Rabu, 24 Juni 2026 | 02:34
OPINI

Benteng Duurstede di Pulau Saparua

Benteng Duurstede di Pulau Saparua
Romo Yos Bintoro di Benteng Duurstede di Pulau Saparua (Dok OCI)

ASKARA - Salah satu tempat yang paling "berbicara" tentang sejarah bangsa. Di sana kita tidak hanya melihat tumpukan batu tua, tetapi sebuah panggung tempat bertemunya perdagangan rempah, kolonialisme Eropa, dan lahirnya semangat perlawanan rakyat Maluku.

Pada abad ke-17, Saparua merupakan salah satu pulau penghasil cengkih terbaik di dunia. Karena itulah pulau ini menjadi rebutan bangsa-bangsa Eropa.

Benteng pertama dibangun oleh Portugis pada sekitar tahun 1676. Setelahnya Belanda. Gubernur Ambon, Nicolaas Schagen, membangun kembali benteng itu pada 1690–1691 dan menamainya Duurstede mengambil nama kota di Belanda dan sering diartikan sebagai "kota mahal", menggambarkan betapa berharganya wilayah penghasil rempah ini bagi VOC.

Benteng yang tingginya 5 meter, berdiri di atas karang karang yang menghadap langsung ke laut ini menarik karena berbentuk oval wajik yang langka dan berbeda dari kebanyakan benteng dan tempatnya sangat strategis memantau pelayaran masuk - keluar Teluk Saparua.

Fungsi utama benteng ini sebagai pusat administrasi VOC di Saparua, gudang penyimpanan cengkih, markas garnisun, sekaligus benteng pertahanan terhadap serangan musuh maupun perlawanan rakyat Maluku.

Nama Benteng Duurstede hampir tidak bisa dipisahkan dari Pahlawan Nasionla Thomas Matulessy Pattimura yang di 16 Mei 1817 menyerbu dan berhasil merebut benteng.

Kejatuhan Benteng Duurstede mengguncang pemerintahan kolonial Belanda di Maluku. Setelah pengkhianatan orang dalam, Belanda akhirnya berhasil merebut kembali benteng dan menangkap dan menghukum gantung Pattimura  di Ambon pada Desember 1817.

Bagi masyarakat Maluku, Benteng Duurstede menjadi simbol betapa amat kayanya Kepulauan Maluku atas hasil perdagangan rempah-rempah Nusantara sekaligus keberanian rakyat Maluku lewat mempertahankan martabat kedaulatan tanah air lewat ketokohan pejuang nasional terbesar dari Indonesia Timur.

Sebagai seorang imam yang juga menaruh perhatian pada sejarah dan kemanusiaan, saya merasakan sesuatu ketika berdiri di atas benteng ini. Dari sana terlihat Laut Banda yang tenang. Sulit membayangkan bahwa dua abad silam laut yang sama dipenuhi kapal-kapal perang, kapal dagang rempah, dan menjadi saksi pertumpahan darah demi memperebutkan cengkih.

Benteng Duurstede seakan mengingatkan bahwa rempah-rempah yang harum pernah membawa kemakmuran, tetapi juga mengundang penjajahan. Namun dari penderitaan itu lahirlah keberanian, persatuan, dan semangat kemerdekaan.

Salam sehat, berlimpah berkat.
+ Rm Yos Bintoro, Pr

 

Komentar