Mau Ganti Presiden? Jangan Mainkan Ketakutan Publik!
ASKARA - Advokat dan pegiat kemanusiaan Azas Tigor Nainggolan mengkritik pihak-pihak yang dinilainya memanfaatkan keresahan masyarakat untuk membangun opini politik melalui isu kerusuhan dan gerakan massa. Menurutnya, jika ada keinginan mengganti pemerintahan, hal itu seharusnya dilakukan secara terbuka melalui mekanisme demokrasi, bukan dengan menciptakan suasana yang membuat publik cemas.
Pandangan tersebut disampaikan Azas dalam sebuah tulisan opini yang dipublikasikan di media sosial, menyusul ramainya pemberitaan mengenai rencana Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung meminta pengelola mal membongkar pagar-pagar tinggi yang dipasang di sejumlah pusat perbelanjaan.
Menurut Azas, munculnya pagar-pagar tersebut tidak bisa dilepaskan dari berkembangnya kekhawatiran sebagian kalangan terhadap situasi keamanan. Ia menilai, rasa cemas itu dipicu oleh berbagai isu yang beredar mengenai kemungkinan terjadinya aksi massa besar seperti yang pernah terjadi pada 1996 dan 1998.
"Kalau memang ada yang ingin mengganti Prabowo-Gibran, sampaikan saja secara terbuka. Jangan menggunakan isu-isu yang membuat masyarakat takut atau resah," tulis Azas, Senin (3/8/2026).
Ia menilai sejak beberapa bulan terakhir beredar berbagai narasi tentang "Reformasi Jilid II" yang terus disebarluaskan melalui media sosial. Namun, menurutnya, hingga kini tidak terlihat adanya gerakan politik yang dilakukan secara terbuka oleh pihak-pihak yang mengusung narasi tersebut.
Azas berpendapat bahwa kritik terhadap pemerintah merupakan hal yang wajar dalam demokrasi. Namun, menurutnya, kritik tidak boleh berubah menjadi provokasi yang memanfaatkan kemarahan masyarakat demi kepentingan politik tertentu.
Ia juga mengaitkan kondisi tersebut dengan meningkatnya kekhawatiran pelaku usaha yang memilih memperkuat sistem pengamanan di kawasan bisnis mereka sebagai langkah antisipasi terhadap kemungkinan gangguan keamanan.
Dalam opininya, Azas turut menyinggung berbagai persoalan hak asasi manusia yang hingga kini dinilai belum memperoleh penyelesaian tuntas. Ia mempertanyakan konsistensi sejumlah pihak yang kembali mengangkat isu tersebut menjelang meningkatnya dinamika politik nasional.
Pada bagian akhir tulisannya, Azas melontarkan kritik keras terhadap figur-figur yang dinilainya memiliki ambisi politik namun tidak berani tampil langsung di hadapan masyarakat.
Menurutnya, calon pemimpin bangsa seharusnya memiliki keberanian menyampaikan gagasan secara terbuka, bukan berlindung di balik isu, provokasi, atau memanfaatkan kelompok lain untuk mencapai tujuan politiknya.
"Kalau merasa lebih mampu memimpin bangsa, tampilkan diri, sampaikan program dan gagasan kepada rakyat. Jangan hanya bersembunyi di balik isu dan memanfaatkan kemarahan publik. Bangsa ini membutuhkan pemimpin yang berani, bukan sosok yang hanya bekerja dari balik layar," tegas Azas.
Pernyataan tersebut menjadi bagian dari pandangan pribadi Azas Tigor Nainggolan yang memicu beragam respons di ruang publik. Sebagian mendukung pentingnya menjaga stabilitas nasional, sementara sebagian lainnya menilai perbedaan pandangan politik tetap merupakan bagian yang sah dalam kehidupan demokrasi.

Komentar