Senin, 15 Juni 2026 | 11:53
COMMUNITY

Guru Muhammadiyah Yang Menjadi Negarawan Bangsa

Guru Muhammadiyah Yang Menjadi Negarawan Bangsa
Ilustrasi

ASKARA - Setiap hari ribuan pesawat lepas landas dan mendarat di Bandara Internasional Juanda. Jutaan orang menyebut nama itu dalam tiket perjalanan, jadwal penerbangan, maupun percakapan sehari hari. Namun, tidak banyak yang mengetahui bahwa nama tersebut berasal dari seorang guru, insinyur, negarawan, dan kader Muhammadiyah yang mengabdikan hidupnya bagi Indonesia. Ir. Djuanda Kartawidjaja adalah contoh bahwa pengabdian yang dimulai dari ruang kelas dapat berujung pada sumbangan besar bagi perjalanan sebuah bangsa.

Tidak semua tokoh besar memulai langkahnya dari pusat kekuasaan. Pada awal dekade 1930 an, ketika banyak lulusan Technische Hoogeschool te Bandoeng berusaha memperoleh pekerjaan bergengsi, Djuanda justru memilih jalan yang berbeda. Ia lebih tertarik mengabdikan diri di lingkungan pendidikan Muhammadiyah. Pilihan tersebut memperlihatkan bahwa baginya, nilai sebuah pekerjaan tidak ditentukan oleh gengsi jabatan, melainkan oleh manfaat yang dapat diberikan kepada masyarakat. Kisah ini antara lain diulas oleh Muhammadiyah.or.id dalam artikel "Ir. Djuanda, Perdana Menteri yang Kader Muhammadiyah", 14 Desember 2020, serta Suara Muhammadiyah dalam artikel "Ir. Djuanda", 28 Agustus 2016.

Di sekolah Muhammadiyah, Djuanda tidak hanya mengajar ilmu pengetahuan. Ia juga berusaha menanamkan kedisiplinan, etos kerja, dan kecintaan kepada tanah air. Pengalaman sebagai pendidik membentuk watak kepemimpinannya. Dari ruang kelas yang sederhana, ia belajar bahwa ilmu pengetahuan harus melahirkan kemaslahatan, sedangkan amanah harus diwujudkan melalui kerja nyata. Semangat inilah yang kemudian menjadi ciri kepemimpinannya ketika terjun dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Informasi mengenai kedekatan Djuanda dengan Muhammadiyah antara lain dimuat Suara Muhammadiyah dalam artikel "Keeratan Perdana Menteri Djuanda dan Muhammadiyah" karya Muhammad Yuanda Zara, dipublikasikan 14 Januari 2020.

Muhammadiyah sendiri sejak awal berdirinya tidak hanya membangun lembaga pendidikan, tetapi juga menumbuhkan kader kader yang memiliki orientasi pengabdian kepada masyarakat. Dalam konteks itu, Djuanda merupakan salah satu contoh keberhasilan kaderisasi yang melampaui batas organisasi. Ia tumbuh menjadi tokoh nasional yang mengabdikan kemampuan dan ilmunya bagi seluruh rakyat Indonesia. Penjelasan mengenai peran Muhammadiyah dalam membentuk insan berkemajuan dapat ditemukan dalam buku "Islam Berkemajuan" karya Haedar Nashir dan buku "Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900 sampai 1942" karya Deliar Noer.

Setelah Indonesia merdeka, Djuanda memasuki ruang pengabdian yang lebih luas. Ia dipercaya menduduki berbagai jabatan penting, mulai dari Menteri Perhubungan, Menteri Pekerjaan Umum, hingga akhirnya menjabat sebagai Perdana Menteri Republik Indonesia. Berbagai posisi tersebut dijalankannya pada masa yang penuh tantangan, ketika Indonesia masih berusaha membangun fondasi kehidupan bernegara setelah kemerdekaan. Data mengenai perjalanan karier Djuanda dapat ditelusuri melalui Arsip Nasional Republik Indonesia dan Sekretariat Negara Republik Indonesia.

