Sabtu, 13 Juni 2026 | 16:25
OPINI

Gayo Dalam Pusaran Rebutan Kepentingan: Kopi yang Menghidupi, Tambang yang Dijanjikan

Gayo Dalam Pusaran Rebutan Kepentingan: Kopi yang Menghidupi, Tambang yang Dijanjikan
Zam Zam Mubarak (Dok Askara)

Oleh: Zam Zam Mubarak_ 

Founder Linge Antara Institute | Alumnus Sekolah Lapang Iklim BMKG

ASKARA - Dataran Tinggi Gayo hari ini sedang ditarik dua kutub. Satu kutub: aroma kopi Arabika yang sudah mendunia. Kutub lain: janji emas dari perut bumi yang katanya bisa "angkat PAD". Di tengah pusaran ini, pertanyaan paling jujur justru sederhana: Gayo hari ini digerakkan oleh siapa?

1. Kopi Arabika Gayo: Ekonomi Strategis, Bukan "PAD Kecil"
Data BPS bicara jujur. Kopi Arabika Gayo bukan komoditas biasa. Ia sudah jadi indikator pertumbuhan ekonomi nasional untuk subsektor perkebunan. Kenapa? Karena strukturnya kokoh: 70% lebih petani rakyat, 200 ribu kepala keluarga hidup dari hulu ke hilir, dari kebun di Bener Meriah-Aceh Tengah sampai eksportir di Medan-Jakarta.

Kalau ada yang bilang "kopi tidak menambah PAD", maka pertanyaannya balik: Ekonomi kawasan Gayo hari ini siapa penggeraknya? 
Bukan tambang. Bukan pabrik besar. Yang buka warung pagi-pagi, yang bayar tukang ojek, yang sekolahkan anak, yang putar uang di pasar Takengon dan Bener Meriah setiap hari panen: petani kopi.

PAD memang kecil ke kas daerah. Tapi "PAD sosial" kopi itu besar: lapangan kerja, ketahanan pangan, stabilitas sosial. Ini yang tidak masuk neraca, tapi nyata dirasakan rakyat.

Lebih dari itu, Kopi Arabika Gayo telah mengangkat nama Indonesia di diplomasi ekonomi internasional. Geographical Indication "Kopi Gayo" adalah bargaining power kita di meja global.

Menjaga ekosistem kopi berarti menjaga iklim. Hutan + kopi rakyat = penyerap karbon. Sementara aktivitas tambang, tanpa pengelolaan ketat, justru menambah beban perubahan iklim dan kerentanan bencana. Enang-Enang (Jalan Arteri Takengon- Bireun) sudah cukup jadi guru.

2. "Pusaran Rebutan Kepentingan" Pasca 26 November 2025
Bencana 26 Nov 2025 + ambruknya akses Enang-Enang seharusnya jadi jeda berpikir. Alam sudah kasih kode keras: lereng Gayo rapuh. Tapi anehnya, di saat luka belum kering, suara untuk "buka tambang" justru makin nyaring.

Saya sebut "pusaran rebutan kepentingan" karena diskusinya tidak sehat. Kubu kopi dituduh "menghalangi kemajuan". Kubu tambang dituduh "menjual Gayo". Padahal rakyat cuma mau satu: hidup aman + ekonomi jalan.

Pelajaran Enang-Enang jelas: ketika salah hitung dengan alam, yang bayar mahal rakyat kecil. "Mempercepat kehancuran atau menunda kehancuran" bukan lagi kata-kata puitis. Ini pilihan kebijakan hari ini.

3. Uji Argumen, Bukan Adu Otot
Kalau argumennya PAD, mari kita adu data terbuka. Kopi: PAD ke daerah kecil tapi multiplier effect ke ekonomi rakyat 1:7. Tambang: PAD ke daerah besar tapi external cost-nya berapa? Air rusak, lereng labil, konflik lahan, biaya reklamasi pasca tambang siapa tanggung?

Karena itu saya ulang usulan: gelar "Sidang Terbuka Ilmiah Kopi vs Tambang". Undang ahli BPS, KLHK, ESDM, akademisi, petani, warga. Buka semua data. Biarkan Gayo jadi juri.

Kalau kubu penolak tambang kalah data, ya kita dukung tambang dengan aturan paling ketat se-Indonesia. Tapi kalau kubu pro-tambang kalah data risiko bencana seperti Enang-Enang, maka tahan dulu. Gayo tidak butuh "ekonomi cepat saji" yang meninggalkan luka 50 tahun.

Penutup: Nurani di Atas Neraca
Gayo tidak butuh pemenang rebutan. Gayo butuh pemenang bersama. Menang ekonomi, menang lingkungan, menang aman.

Kopi Arabika Gayo sudah buktikan: bisa menghidupi ratusan ribu orang tanpa merusak rumah kita sendiri. Kalau ini mau disebut "kurang", maka tolong tunjukkan: hari ini, tanpa kopi, Gayo digerakkan oleh apa?

Di akhir zaman, sejarah tidak tanya siapa paling keras teriak "investasi". Sejarah tanya: siapa yang berani jaga Gayo tetap utuh untuk anak cucu.

Karena rumput di lereng Enang-Enang pun bisa jawab: siapa yang benar-benar cinta Gayo.

Takengon, 2 Juni 2026

 

Komentar