Jumat, 19 Juni 2026 | 16:39
Editorial

Mubeng Beteng, Menjaga Jiwa di Tengah Derap Zaman

Mubeng Beteng, Menjaga Jiwa di Tengah Derap Zaman
Ribuan orang melangkah dalam diam mengelilingi Benteng Keraton Yogyakarta. Tidak ada teriakan. Tidak ada gegap gempita. Hanya langkah perlahan yang berpadu dengan keheningan malam (Dok Humas DIY)

ASKARA - Tepat ketika lonceng Kamandungan Lor berdentang 12 kali dan jarum jam menunjukkan pukul 00.00 WIB, ribuan orang melangkah dalam diam mengelilingi Benteng Keraton Yogyakarta. Tidak ada teriakan. Tidak ada gegap gempita. Hanya langkah perlahan yang berpadu dengan keheningan malam, mengiringi datangnya Tahun Baru Jawa Be 1960.

Di tengah dunia yang semakin bising, tradisi Lampah Budaya Mubeng Beteng justru mengajarkan arti penting kesunyian.

Tradisi ini bukan sekadar agenda budaya tahunan atau atraksi wisata yang menarik perhatian publik. Mubeng Beteng merupakan perjalanan batin, sebuah ruang refleksi yang mengajak manusia kembali mengenali dirinya sendiri. Dalam diam, manusia diajak mendengar suara hati yang sering kali tenggelam oleh hiruk-pikuk kehidupan modern.

Keraton Yogyakarta, bersama Paguyuban Abdi Dalem dan masyarakat, telah membuktikan bahwa budaya tidak hanya diwariskan melalui bangunan, naskah kuno, atau benda-benda pusaka. Budaya hidup melalui praktik, nilai, dan kesadaran kolektif masyarakat yang terus menjaganya dari generasi ke generasi.

Lampah Budaya Mubeng Beteng menjadi bukti bahwa tradisi Jawa sesungguhnya sarat dengan filosofi universal. Introspeksi, kerendahan hati, pengendalian diri, serta harapan akan kehidupan yang lebih baik adalah nilai-nilai yang tetap relevan di tengah perubahan zaman.

Di saat banyak orang berlomba mengejar kecepatan, tradisi ini justru mengajarkan pentingnya melambat. Ketika dunia dipenuhi polarisasi dan kegaduhan, Mubeng Beteng menghadirkan persatuan tanpa memandang latar belakang sosial, usia, maupun profesi. Ribuan orang berjalan bersama dalam kesederhanaan, dipersatukan oleh doa dan harapan yang sama.

Apa yang dilakukan masyarakat Yogyakarta melalui tradisi ini juga menjadi pengingat bahwa kebudayaan bukanlah romantisme masa lalu. Kebudayaan adalah kekuatan moral yang membentuk karakter bangsa. Sebuah bangsa yang kehilangan akar budayanya akan mudah kehilangan arah di tengah derasnya arus globalisasi.

Karena itu, menjaga tradisi bukan berarti menolak kemajuan. Sebaliknya, tradisi menjadi kompas agar kemajuan tidak membuat manusia kehilangan jati dirinya.

Mubeng Beteng mengajarkan bahwa pergantian tahun bukan sekadar bertambahnya angka dalam penanggalan. Pergantian tahun adalah momentum untuk membersihkan hati, memperbaiki diri, dan memulai perjalanan baru dengan kesadaran yang lebih utuh.

Di tengah dunia yang semakin gaduh, mungkin yang paling dibutuhkan manusia saat ini bukanlah lebih banyak suara, melainkan lebih banyak ruang untuk merenung.

Dan Yogyakarta, melalui langkah-langkah sunyi Mubeng Beteng, kembali mengingatkan kita bahwa kebijaksanaan sering kali lahir dari keheningan.

 

Komentar