Senin, 10 Agustus 2026 | 00:28
OPINI

Peradaban Lembah Indus

Peradaban Lembah Indus
Ilustrasi peradaban Lembah Indus (Dok Gemini)

OLEH: JAYA SUPRANA

ASKARA - Di dalam naskah ini, saya sengaja lebih fokus ke Mohenjo Daro ketimbang Harappa meski keduanya termasuk ke Perabadan Lembah Indus. Namun para arkeolog masih belum sepakat tentang dua hal. Pertama kapan tepatnya kurun waktu Peradaban Lembah Indus didirikan. Kedua bagaimana sistem masyarakat Peradaban Lembah Indus dengan sistem tata kota dan irigasi yang sudah sangat maju.

Mengenai ketidak-sepakatan pertama, saya yang awam arkeologi ini tidak berani melibatkan diri ke dalam kemelut polemik berkepanjangan. Mengenai ketidak-sepakatan kedua saya juga tidak berani ikut campur namun minimal saya membuat hipotesa sendiri berdasar apa yang saya lihat di Eslandia maupun di pedesaan Indonesia masa kini.

Sistem demokrasi Eslandia adalah republik parlementer konstitusional multipartai dikenal sebagai satu di antara yang tertua di dunia (Parlemen Alþingi berdiri tahun 930), dengan Presiden sebagai Kepala Negara dan Perdana Menteri sebagai Kepala Pemerintahan. Namun kekuasaan eksekutif dipegang kabinet yang didukung parlemen, sementara legislatif oleh Alþingi unikameral yang dipilih setiap empat tahun. Sistem ini menjamin kebebasan sipil dan hak politik tinggi, meskipun tetap ada batasan terhadap hubungan politik dan bisnis serta kepemilikan media.  

Menurut pendapat berdasar logika subyektif saya, pada hakikatnya Eslandia {sebagai terjemahan yang benar untuk Iceland} memiliki sistem komunal Proto-Demokrasi yang secara kolektif memberi hak yang sama  dalam arti setara kepada masyarakat. Yang jelas sistem kepemimpinan Eslandia bukan monarki yang berpusat pada seorang Raja atau Ratu seperti misalnya sistem sosial lebah atau semut. Komunalitas dan Kolektifitas Proto-Demokrasi Alþingi yang sempat saya lihat pada saat berkunjung ke Eslandia pada hakikatnya mirip sistem masyarakat pedesaan Indonesia sejak dahulu kala sampai masa kini yakni Gotong Royong. Sifat Gotong Royong sudah melekat pada DNA peradaban masyarakat rural Nusantara yang belum tercemar individualisme masyarakat urban.

Meski awam arkeologi, dengan penuh kerendahan hati saya memberanikan diri membuat sebuah hipotesa mengenai sistem kemasyarakatan peradaban Lembah Indus. Melihat kenyataan bahwa bangunan perumahan masyarakat Mohenjo Daro semua sama dan sebangun tanpa ada istana, balai kota perumahan ekslusif pejabat tinggi, maka saya membuat kesimpulan hipotesisi bahwa masyarakat peradaban Lembah Indus memiliki sifat Proto Demokratis seperti Alþingi di Eslandia maupun Gotong Royong seperti di kebudayaan masyarakat pedesaan Indonesia.

Jika hipotesa saya keliru, mohon dimafhumi lalu dimaafkan sebab saya memang awam arkeologi apalagi arkeologi sosio-politik yang mutlak membutuhkan daya tafsir forensik plus holistik serta kompleks secara bukan alang-kepalang spekulatif sembari subyektif.

 

Komentar