Om Piet Ceritakan Pengalaman Dampingi Pasien Kanker Jalani Kemoterapi
ASKARA – Pieter Dasion atau yang akrab disapa Om Piet kembali membagikan kisah pengalamannya dalam mendampingi masyarakat yang tengah berjuang menghadapi masalah kesehatan. Kali ini, ia menceritakan pertemuannya dengan seorang perempuan bernama Bibi (bukan nama sebenarnya) yang sedang menjalani pengobatan kanker melalui kemoterapi.
Dalam kisah yang dibagikannya, Om Piet mengatakan Bibi merupakan tetangganya yang sebelumnya meminta bantuan setelah menjalani kemoterapi pertama akibat kanker yang berhubungan dengan kista.
Permintaan tersebut disampaikan melalui ibu Bibi yang sebelumnya pernah mendapatkan bantuan terapi dari Om Piet.
"Anak saya baru pertama kali dikemo. Menurut dokter, salah satu reaksi kemoterapi adalah tangan dan kaki bisa terasa kaku, sehingga harus terus dilatih agar tidak semakin kaku," demikian pesan yang disampaikan ibu Bibi kepada Om Piet.
Bibi merupakan ibu dari dua anak yang masih duduk di bangku sekolah dasar dan bekerja di bidang legal pada sebuah perusahaan multinasional. Ia sebelumnya telah menjalani tindakan medis untuk mengangkat kista dan masih harus mengikuti rangkaian kemoterapi sebanyak enam kali sesuai prosedur dokter.
Om Piet menceritakan, pada pertemuan pertama, ia melakukan terapi dengan pijatan pada telapak tangan dan beberapa bagian tubuh tertentu. Setelah terapi tersebut, Bibi sempat merasa lemas dan pandangannya berkunang-kunang.
Menurut Om Piet, respons tersebut merupakan reaksi tubuh yang ia temui pada sebagian orang yang menjalani terapi pijat.
Pada pertemuan berikutnya, Om Piet melihat kondisi Bibi tampak lebih segar dan bersemangat. Ia juga menyampaikan bahwa hasil pemeriksaan medis yang diterima Bibi menunjukkan beberapa kondisi organ tubuhnya dalam keadaan baik.
"Hasil dokter menyebut organ hati mengalami perubahan menjadi lebih baik. Organ ginjal dan limpa juga dalam kondisi aman," tulis Om Piet dalam catatannya.
Bibi yang sebelumnya merasa khawatir dengan efek kemoterapi, seperti rasa lemah, penurunan nafsu makan, maupun kerontokan rambut, kini berusaha menjalani proses pengobatan dengan lebih optimistis.
Ia bahkan berencana tetap menjalankan aktivitas profesional dengan menghadiri pertemuan regional bidang legal di Kuala Lumpur bersama pendampingan suaminya.
Om Piet menjelaskan, terapi yang dilakukannya merupakan bentuk pendampingan melalui pijatan pada titik-titik tubuh tertentu atau akupresur. Ia menekankan terapi tersebut bukan pengganti pengobatan medis, melainkan berjalan berdampingan dengan penanganan dokter.
"Kemoterapi tetap harus dijalani sesuai anjuran dokter. Terapi pendamping dilakukan untuk membantu menjaga kebugaran dan semangat pasien selama menjalani proses pengobatan," ujarnya.
Bagi Om Piet, setiap pertemuan dengan pasien menjadi pengingat pentingnya memberikan dukungan dan harapan bagi mereka yang sedang berjuang menghadapi penyakit.
"Semangat Bibi, jalani proses kemoterapi dengan kuat. Tetap optimistis dan terus berdoa," katanya.
Pieter Dasion, lulusan Fakultas Teknik Universitas Indonesia dan pensiunan Kompas Gramedia Group, selama ini dikenal membagikan pengalaman terapi akupresur kepada berbagai kalangan sebagai bentuk kepedulian sosial. Ia juga tetap mengingatkan masyarakat agar selalu mengutamakan pemeriksaan serta pengobatan medis dari tenaga kesehatan profesional.

Komentar