Rabu, 01 Juli 2026 | 09:03
COMMUNITY

Shalat Dan Lisan Penjaga Amal

Shalat Dan Lisan Penjaga Amal
Ilustrasi

ASKARA - Di tengah kehidupan yang bergerak begitu cepat, manusia sering kali disibukkan dengan mengejar berbagai bentuk keberhasilan. Ada yang menghabiskan waktunya untuk mencari harta, ada yang berjuang memperoleh kedudukan, dan tidak sedikit yang berusaha membangun citra baik di hadapan manusia. Namun, seorang mukmin menyadari bahwa ukuran keberhasilan yang hakiki bukanlah banyaknya pujian manusia, melainkan diterimanya amal di sisi Allah Subhanahu wa Ta'ala. Sebab, pada hari ketika seluruh manusia berdiri di hadapan Rabb semesta alam, tidak ada yang dapat menyelamatkan selain rahmat Allah dan amal saleh yang dikerjakan dengan ikhlas serta sesuai tuntunan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.

Para ulama menjelaskan bahwa ada amalan-amalan pokok yang menjadi penentu baik atau buruknya perjalanan seorang hamba. Di antara amalan yang sangat menentukan adalah shalat dan menjaga lisan. Keduanya tampak sederhana, tetapi memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap seluruh amal yang lain. Shalat adalah hubungan antara seorang hamba dengan Tuhannya, sedangkan lisan adalah cermin isi hati yang akan menentukan hubungan seorang hamba dengan sesama manusia. Jika keduanya dijaga, maka jalan menuju kebaikan akan terbuka luas. Sebaliknya, jika keduanya rusak, maka kerusakan akan menjalar kepada berbagai sisi kehidupan.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah memberikan peringatan yang sangat jelas tentang kedudukan shalat. Beliau bersabda:

أَوَّلُ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ الصَّلَاةُ فَإِنْ صَلَحَتْ صَلَحَ لَهُ سَائِرُ عَمَلِهِ وَإِنْ فَسَدَتْ فَسَدَ سَائِرُ عَمَلِهِ

"Perkara yang pertama kali dihisab dari seorang hamba pada hari kiamat adalah shalat. Apabila shalatnya baik maka seluruh amalnya pun baik. Apabila shalatnya buruk maka seluruh amalnya pun akan buruk."

Hadis ini mengandung pelajaran yang sangat dalam. Shalat bukan sekadar rutinitas yang menggugurkan kewajiban, tetapi merupakan fondasi bagi seluruh amal kebajikan. Ketika seorang hamba menjaga shalatnya dengan penuh kekhusyukan, memenuhi syarat dan rukunnya, menyempurnakan tuma'ninahnya, serta menghadirkannya dengan hati yang tunduk kepada Allah, maka pengaruhnya akan tampak dalam kehidupan sehari-hari. Ia akan lebih mudah menahan diri dari kemaksiatan, lebih ringan bersedekah, lebih sabar menghadapi ujian, dan lebih ikhlas dalam beramal.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ

"Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar." (QS. Al-Ankabut: 45)

Ayat ini mengajarkan bahwa shalat yang benar akan melahirkan akhlak yang benar. Jika seseorang rajin shalat tetapi lisannya masih gemar menyakiti, tangannya masih mudah berbuat zalim, dan hatinya masih dipenuhi kesombongan, maka sudah sepatutnya ia mengevaluasi kualitas shalatnya. Sebab, shalat bukan hanya gerakan badan, tetapi ibadah yang membentuk jiwa.

Para salafus saleh sangat menjaga shalat mereka. Ketika azan berkumandang, dunia seolah berhenti bagi mereka. Mereka memahami bahwa panggilan itu adalah undangan dari Raja segala raja. Mereka berdiri menghadap kiblat dengan hati yang penuh harap dan takut. Harap akan rahmat-Nya dan takut akan murka-Nya. Kesadaran inilah yang menjadikan shalat mereka sebagai sumber kekuatan dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan.

Selain shalat, ada satu perkara yang sering dianggap ringan, padahal dampaknya sangat besar, yaitu menjaga lisan. Banyak manusia mampu menahan lapar dan dahaga, tetapi tidak mampu menahan ucapan. Padahal, satu kalimat dapat mengangkat derajat seseorang di sisi Allah dan satu kalimat pula dapat menyeretnya ke dalam kebinasaan.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا ۝ يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

"Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barang siapa menaati Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh ia telah memperoleh kemenangan yang besar." (QS. Al-Ahzab: 70-71)

Ayat yang mulia ini menunjukkan hubungan yang sangat erat antara lisan dan amal. Allah tidak hanya memerintahkan orang beriman untuk bertakwa, tetapi juga memerintahkan agar mereka mengucapkan perkataan yang benar. Balasannya bukan hanya pahala lisan, tetapi Allah menjanjikan perbaikan seluruh amal dan pengampunan dosa.

