Selasa, 23 Juni 2026 | 07:12
Editorial

Jejak Kehadiran yang Tak Dilupakan Asmat

Jejak Kehadiran yang Tak Dilupakan Asmat
Wapres bersalaman dengan pastor Martin Selitubun, Pr. dan suster ketika berkunjung ke Museum Budaya Agats (Dok Captain Roberto)

ASKARA - Kunjungan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka ke Agats, Kabupaten Asmat, Papua Selatan, menyisakan pesan yang lebih besar daripada sekadar agenda kerja. Di balik sambutan hangat masyarakat, tersimpan fakta yang patut menjadi bahan renungan: selama Indonesia merdeka, baru Presiden ke-7 Joko Widodo dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming yang datang langsung menyapa masyarakat Asmat.

Pernyataan Bupati Asmat Thomas Eppe Safanpo bukan sekadar ungkapan seremonial. Ia mencerminkan arti penting kehadiran negara bagi masyarakat yang selama ini berada jauh dari pusat kekuasaan. Bagi warga Asmat, kehadiran pemimpin nasional bukan hanya soal simbol, melainkan pengakuan bahwa mereka adalah bagian yang tak terpisahkan dari Indonesia.

Kedatangan Presiden Jokowi pada 2018 telah meninggalkan jejak yang masih dikenang hingga kini. Motor listrik berpelat RI 1 yang dipajang di Museum Kebudayaan dan Kemajuan Asmat bukan sekadar benda mati, melainkan penanda sejarah bahwa seorang presiden pernah menginjakkan kaki, melihat langsung kehidupan masyarakat, dan membawa perhatian nasional ke wilayah yang selama bertahun-tahun identik dengan keterisolasian.

Kini, kunjungan Wakil Presiden Gibran memperpanjang jejak tersebut. Kehadirannya memperlihatkan bahwa kesinambungan perhatian terhadap Papua tidak boleh berhenti pada satu generasi kepemimpinan. Papua, termasuk Asmat, membutuhkan lebih dari sekadar kunjungan. Daerah ini memerlukan kebijakan yang konsisten, pembangunan yang berkeadilan, serta keberpihakan nyata terhadap peningkatan kualitas hidup masyarakat.

Lebih dari itu, pengalaman Asmat seharusnya menjadi pengingat bagi seluruh pemimpin nasional bahwa memimpin Indonesia tidak cukup dilakukan dari balik meja dan ruang rapat di ibu kota. Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang bersedia turun ke lapangan, mengunjungi berbagai pelosok Nusantara, melihat langsung kondisi masyarakat, serta mendengarkan aspirasi mereka tanpa sekat birokrasi.

Indonesia adalah negara kepulauan yang luas dengan tantangan yang berbeda-beda di setiap daerah. Karena itu, kehadiran pemimpin di wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal memiliki makna yang sangat besar. Kehadiran tersebut bukan hanya membangun kedekatan emosional dengan rakyat, tetapi juga memastikan bahwa kebijakan yang diambil benar-benar sesuai dengan kebutuhan di lapangan.

Namun, apresiasi terhadap kehadiran Jokowi dan Gibran tidak boleh membuat bangsa ini lupa pada pekerjaan rumah yang masih besar. Masalah kesehatan, pendidikan, konektivitas, hingga pemberdayaan ekonomi masyarakat adat masih membutuhkan perhatian serius. Kehadiran pemimpin harus menjadi pintu masuk bagi hadirnya solusi yang berkelanjutan.

Pada akhirnya, masyarakat Asmat telah memberikan pelajaran penting bagi bangsa ini. Mereka tidak menilai pemimpin hanya dari pidato atau janji, melainkan dari kesediaan untuk datang, melihat, dan mendengar secara langsung. Sebab, bagi wilayah-wilayah yang selama ini berada di pinggiran, kehadiran negara adalah bentuk penghormatan yang paling nyata.

Jejak Jokowi dan Gibran di Asmat menunjukkan bahwa membangun Indonesia tidak cukup dilakukan dari Jakarta. Indonesia harus dirasakan hingga ke Agats, hingga ke kampung-kampung di tepian rawa Papua, tempat di mana Merah Putih berkibar dengan semangat yang sama seperti di pusat ibu kota. Pemimpin boleh berganti, tetapi semangat untuk menjangkau seluruh pelosok negeri tidak boleh pernah berhenti.

 

Komentar