Rabu, 24 Juni 2026 | 01:22
OPINI

Maju Tak Gentar Membela MBG

Maju Tak Gentar Membela MBG
Ilustrasi maju tak gentar membela MBG (Dok Gemini)

OLEH: JAYA SUPRANA

ASKARA - Syair lagu Maju Tak Gentar Membela Yang Benar sempat diplesetkan Gus Dur menjadi Maju Tak Gentar Membela Yang Bayar. Di masa kini syair dimodifikasikan menjadi Maju Tak Gentar Membela MBG. Tidak ada masalah dengan kecocokan melodi dan syair sebab MBG sama dengan Yang Benar terdiri dari tiga suku kata.

Ada jenis pahlawan baru di negeri ini. Bukan yang angkat senjata. Bukan yang bakar semangat. Tapi yang Maju Tak Gentar, Mati-Matian Bela MBG

Begitu ada yang kritik menu, kualitas, atau logistik, pasukan MBG langsung baris. Jarinya lebih cepat dari sendok. Komentarnya: "Bersyukur dong!", "Gratis kok nuntut!", "Di negara lain nggak ada!". Logikanya indah: karena gratis, maka harus dianggap sempurna. Karena gratis, maka kritik dianggap pengkhianatan. Karena gratis, maka yang keracunan harus diam sambil senyum.

Nahasnya , semakin banyak berita "gagal", semakin keras pembelaannya. Menu basi? Bela. Siswa pingsan? Bela. Truk telat? Bela. Alasannya mulia: "Ini program baru, wajar adaptasi." Betul. Bayi juga wajar jatuh. Tapi kalau bayinya tiap hari jatuh, ditendang, lalu disuruh bilang "makasih", itu namanya bukan adaptasi tetapi sirkus.

Di gusus terdepan pasukan Maju Tak Gentar Membela MBG  biasanya hadir empat kelompok yaitu:

1. Yang dapat proyek katering.

2. Yang dapat proyek spanduk "Sukses MBG".

3. Yang dapat proyek jadi buzzer "MBG Keren".

4. Yang dapat lowongan kerja dari MBG

Mereka membela bukan karena nasi, tapi karena nasib. Dan nafkah.. Kalau MBG gagal, dapur mereka ngebulnya berhenti. Jadi wajar kalau belanya mati-matian. Orang lapar itu ganas, apalagi lapar tender.

Tujuan MBG: anak sehat, pintar, nggak ngantuk. Realita di lapangan: anak nunggu nasi sambil ngantuk, makan nasi sambil mules, pulang bawa cerita sambil trauma. Tapi pasukan MBG bilang: "Proses!". Iya. Proses bikin bubur aja 30 menit. Proses bikin trauma bisa seumur hidup.

MBG jelas gagasan bagus. Anak berhak dapat gizi, bukan janji. Masalahnya bukan di "MBG"-nya. Masalahnya di “Maju Tak Gentar, Membela” nya

Negara lain begini: program jalan → diawasi → dikritik → diperbaiki. Negara kita: program jalan → dibela mati-matian → dikritik = dibully → diperbaiki? Tidak ada yang perlu diperbaiki.

Jadi untuk para penegak kehargamatian MBG, terima kasih ! Anda sudah membuktikan satu teori bahwa yang paling gigih Maju Tak Gentar, Membela MBG, biasanya perutnya paling sudah kenyang.

Setogianya, jika mau bela sungguhan, belalah anaknya. Bukan dapurnya. Bukan anggarannya. Bukan gengsinya. Karena anak yang sehat tidak butuh pasukan pembela. Dia cuma butuh makanan bergizi yang bukan cuma gratis tetapi juga layak makan. Titik.

 

Komentar