Senin, 22 Juni 2026 | 20:27
OPINI

Karen Armstrong Ateis?

Karen Armstrong Ateis?
Karen Armstrong (Dok Shutterstock)

OLEH: JAYA SUPRANA

ASKARS - Sebutan “ateis” untuk Karen Armstrong adalah salah alamat yang telanjur viral. Ia bukan ateis. Ia mantan biarawati Katolik yang justru menghabiskan 40 tahun hidupnya membela peran agama — tapi dengan cara yang membuat kaum beragama dan ateis sama-sama gelisah.

Karen Armstrong masuk biara umur 17, keluar 7 tahun kemudian karena merasa “Tuhan telah menghilang”. Beda dari sabda Nietzsche “Tuhan sudah mati” . Ia mengajar sastra, menulis biografi, sinis pada agama. Titik baliknya datang saat BBC memintanya membuat film dokumenter tentang Paulus. Ia pergi ke Yerusalem. Di sana ia melihat: agama bukan teori. Agama adalah luka, darah, dan kerinduan yang gagal diucapkan. Sejak itu ia menulis 25 buku. A History of God, The Battle for God, The Case for God dan lain-lain. Semuanya laris, semuanya kontroversial, kecuali tentang Muhammad saw dan Sang Buddha. 

Kenapa ia dikira ateis? Karena Armstrong menolak Tuhan versi “kakek tua di atas awan yang mengabulkan doa dan menghukum”. Bagi dia, itu Tuhan yang dibuat manusia abad ke-19 — Tuhan yang gampang dipatahkan oleh sains dan Auschwitz.

Tradisi lama, kata Armstrong, tidak pernah bicara Tuhan sebagai “fakta”. Tuhan adalah praktik. Yahudi punya mitzvot, Islam punya shalat, Buddha punya meditasi. Semua adalah “teknologi” untuk membongkar ego. “Agama itu seperti balet,” tulisnya. “Kau tidak mengerti balet dengan duduk di kursi. Kau harus menari.”

Maka baginya, bertanya “apakah Tuhan ada?” sama kelirunya dengan bertanya “apakah musik Beethoven ada?”  pada saat partiturnya belum dimainkan.

Kepada kaum fundamentalis, ia bilang: “Berhenti membaca kitab suci seperti buku manual kulkas. Itu puisi, mitos, petunjuk jalan. Bukan laporan CNN.” Kepada para “Ateis Baru” seperti Richard Dawkins, ia bilang: “Kalian menyerang Tuhan yang bahkan anak 12 tahun di abad ke-14 tidak percaya. Kalian berkelahi dengan orang-orangan sawah.” Bagi Armstrong, masalah bukan “percaya versus tidak percaya”. Masalahnya “agama yang kehilangan welas-asih”. Ia membuat Charter for Compassion 2009, ditandatangani Dalai Lama sampai uskup agung Canterbury. Isinya tunggal : jangan perlakukan orang lain seperti kau tidak mau diperlakukan.

Jika taksonomis dipaksakan, Karen Armstrong bukan ateis namun pascateis .  Ia sudah melewati tahap percaya-tidak-percaya. Ia kembali ke biara, tapi biaranya sekarang perpustakaan. Tuhannya bukan sosok, melainkan “yang tak terkatakan” yang muncul saat manusia berhenti mementingkan diri. Ia sendiri pernah bilang: “Kalau dipaksa melabeli, sebut saja saya ‘freelance monotheist’.”. Atau ia merasa nyaman jika disebut Konfusianis.

Warisan Armstrong adalah memaksa kita jujur. Beriman bukan berarti tutup mata pada sains. Ateis bukan berarti bebas dari dogma. Tugas kita sama yaitu menjadi manusia yang tidak menambah luka di dunia yang sudah terlalu berdarah. Dan untuk itu, kita tidak butuh Tuhan yang membelah laut merah atau membumi-hanguskan Sodom-Gomora. Kita butuh manusia yang mau dan mampu memberikan kasih sayang kepada sesama manusia . Sesuai pencerahan bagi Orang Majus Ke Empat : Artaban yang tidak ada di dalam Injil Perjanjian Baru apalagi Lama , Tuhan hadir pada saat manusia mempersembahkan kasih-sayang kepada sesama manusia, sesama mahkluk hidup dan lingkungan hidup, AMIN

 

Komentar