Berbeda dengan sebagian tokoh politik pada zamannya, Djuanda dikenal sebagai seorang teknokrat yang lebih mengutamakan penyelesaian persoalan bangsa dibandingkan kepentingan golongan. Ia tidak dikenal sebagai orator yang berapi api, melainkan sebagai pemimpin yang tenang, rasional, dan mengedepankan kerja nyata. Gaya kepemimpinannya membuat berbagai kalangan dapat menerima kehadirannya sebagai figur pemersatu di tengah dinamika politik era Demokrasi Liberal. Gambaran mengenai kepemimpinan Djuanda dapat ditemukan dalam berbagai biografi nasional dan Ensiklopedia Nasional Indonesia.

Salah satu warisan terbesar yang ditinggalkan Djuanda adalah Deklarasi Djuanda yang diumumkan pada 13 Desember 1957. Deklarasi tersebut menjadi tonggak penting dalam sejarah Indonesia karena menegaskan bahwa laut di antara pulau pulau Indonesia merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari wilayah nasional. Gagasan itu kemudian berkembang menjadi konsep negara kepulauan yang pada akhirnya memperoleh pengakuan dunia melalui Konvensi Hukum Laut Perserikatan Bangsa Bangsa tahun 1982. Penjelasan mengenai arti penting Deklarasi Djuanda dapat ditemukan dalam publikasi Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia dan Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia.

Pemikiran Djuanda tentang negara kepulauan tidak hanya memiliki arti strategis bagi Indonesia, tetapi juga memberi pengaruh terhadap perkembangan hukum laut internasional. Konsep tersebut mengubah cara pandang dunia terhadap Indonesia yang sebelumnya dianggap sebagai kumpulan pulau yang terpisah pisah. Berkat gagasan tersebut, Indonesia diakui sebagai negara kepulauan yang utuh dan berdaulat. Pengakuan internasional terhadap konsep tersebut tercermin dalam United Nations Convention on the Law of the Sea atau UNCLOS 1982.

Selain meninggalkan warisan pemikiran, Djuanda juga dikenang karena integritas pribadinya. Berbagai catatan sejarah menggambarkan dirinya sebagai sosok yang sederhana, bersih, dan menjunjung tinggi tanggung jawab. Baginya, kekuasaan merupakan amanah yang harus digunakan untuk melayani masyarakat. Sikap tersebut membuat namanya tetap dikenang jauh setelah ia tidak lagi memegang jabatan publik. Berbagai informasi mengenai kehidupan pribadi Djuanda dapat ditemukan dalam biografi nasional serta arsip yang tersimpan di Arsip Nasional Republik Indonesia.

Sebagai bentuk penghormatan atas jasa jasanya, nama Djuanda diabadikan menjadi nama bandar udara internasional di Surabaya. Nama itu tidak sekadar menjadi penanda geografis, melainkan juga pengingat bahwa bangsa ini pernah memiliki seorang pemimpin yang mengawali pengabdiannya dari dunia pendidikan. Setiap kali nama Juanda disebut, sesungguhnya yang dikenang bukan hanya seorang mantan Perdana Menteri, tetapi juga seorang guru yang percaya bahwa kemajuan bangsa berakar pada pendidikan dan pengabdian.

Kisah hidup Djuanda menunjukkan bahwa organisasi seperti Muhammadiyah tidak hanya melahirkan ulama, pendidik, atau intelektual, tetapi juga negarawan yang memberikan kontribusi penting bagi perjalanan Indonesia. Dari ruang kelas sederhana lahir seorang pemimpin yang berhasil memperkuat fondasi kedaulatan negara. Hal itu menjadi bukti bahwa proses kaderisasi yang berorientasi pada ilmu, integritas, dan pelayanan kepada masyarakat dapat melahirkan tokoh yang memberi manfaat melampaui zamannya.

Di tengah kehidupan modern yang sering menempatkan popularitas dan kekuasaan sebagai ukuran keberhasilan, perjalanan hidup Ir. Djuanda Kartawidjaja menghadirkan pelajaran yang berbeda. Ia memperlihatkan bahwa pengabdian yang dilakukan dengan kesungguhan mampu meninggalkan jejak yang jauh lebih panjang daripada jabatan itu sendiri. Namanya memang terpatri sebagai gerbang udara Nusantara, tetapi warisan pemikiran, integritas, dan keteladanannya telah menjadi bagian penting dari sejarah Indonesia.

Komentar