Perkataan yang benar mencakup kejujuran, nasihat yang baik, ucapan yang menenangkan, perkataan yang mendamaikan, serta kalimat yang mengajak kepada kebaikan. Sebaliknya, dusta, fitnah, gibah, adu domba, dan ucapan kasar adalah racun yang merusak amal dan merusak hubungan antarmanusia.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

"Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata yang baik atau diam." (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini adalah pedoman yang sangat indah bagi kehidupan seorang muslim. Tidak semua hal harus dikomentari, tidak semua berita harus disebarkan, dan tidak semua kesalahan orang lain harus diumumkan. Kadang-kadang diam adalah ibadah, selama diam itu menjaga diri dari dosa dan tidak mengabaikan kewajiban menegakkan kebenaran.

Pada zaman sekarang, menjaga lisan tidak hanya berarti menjaga ucapan yang keluar dari mulut. Tulisan di media sosial, komentar di ruang digital, pesan singkat, dan berbagai unggahan juga termasuk bagian dari lisan yang akan dimintai pertanggungjawaban. Betapa banyak persahabatan hancur karena satu kalimat. Betapa banyak keluarga retak karena ucapan yang tidak dipikirkan. Bahkan tidak sedikit orang kehilangan keberkahan hidup karena lisannya gemar menyakiti sesama.

Seorang mukmin hendaknya menjadikan setiap perkataan sebagai sedekah. Jika ia berbicara, ia berharap orang lain mendapatkan manfaat. Jika ia menasihati, ia melakukannya dengan kasih sayang. Jika ia mengkritik, ia tetap menjaga adab. Sebab, Islam tidak hanya mengajarkan apa yang harus disampaikan, tetapi juga bagaimana cara menyampaikannya.

Ketika shalat terjaga dan lisan dipelihara, akan lahir pribadi yang lembut hatinya, jujur ucapannya, dan baik perilakunya. Ia tidak mudah marah, tidak ringan mencela, dan tidak tergesa-gesa menghakimi orang lain. Ia memahami bahwa setiap manusia memiliki kekurangan dan bahwa dirinya sendiri sangat membutuhkan ampunan Allah.

Imam Hasan Al-Bashri pernah mengingatkan bahwa seorang mukmin selalu menghisab dirinya sendiri sebelum dihisab oleh Allah. Ia memeriksa shalatnya, memeriksa lisannya, memeriksa niatnya, dan memohon agar Allah memperbaiki apa yang masih kurang. Sikap seperti inilah yang akan melahirkan ketenangan jiwa dan kebersihan hati.

Sesungguhnya, kehidupan dunia hanyalah perjalanan singkat menuju kampung akhirat. Harta akan ditinggalkan, jabatan akan dilepaskan, dan kemasyhuran akan terlupakan. Yang akan menemani seorang hamba hanyalah amal salehnya. Karena itu, jangan pernah meremehkan shalat dan jangan pernah menganggap ringan lisan. Keduanya adalah pintu besar menuju keselamatan atau kebinasaan.

Marilah kita memperbaiki shalat dengan menghadirkan hati, menyempurnakan rukun dan adabnya, serta menjadikannya cahaya dalam kehidupan. Marilah pula kita menjaga lisan dengan berkata benar, menghindari kebohongan, menjauhi gibah dan fitnah, serta memperbanyak zikir kepada Allah. Semoga dengan dua amalan agung ini Allah memperbaiki seluruh amal kita, mengampuni dosa-dosa kita, melapangkan jalan menuju kebaikan, dan memasukkan kita ke dalam golongan hamba-hamba-Nya yang memperoleh kemenangan yang besar di dunia dan di akhirat.

اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِينَنَا الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِي فِيهَا مَعَاشُنَا وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِي إِلَيْهَا مَعَادُنَا

"Ya Allah, perbaikilah agama kami yang menjadi penjaga seluruh urusan kami, perbaikilah dunia kami yang menjadi tempat kehidupan kami, dan perbaikilah akhirat kami yang menjadi tempat kembali kami."

Aamiin ya Rabbal 'alamin.

Komentar