Para Kata Nyaris Ulang
OLEH: JAYA SUPRANA
ASKARA - Bahasa Indonesia hemat tapi kreatif. Tidak bikin kata baru, cukup kawinkan kata hidup dengan kata mati. Hasilnya dwilingga semu atau "kata nyaris ulang". Bunyinya mirip, maknanya nampol. Ini bedah kilat beberapa (belum semua!) jagoannya dalam satu tarikan napas.
- Sayur-mayur = sayur + mayur arkais artinya sayur juga, fungsinya kolektif total jadi semua jenis sayuran.
- Lauk-pauk = lauk + pauk arkais artinya lauk juga, fungsinya kolektif total jadi semua jenis lauk prasmanan.
- Huru-hara = huru artinya gerak + hara artinya rusak, digabung jadi rusuh total kacau besar. Khaos morat-marit.
- Kacau-balau = kacau + balau artinya kalut, dua sinonim digandeng jadi amburadul banget penekanan ganda. *
- Mondar-mandir = mondar artinya maju + mandir artinya mundur, antonim digandeng jadi gerak bolak-balik terus. *
- Bolak-balik = bolak artinya putar + balik artinya kembali, antonim ritmis jadi berulang-ulang tanpa henti.
- Compang-camping = compang artinya sobek + camping artinya terkoyak, sinonim kasar jadi hancur lebur berantakan.
- Komat-kamit = komat artinya gumam + kamit artinya bibir bergerak, gumam tertutup jadi ngedumel pelan kayak baca mantra.
- Cuwat-cuwit = onomatopeia burung jadi bersuara kecil-kecil cicit. .
- Gondal-gandul = gondal artinya ayun + gandul artinya gantung, gerak tak seimbang jadi goyang-gantung luntang-lantung.
- Kipat-kipit = gerak ekor anjing
- Asyik-masyik = asyik + masyik dari Arab artinya asyik juga, penguatan bunyi a-i jadi seru banget nagih.
- Ceblang-ceblung = bunyi air dipukul
- Ceplas-Ceplos = ngomong seenak jidat sendiri .
- Plak-plok = plak bunyi tepuk keras + plok bunyi gema penutup, onomatope tangan jadi tepuk tangan berkelanjutan : plak-plok plak-plok.
- Kedap-kedip = mata gatal atau main mata.Juga lampu jika PLN terganggu.
- Plonga-plongo = pura-pura bodoh atau bodoh sungguhan
- Gasrak-gusruk = gegabah
- Tulat-tulit : lirik lagu Gambang Suling mahakarya Ki Narto Sabdho.
- Tunggang-langgang = jatuh-bangun. Terbirit-birit.
Benang merahnya tiga.
Pertama Arkais: mayur, pauk, hara, balau, masyik itu kata Jawa/Kawi/Arab yang
sudah mati kalau sendirian tapi hidup lagi saat digandeng.
Kedua Antonim/Sinonim: mondar-mandir, bolak-balik, compang-camping pakai lawan kata atau padanan kata untuk melipatgandakan makna.
Ketiga Onomatope: plorat-plorot, cuwat-cuwit, ceblang-ceblung, plas-plos, plak-plok, kipat-kipit meniru suara dan gerak biar langsung kebayang.
Namun sebenarnya sukma makna para kata nyaris ulang lebih kompleks serta lebih multi dimensional ketimbang apa yang an sich bisa diungkap oleh perbendaharaan terbatas kata-kata saya.
Kesimpulan : dwilingga semu itu bukti bahasa itu arsitek daur ulang. Dua suku kata beda tapi mirip menghasilkan satu makna berlapis. Hemat kata kaya rasa. Sayur-sayur beda dengan sayur-mayur, balik-balik beda dengan bolak-balik. Yang satu jamak, yang satu totalitas.

Komentar