Senin Malam Puluhan Orang Datangi Gunung Padang, Ada Apa?
ASKARA - Cahaya bulan purnama menyelimuti Situs Megalitikum Gunung Padang, Cianjur, pada Senin (29/6) malam. Di tengah keheningan situs purbakala terbesar di Asia Tenggara itu, puluhan orang dari berbagai daerah berkumpul, bukan untuk sebuah seremoni, melainkan mencari ketenangan batin dan merasakan harmoni dengan alam.
Di antara mereka hadir rombongan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jaya dan PWI Pusat yang mengikuti penelusuran kawasan situs bersama Kepala Juru Pelihara Gunung Padang, Nanang Sukmana. Dengan penuh antusias, Nanang mengajak para peserta menyusuri setiap teras sambil menjelaskan sejarah, nilai budaya, dan berbagai temuan arkeologis yang menjadikan Gunung Padang sebagai salah satu situs penting di Indonesia.
Malam semakin larut ketika rombongan tiba di Teras 4. Di tempat inilah puluhan peserta dari berbagai daerah menggelar meditasi dalam suasana hening. Tanpa banyak kata, mereka larut dalam perenungan di bawah langit yang diterangi cahaya purnama, membiarkan keheningan alam menjadi ruang untuk menenangkan pikiran dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.
Praktisi spiritual Cahaya Adi Wibowo, yang turut mengikuti kegiatan tersebut, mengatakan Gunung Padang menghadirkan energi keheningan yang mengajak setiap orang untuk lebih mengenal dirinya sendiri.
"Ketika kita diam di bawah cahaya purnama, kita belajar mendengarkan suara hati. Alam mengajarkan bahwa kedamaian bukan sesuatu yang dicari di luar, tetapi ditemukan di dalam diri. Gunung Padang mengingatkan kita untuk hidup selaras dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam semesta," ujar Cahaya Adi Wibowo.
Menurutnya, meditasi yang dilakukan di situs bersejarah itu bukan untuk mengkultuskan tempat, melainkan sebagai sarana refleksi agar manusia semakin bersyukur atas kehidupan serta lebih bijaksana dalam menjaga alam dan warisan budaya.
Bagi rombongan PWI, diantaranya Anrico Pasaribu, Raldy Doy, Toni Bramantoro dan Rudolf Simbolon, malam itu menjadi pengalaman yang berbeda dari rutinitas jurnalistik sehari-hari. Di tengah kesibukan memburu fakta dan menyampaikan informasi kepada publik, mereka mendapat kesempatan menikmati sunyi yang mengajarkan makna keseimbangan, kerendahan hati, dan pentingnya menjaga warisan sejarah bangsa.
Di bawah sinar purnama, bebatuan purba Gunung Padang seakan menjadi saksi bahwa peradaban boleh berganti, zaman terus berubah, tetapi pencarian manusia akan kedamaian, kebijaksanaan, dan hubungan yang harmonis dengan alam akan selalu menjadi bagian dari perjalanan hidup.

Komentar