrus tenggelam, ia mengucapkan doa yang sangat pendek:
“Tuhan, tolonglah aku!”
Tidak ada kalimat indah. Tidak ada rumusan teologis panjang. Hanya jeritan seorang manusia yang sadar bahwa dirinya membutuhkan Tuhan.
Dan Injil mengatakan: Yesus segera mengulurkan tangan-Nya.
Saat beriman mulai tenggelam dalam luka, derita dan jurang ketidakpastian dalam hidup masih tahu kepada siapa harus berseru.
Dan ada satu hal lagi yang sangat indah.
Setelah Yesus dan Petrus naik ke perahu, angin pun reda. Para murid kemudian bersujud dan berkata:
Kita mungkin tidak selalu dapat memilih gelombang yang datang, tetapi kita dapat memilih kepada siapa mata kita tertuju.
Maka, carilah suara Tuhan dalam keheningan batin, seperti di kedamaian eksotika alam Banda Neira, di kedalaman laut Banda yang indah dengan taman laut koralnya.
Tetaplah fokus memandang Kristus seperti Santo Petrus.
Dan janganlah malu untuk berteriak: “Tuhan, tolonglah aku!”
Dan Tuhan Yesus menjawab: Tenanglah, Aku ini, jangan Takut.
Salam sehat, berlimpah berkat.
+ Rm Yos Bintoro, Pr

Komentar